“Sebelumnya sudah ada batik dengan motif apel. Saya ingin sesuatu yang berbeda dan mungkin bisa jadi ciri khas Kota Batu, akhirnya pilih banteng,” ucap wanita yang sekaligus menjabat sebagai Owner Sanggar Batik Banteng tersebut saat ditemui kemarin (18/10). Selain itu, Kota Batu yang terkenal akan kesenian bantengannya menjadi alasan lain.
Sanggar produksi batik ini telah berdiri sejak tahun 2014 dan kini sudah memiliki 19 karyawan. Pemasaran batik kebanggaan lokal ini sudah mencapai pasar internasional meliputi German, Taiwan dan Hongkong. Sementra penjualan terbesar di seluruh Indonesia adalah Jakarta.
Batik yang diproduksi adalah batik tulis dan cap. Batik tulis memakan waktu mulai dari satu minggu hingga tiga bulan tergantung teknik pembuatannya. Tingkat kesulitan motif juga sangat berpengaruh pada proses. Sedangkan batik cap hanya membutuhkan waktu tiga hari. Selain kain, Sanggar Batik Banteng juga membuat sepatu dan tas dengan motif batik banteng.
Tidak dipungkiri, pandemi juga berdampak pada usaha yang didirikan wanita 22 tahun tersebut. “Ada pemasukan tapi untuk kebutuhan masih belum cukup. Kami siasati dengan cara pengurangan produksi, kalau ada pesanan baru semua dikerahkan,” paparnya.
Perempuan kelahiran Batu ini menyebutkan sebelum pandemi omset yang diterima mencapai Rp 40 juta hingga Rp 50 juta per bulan. Kini pemasukan itu turun hingga 80 persen. Harga kerajinan dengan ciri khas motif bantengnya itu, berkisar dari Rp 400 ribu sampai Rp 12 juta untuk batik tulis dan batik cap dengan harga Rp 150 ribu hingga Rp 300 ribu.
Pewarta : Wildan Agta Affirdausy Editor : Shuvia Rahma