Kawasan Dusun Mendalan, Desa Pondok Agung, Kasembon punya sejarah besar dalam perjuangan republik ini. Di sanalah tempat pertempuran hebat antara tentara Belanda dan pejuang pribumi. Pada Hari Pahlawan hari ini, Jawa Pos Radar Malang menyajikan hasil penelusuran jejak perjuangan yang dikenal dengan Palagan Mendalan tersebut.
**
21 Desember 1948. Inilah detik paling menegangkan di Kasembon. Karena pada hari itu, pasukan KNIL pimpinan Kapten Van De Pries kali pertama masuk Kasembon. Ini ibarat petaka bagi para pejuang tanah air saat itu. Karena kehadiran KNIL bersamaan dengan serangan dari darat dan udara. Terjadilah pertempuran terbuka. KNIL yang merupakan warga pribumi yang jadi antek Belanda itu menggunakan senjata lengkap seperti senapan mesin, pelontar mortir, granat, digunakan semua. Bahkan untuk menghadapi pertempuran jarak dekat ujung senapan telah mereka pasangi bayonet.
Tapi pejuang pribumi yang dipimpin Lettu Sumadi dengan gagah berani meladeni serangan itu. Pasukan Lettu Sumadi tak kurang akal. Mereka naik bukit atas sungai Parasbang dengan memuntahkan pelurunya ke arah pasukan Belanda yang menyeberangi Sungai Konto.
Sementara puluhan pemuda di bawah pimpinan Sandiman Wongso Astro, Joyo Rebo, dan Jimin, dengan senjata seadanya seperti tombak, bambu runcing, pedang, keris, bahkan cangkul, juga telah berada di sekitar gua-gua buatan yang berfungsi sebagai gudang peralatan PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air). Mereka bersembunyi di balik batu-batu besar dan di tepi sungai Parasbang. Di bawah komando Lettu Sumadi anak- anak muda yang sangat bersemangat itu menghadang pasukan Kapten Van De Pries.
Pejuang tanah air sempat menguasai keadaan. Namun kondisi berbalik saat muncul tiga pesawat tempur Belanda yang menyerang dari udara. Pesawat tempur jenis Mustang itu langsung memuntahkan peluru ke para pejuang, baik yang bertahan di sekitar Parasbang maupun di area PLTA.
Di saat kondisi pejuang semakin terdesak, Mayor Kadim Prawirodirdjo tiba di Mendalan. Mayor Kadim Prawirodirdjo adalah perwira pemimpin perjuangan di Jawa Timur, yang saat itu bertugas di Kediri. Dia menjadi pengobar semangat pejuang.
Untuk meruntuhkan mental Belanda, Kadim mengajak para pejuang menghacurkan PLTA milik Belanda di Mendalan. Karena PLTA ini lah sumber energi listrik pasukan Belanda selama menduduki wilayah Kasembon. Kantor, rumah tentara Belanda mendapat pasokan listrik dari PLTA ini. Maka, ketika PLTA dihancurkan, maka Belanda akan kelabakan.
”Bagus! Lalu bagaimana dengan teknis peledakan dan pembumihangusan NIWEM (perusahaan pembangkit listrik tenaga air milik Belanda),” tanya Mayor Kadim pada Lettu Sumadi dan para pejuang lain saat itu.
”Kami akan tetap meledakkan NIWEM,” jawab para prajurit kompak dan berapi-api.
“ Bagus sekali ! Saya percaya kamu dan pasukanmu mampu melaksanakan semua rencana itu,” Mayor Kadim sembari pamit karena harus balik ke Kediri yang juga di sana ada serangan Belanda.
Para pejuang tetap semangat. Warga pribumi dari Dusun Mendalan, Bocok, Kesiman, Gobet, dan sekitarnya memasok kebutuhan para pejuang. Ada yang mengirim segala jenis makanan. Bahkan mereka telah membuka dapur-dapur umum di sekitar desa.
Setelah Mayor Kadim pergi, seorang prajurit mengabarkan jika tentara Belanda kembali membombardir bom. Lettu Sumadi segera bertindak cepat. Ia panggil Sersan Sukarni dari Genie Pionir yang dikenal pemberani.
”Tugasmu meledakkan bom yang telah kita siapkan. Jangan sampai gagal. Sebab kalau gagal NIWEM akan dikuasai Belanda. Kalau ini sampai terjadi, jelas akan merugikan perjuangan kita secara keseluruhan,” perintah Lettu Sumadi. “Siap, Pak! Kami telah siap segalanya. Walaupun kabel penghubung yang kita miliki tak lebih dari lima puluh meter untuk meledakkan bom seberat hampir 5 ton itu, kami yakin akan mampu menghancurkan NIWEM sesuai rencana ! “ kata Sukarni tegas.
Sersan Sukarni sambil mengepalkan tangan dan segera menuju ke tempat peralatan untuk meledakkan bom yang sudah terpasang di PLTA Mendalan. Tidak ada sedikit pun keraguan dan rasa takut pada diri Sersan Sukarni ketika menuju tempat peralatan detonator. Bayangan kibaran sang merah putih di langit biru terlintas di benaknya. Sementara itu nyanyian Ibu Pertiwi yang mendayu-dayu seakan terus mengobarkan semangat juangnya. Ketika matahari tepat di atas ubun-ubun, ia tekan tuas detonator yang ber bentuk tangkai pompa tangan yang ada di depannya. Kemudian sambil berteriak
“Merdeka !!!“ dan Blarrrrrr!!!.
Ledakan dahsyat bom berbobot hampir lima ton itu memporakporandakan pusat instalasi pembangkit tenaga listrik tersebut. Atap gedung yang cukup besar itu hancur total. Serpihan trafo, accu, dan generator raksasa berhamburan. Saking dahsyatnya ledakan bom, segala macam material yang ada di dasar waduk yang berada tepat di depan gedung pusat PLTA, seperti air, tanah liat, lumpur, pasir, dan bebatuan berhamburan ke udara.
Sorak-sorai kegembiraan segera terdengar dari para pejuang melihat keberhasilan mereka meledakkan dan membumihanguskan instalasi pembangkit tenaga listrik itu.
Kegembiraan para pejuang tidak berlangsung lama. Sebab begitu melihat PLTA diledakkan, tentara Belanda yang marah langsung menggempur para pejuang. Serangan dari darat dan udara membuat para pejuang semakin kocar-kacir. Melihat keadaan tersebut Lettu Sumadi segera meminta bantuan kepada Batalyon di Kediri. Sayangnya, karena Kediri jatuh dikuasai Belanda, pasukan dari Kediri tidak bisa datang. Lettu Sumadi bersama pejuang lain berusaha melawan. Namun akhirnya terpukul mundur di sekitar Bukit Parasbang dan bukit sebelah barat Sungai Konto yang masuk wilayah Kediri. Strategi mundur ini untuk hindari korban lebih banyak. Karena pejuang kalah senjata. Selain itu, mereka juga sudah merasa menang karena berhasil meledakkan PLTA yang memang jadi target utama. (wil/and/abm)
Pewarta: Wildan, Aditya Editor : Shuvia Rahma