Diungkapkan pedagang sayur Likah, harga wortel mulai naik dari Rp 7 ribu per kilogram menjadi Rp 12 ribu per kilogram. Sedangkan, kentang pun ikut naik dari Rp 12 ribu per kilogram meningkat menjadi Rp 15 hingga Rp 16 ribu per kilogramnya.
"Untuk stok wortel saya selalu mengambil 10 kilogram, kalau lagi ramai ya 15 kilogram. Tapi, ini aja 5 kilogram saja tidak ada yang beli," terang warga Desa Sidomulyo ini. Hari itu Likah baru mendapat penghasilan sebesar Rp 50 ribu. Sedangkan, rata-rata pulang membawa penghasilan Rp 100 ribu per hari.
Hal yang sama juga dirasakan pedagang lainnya Nurlela, dia mengaku, harga yang naik-turun membuatnya pusing sebab, kondisinya masih sama yaitu sepi pembeli. "Posisi saya memang baru pindah dari area lorong di dalam pasar menuju ke depan sini. Penghasilan saat di area dalam hanya Rp 20 hingga Rp 25 ribu per hari. Ini pun tidak cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari," ungkapnya.
Perempuan yang akrab disapa Lela ini mengatakan, memang semenjak pindah ke area depan pasar ini mulai ada perubahan meskipun tidak signifikan. "Bagi kami, yang penting ada penghasilan yang dibawa pulang meskipun nominalnya Rp 50 hingga Rp 100 ribu per harinya," terang warga Kelurahan Temas ini.
Sementara itu, pihaknya juga mengatakan, hampir seluruh pedagang relokasi ini merasakan dampaknya. Terkadang harga sayur, wortel, kentang, dan sebagainya itu naik lalu turun. "Ya, memang ini bagian dari konsekuensi sebagai pedagang sayur. Namun, kalau kondisinya seperti ini lama kelamaan dapat merugikan pedagang. Kalau sayur tidak laku akan dibuang ke tempat sampah. Sekarang wortel-kentang naik, masih cenderung cukup bertahan lama," tutupnya. (ifa/lid). Editor : Mardi Sampurno