BATU - Sebanyak 50 pahatan kayu berjejer rapi di Galeri Raos pada Senin, (9/10 dalam event pameran wood art and sculpture. Dalam pameran tersebut dipajang beragam bentuk karya seni dari kayu. Mulai dari abstrak hingga action figure. Abdul Syukur sang seniman mengaku mendedikasikan waktunya untuk memahat patung-patung itu mulai 2011 hingga 2023.
Abdul mengatakan, awal mulai memahat sejak lulus dari SMA pada tahun 1992. Awalnya ia hanya mengumpulkan kayu ketika sedang mendaki gunung. Setelah melakukan observasi, ia mulai mengolah kayu tersebut menjadi sebuah pajangan interior. "Saya berasal dari seorang tukang kayu. Profesi utama saya adalah membuat bangunan joglo. Namun saya juga tertarik untuk mengukir kayu-kayu yang saya temukan di gunung atau sungai," ungkapnya.
Berteman dengan seniman telah membuatnya belajar dalam seni memahat kayu. Sampai saat ini Abdul telah mengirim karyanya ke beberapa tempat seperti Bali, Madagaskar, dan Inggris. "Biasanya pajangan ini dikirim sesuai order teman-teman dekat saja. Namun saya juga pernah mengirim ke beberapa tempat tersebut untuk mengisi hotel sebagai pajangan interior," katanya.
Pameran tunggal berjudul lugas ini merupakan pameran pertama yang ia lakukan. Jumlah karya yang dipamerkan juga sama dengan jumlah umurnya sekarang yaitu 50 tahun. Semua karya yang ia pajang memiliki emosi dan tingkat kesulitannya tersendiri. "Paling sulit membuat karya action figur. Biasanya membutuhkan waktu dua minggu untuk membuatnya," katanya.
Ia senang karyanya dihargai oleh teman-teman dan pengunjung yang datang. "Saya berharap para generasi muda untuk tidak menyepelekan kreativitas sekecil apa pun. Skill akan tetap di butuhkan di mana pun kita berada. Meskipun tidak bisa dijadikan penghasilan utama, skill ini bisa digunakan sebagai penghasilan sampingan," ujarnya.(sif/lid)
Editor : Kholid Amrullah