MALANG RAYA - Layanan hemodialisis atau cuci darah di Malang Raya masih terbatas.
Itu bisa dilihat dari adanya pasien yang masuk dalam list antrean.
Dari pantauan Jawa Pos Radar Malang di tujuh rumah sakit (RS), ada lima RS yang mencatat pasien dalam kolom daftar tunggu.
Yakni di RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) Malang, RS Universitas Brawijaya (UB), RS Wava Husada, RS Pindad, dan RSU Karsa Husada, Batu.
Bila ditotal ada 177 pasien yang masuk dalam daftar tunggu di lima RS itu (selengkapnya baca grafis).
Jumlah tersebut bisa lebih banyak, sebab di Malang Raya ada 13 RS yang memiliki layanan hemodialisis.
Baca Juga: Sedih, Ada Anak-Anak Gagal Ginjal! 1.500 Warga di Malang Raya Rutin Jalani Cuci Darah
Ketua Tim Pengampu Jejaring Uro-Nefro RSSA Dr dr Besut Daryanto SpB SpU(K) menjelaskan, pasien hemodialisis di RSSA mencapai 670 orang.
Itu merupakan pasien tetap yang rutin menjalani cuci darah dua kali dalam sepekan.
”Di luar itu, masih ada 20 pasien yang masuk daftar tunggu,” kata dia.
RSSA sendiri memiliki 100 unit alat hemodialisis.
Seluruh alat selalu digunakan dalam dua shift.
Itu untuk jadwal Senin-Kamis, Selasa-Jum’at, dan Rabu-Sabtu.
Dalam satu shift, masing-masing pasien akan menjalani cuci darah selama lima jam.
Selain alat hemodialisis konvensional, RSSA juga sudah memiliki alat hemodialisis khusus penyakit infeksi.
Yakni alat hemodialisis untuk pasien Hepatitis B sebanyak lima unit, alat hemodialisis untuk infeksi airborne sebanyak dua unit, dan ICU sebanyak dua unit.
Ada pula satu unit alat hemodialisis khusus atau yang disebut hemodiafiltrasi.
Dengan alat itu, racun yang dibersihkan bisa lebih banyak.
Namun, baik alat konvensional maupun khusus tetap tidak bisa sepenuhnya menggantikan fungsi ginjal.
Seperti filtrasi racun, tekanan darah, produksi sel darah merah, dan hormon.
Alat hemodialisis hanya bisa menggantikan fungsi ginjal sekitar 40 persen.
Besut melanjutkan, pihaknya bisa saja menambah alat hemodialisis.
Sebab, pengadaan alat hemodialisis biasanya dilakukan melalui kerja sama operasional (KSO) dengan sejumlah vendor. Seperti Nipro, Fresenius, Baxter, dan Gambro.
”Tanpa adanya KSO, harganya bisa sampai Rp 250 juta untuk satu unit,” terangnya.
Baca Juga: Yang Jarang Minum Air Putih Ayo Tobat! 1.283 Orang Kabupaten Malang Menderita Gagal Ginjal
Untuk menambah alat hemodialisis, pihaknya juga harus menyiapkan sumber daya manusia (SDM).
Standarnya, tiga perawat mengurus empat alat hemodialisis.
Sementara total perawat mahir di RSSA ada 70 orang.
Agar masuk kategori mahir, satu perawat bisa menjalani pelatihan selama lima bulan dengan biaya sekitar Rp 15 juta.
”Pusat penyelenggaraan pelatihan tidak banyak. Di Jawa Timur hanya di RSSA dan RSUD dr Soetomo saja. Satu kali pelatihan maksimal diikuti 25 orang,” imbuh dokter yang juga konsultan urologi tersebut.
Karena keterbatasan layanan cuci darah, saat ini beberapa RS mulai menyarankan pasien agar memilih alternatif lain.
Salah satunya yakni Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) atau dialisis secara mandiri.
Caranya yakni memasang kateter di bagian perut melalui operasi dan transplantasi.
Dengan CAPD, pasien jadi tidak perlu cuci darah dua kali dalam sepekan.
Pasien hanya perlu mengganti cairan empat kali dalam satu hari.
Cairan tersebut tersimpan di kantong. Artinya, dalam satu bulan pasien membutuhkan 120 kantong.
Satu kantong memiliki masa ketahanan selama tiga tahun.
Pasien juga hanya perlu datang satu bulan sekali untuk kontrol rutin.
”Seluruh kantong biasanya diantar ke rumah masing-masing pasien dengan bantuan penyedia layanan dari BPJS Kesehatan dan tidak dipungut biaya,” bebernya.
Biaya transplantasi juga sudah di-cover BPJS Kesehatan.
Kecuali biaya skrining berupa cek darah hingga mencari kecocokan jaringan.
Untuk skrining, biayanya mencapai Rp 32 juta.
Meski prosesnya panjang dan harus mencari donor secara mandiri, tapi jika sudah menemukan donor yang cocok tidak perlu lagi melakukan hemodialisis.
Selain di RSSA, antrean pasien hemodialisis terjadi di RS UB.
Menurut dokter dari divisi hemodialisis RS UB dr Etik Mertianti SpPD FINASIM, saat ini antrean di RS UB mencapai 22 orang.
Di sana, alat hemodialisis hanya tersedia lima unit.
Ada enam perawat yang biasa menggunakannya.
”Karena itu, kami sudah mulai menyediakan layanan CAPD,” kata dia.
Rumah sakit lainnya adalah RS Wava Husada.
Menurut Etik, layanan hemodialisis di kabupaten masih terbatas.
Layanan hemodialisis baru tersedia di beberapa rumah sakit seperti RSUD Kanjuruhan, RS Wava Husada, dan RS Pindad. Kebetulan, Etik juga berdinas di RS Wava Husada.
Ada beberapa pasien yang rela datang dari kecamatan lain.
Baca Juga: 29 Pasien Berhasil Transplantasi Ginjal di RSSA
Seperti dari Kecamatan Wonosari serta Kecamatan Sumbermanjing Wetan.
”Kalau yang datang dari jauh ada beberapa yang sudah memilih CAPD,” imbuhnya.
Rumah sakit lain yang kini sedang menjajaki CAPD adalah Persada Hospital.
Supervisor Humas Persada Hospital Sylvia Kitty Simanungkalit mengungkapkan, meski ada layanan CAPD, sampai saat ini belum ada pasien yang mengaksesnya. Mayoritas masih memilih hemodialisis.
Jumlah pasien tetap hemodialisis di Persada Hospital selama tahun 2024 mencapai 229 pasien.
”Mereka kami layani dengan 26 unit alat hemodialisis yang terdiri dari satu alat khusus dan 25 alat hemodialisis konvensional,” ucapnya.
Alat Hemodialisis di Kabupaten Kurang Banyak
Selain di Kota Malang, permintaan hemodialisis di Kabupaten Malang juga cukup banyak.
Meski ada tiga RS yang menyediakan layanan tersebut, jumlah peralatan yang tersedia belum sebanding dengan kunjungan maupun antreannya.
Sub Koordinator Humas dan Pemasaran RSUD Kanjuruhan Lukito Condro Winoto menyebut, rata-rata kunjungan untuk layanan hemodialisis mencapai 500 pengunjung per bulan.
”Kalau peralatan hemodialisis ada 10 unit. Semuanya sudah sesuai standar,” ujarnya kemarin (4/9).
Standar yang digunakan mengacu pada Permenkes Nomor 8 tahun 2022 tentang perubahan atas Permenkes nomor 14 tahun 2021 tentang standar kegiatan usaha dan produk pada penyelenggaraan perizinan berusaha berbasis risiko sektor kesehatan.
Lukito menambahkan, bagi yang belum bisa dilayani hemodialisis di tempatnya, pihaknya menyarankan ke RS lain atau memilih CAPD.
Baca Juga: 400 Pasien RSSA Malang Antre Transplantasi Ginjal-Kornea
Hal serupa juga disampaikan Kepala Bagian (Kabag) Marketing RS Wava Husada Rini Minarsih SKep Ners.
Dia memastikan bila alat di tempatnya sudah sesuai standar.
”Pengadaan di kami juga dengan sistem KSO. Insya Allah tidak ada kendala,” kata dia.
Di tempat lain, Kepala Divisi Hemodialisa RSU Karsa Husada, Kota Batu Astri Ulia Rahmawati SpPD mengatakan bila pihaknya punya sedikit kendala dalam SDM perawat.
Sebab untuk mengoperasikan alat hemodialisis, perawat harus memiliki sertifikat khusus.
Hingga kini, RSU Karsa Husada masih mengirim perawatnya ke RSSA Malang untuk dilatih.
”Karena banyak yang mengirim perawat ke RSSA Malang, masing-masing RS dibatasi satu hingga dua orang. Saat ini ada 16 perawat, dan jumlah itu cukup untuk alat di RSU Karsa Husada. Namun jika jumlah alat ditingkatkan, maka keperluan perawatnya juga meningkat,” paparnya.
Sementara untuk layanan CAPD, dia menyebut bila di tempatnya belum tersedia.
Mayoritas pasien yang memilih layanan itu akan dialihkan ke RSSA Malang. (mel/yun/sif/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana