Pemkot Batu juga memberikan fasilitas troli sebanyak 100 unit pada tahun 2021 ini untuk mendukung pengembangan desa wisata tersebut.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu Arief As Siddiq menyampaikankan wisata bunga Desa Sidomulyo memang sangat layak dikembangkan. Untuk itu dibutuhkan sarana prasara yang lengkap guna memperkuat brand desa wisata.
"Mall Bunga Sidomulyo ini seluasnya 5 hektar berada di Dusun Sidomulyo, Desa Sidomulyo," kata Arief.
Semua tanaman hias yang diperdagangkan merupakan milik warga yang mayoritas sebagai petani bunga. "Konsep mall bunga ini juga sebagai terobosan dalam meningkatkan kualitas pelayanan bagi wisatawan," kata Arief.
Selanjutnya, Dinas Pariwisata Kota Batu juga akan berkolaborasi dengan pihak ketiga untuk memanfaatkan dana CSR dalam pengembangan desa wisata. Arief yakin, Desa Sidomulyo bisa menjadi destinasi andalan karena apa yang ditawarkan memiliki keunikan dan karakteristik berbeda dengan daerah lainnya.
Menurut dia, di Desa Sidomulyo terdapat 17 potensi wisata andalan yang bisa memajukan Desa Wisata Sidomulyo.
"Untuk itu kami juga memberikan pendampingan berkesinambungan dalam meningkatkan SDM, yang tak kalah pentingnya," ujar Arief.
Dilanjutkan Arief, Dinas Pariwisata Kota Batu juga bekerja sama dengan Bank Jatim untuk mekanisme pembayaran. Teknisnya, wisatawan yang membeli bunga di Mall Bunga Sidomulyo tak perlu menggunakan uang tunai.
"Mereka dapat bertransaksi dengan memanfaatkan layanan quick response code Indonesian standard (QRIS)," tuturnya.
Saat ini, lanjut dia, masih ada 12 potensi di Desa Wisata Sidomulyo yang terus disupport Dinas Pariwisata Kota Batu. Di antaranya Wisata Edukasi Ikan Tawar, Homestay De Berran, Kafe Djoeragan, Wisata Edukasi Tanaman Hias dan Bunga Potong. Lalu Pasar Bunga Sekarmulyo, Rumah Makan Pring Petuk, Rest Area dan Marketing Desa Wisata, Balai Desa Sidomulyo. Kemudian ada Wisata Kokedama, Mall Bunga Sidomulyo, Wisata Edukasi Batik Tulis, Wisata Edukasi Ikan Hias.
Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko mengatakan, adanya Mall Bunga merupakan sesuatu inovasi yang jarang ada di daerah lain termasuk di Jakarta. Kehadiran tempat perbelanjaan itu yang jelas menurutnya untuk memanjakan kepada orang-orang yang mempunyai hobi, passion untuk berkebun dan menjadikan rumahnya indah.
"Apalagi pembeli tidak usah membawa uang cash yang banyak, transaksi cukup dengan barcode sudah bisa membayar," katanya.
Ditambah dengan adanya fasilitas troli menjadikan konsumen tidak berat mengangkat tanaman yang dibelanjakan. Keuntungan lainnya pembeli juga bisa berolahraga dengan berjalan dan berjemur sehingga mendukung kesehatan kondisi tubuh.
Lalu, ada beberapa wejangan yang disampaikannya supaya Desa Wisata Sidomulyo dapat lebih baik lagi. Pertama, dengan mengupayakan untuk memberikan pelayanan yang baik dengan keramahan bagi warganya. Kedua, harga tanaman hias yang dijual bisa stabil dan bersaing dengan daerah lain.
"Kalau bisa lebih murah itu lebih bagus saran saya, ketiga terkait kebersihan dan protokol kesehatan juga diperhatikan untuk menjaga keseimbangan antara ekonomi dengan kesehatan," katanya.
Lebih lanjut, dalam sambutannya, Dewanti mengucapkan rasa terimakasihnya kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Brawijaya (UB), yang turut berkontribusi membantu membangun Desa Sidomulyo. Dia berpesan protokol kesehatan Covid-19 tetap harus dilaksanakan supaya kegiatan perekonomian tetap berjalan.
"Gas dan remnya harus baik supaya berimbang antara kesehatan dan perekonomian. Karena yang perlu diingat di Kota Batu ini tingkat kematian Covid-19 itu presentasenya bisa dikatakan tinggi yaitu 9 persen," katanya. Lalu, menurutnya potensi tanaman hias tidak disangka bisa bergeliat di tengah pandemi Covid-19.
Dengan adanya fasilitas troli menjadi ide bagus untuk memudahkan pembeli yang berbelanja tanaman hias. Dia berharap fasilitas yang ada dapat dijaga dan dikelola benar supaya yang diprogramkan menjadi hal yang positif.
"Semoga keberadaan Kantor Desa Wisata dan Mall Bunga Desa Wisata semoga bisa meningkatkan perekonomian warga," katanya.
Pewarta : Nugraha Perdana Editor : Shuvia Rahma