BATU - Revitalisasi tanaman apel menjadi prioritas utama Dinas Pertanian Kota Batu. Pasalnya lahan pertanian apel hanya tersisa 900 hektare saja dari sebelumnya 1.800 hektare. Hal ini dilakukan untuk menjaga ikon Kota Batu ke depan.
Kepala Dinas Pertanian Kota Batu Heru Yulianto mengatakan, lahan pertanian apel telah menurun drastis dari 1.800 hektare di 2012 menjadi 900 hektare. Hal ini dikarenakan banyak petani yang beralih dari apel ke buah ataupun sayuran lain. "Bagaimanapun juga apel adalah ikon Kota Batu. Maka revitalisasi ini dilakukan untuk menjaga buah tersebut di kota ini," ungkapnya pada koran ini, Rabu (31/1).
Program ke depan adalah menganggarkan Rp 500 juta untuk 10 hektare tanah pertanian apel. Hal itu akan dibuat untuk membantu cara produksi. Sementara itu, dinas juga menggandeng Universitas Brawijaya (UB) untuk mengembangkan keilmuan di bidang pertanian apel.
Tingginya perpindahan penanaman apel ke buah lain dikarenakan beberapa hal. Yaitu pohon apel usianya sudah tua atau lebih dari 25 tahun, tanah yang kurang baik, dan lalat buah. Ketiga hal tersebut menghambat produksi. "Untuk penyakit dan lalat buah, petani milenial Kota Batu sudah mengembangkan pestisida alami. Sementara itu, untuk tanah penggunaan pupuk harus berganti ke pupuk kompos," ujarnya.
Di sisi lain, seorang petani apel Arochman Mustofa mengatakan, dari total lahannya 3.000 meter persegi dapat menghasilkan 3 ton apel. Namun karena jamur dan lalat buah hanya 10 persen yang dapat dijual ke masyarakat. Petani lain paling tinggi hanya dapat menjual 30 persen hasil tanamnya. Sementara yang lainnya gagal panen. "Tidak seimbangnya pengeluaran dan pendapatan itu menyebabkan petani apel berpindah komoditas," kata pria asal Desa Tulungrejo itu.
Mustofa sendiri tetap bertani apel karena ingin menjaga ikon Kota Batu. Selain menjual buah, juga menyewakan lahannya untuk wisata petik apel. Dia berharap akan ada laboratorium untuk menangani penyakit apel di Kota Batu. "Kalau tidak dipertahankan, nanti ikon Kota Batu hanya tinggal patung apel di alun-alun," tandasnya. (sif/lid)
Editor : Kholid Amrullah