JawaPos.com – Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin, Ace Hasan Syadzily menyebut cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno (Sandi) arogan. Pasalnya, dalam kampanyenya di Surabaya, Sandi membandingkan dirinya dengan Nabi Yusuf.

“Pernyataannya yang membandingkan diri melebihi kemampuan Nabi Yusuf dalam memulihkan ekonomi menunjukkan bahwa Sandiaga tidak mengerti agama, lebih khusus sejarah kenabian,” ujar Ace dalam keterangan tertulis yang diterima JawaPos.com, Jumat (7/12).

Ketua DPP Partai Golkar ini menambahkan seorang Nabi ialah orang ?yang mendapatkan petunjuk dan mengabarkan kebaikan langsung dari Allah SWT melalui wahyu yang diturunkan kepadanya. Sehingga menurut Ace, Sandi yang menyamakan dirinya dengan seorang Nabi merupakan pengakuan yang ditabukan dalam Islam.

“Dalam pemahaman saya, derajat manusia ada tingkatannya. Derajat Rasul dan Nabi itu merupakan derajat tertinggi di mata Allah, terutama Nabi Muhammad SAW,” katanya.

Ace meminta semua pihak untuk tidak menonjolkan diri dan mencatut nama-nama nabi hanya untuk kepentingan kampanye. Nabi Yusuf, kata Ace, adalah utusan Allah yang merupakan manusia terpilih.

“Sementara seorang Sandi? Menyelesaikan Program OK OC di DKI saja hingga saat ini tidak jelas juntrungannya,” tegas Ace.

Menurut Ace, tidaklah tepat mengatakan situasi ekonomi saat Nabi Yusuf memulihkan ekonomi saat itu dengan situasi ekonomi Indonesia saat ini. “Tidak apple to apple. Apalagi jika menyatakan dirinya memiliki kemampuan lebih hebat dari seorang Nabi. Sombong sekali,” pungkasnya.?

Sebelumnya, saat berkampanye di Surabaya, Sandi berjanji akan menerapkan ilmu Nabi Yusuf apabila terpilih sebagai wakil presiden dalam kontestasi Pilpres 2019. Sandi mengatakan, Nabi Yusuf butuh waktu selama tujuh tahun untuk mengatasi krisis. Namun, dirinya bersama Prabowo yakin dapat memulihkan perekonomian Indonesia hanya dalam waktu tiga tahun.

“Nabi Yusuf butuh waktu 7 tahun. Insya Allah, saya dengan pak Prabowo cukup tiga tahun untuk memulihkan perekonomian Indonesia,” kata Sandi.

Sandi memaparkan dalam menjalankan hal ini, ia mengaku memiliki beberapa cara. Misalnya saja, dalam tiga tahun ke depan bakal menghentikan impor yang tak perlu dan melakukan pembangunan infrastruktur, namun lebih terprogram.

(gwn/JPC)