Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Jelang Nataru, Okupansi Hotel dan Vila Kota Batu Rendah

A. Nugroho • Minggu, 30 November 2025 | 19:34 WIB
RAMAI: Kawasan Dinotopia di Dino Park Jawa Timur Park 3 diserbu pengunjung beberapa waktu lalu. Manajemen menyiapkan beberapa wahana baru untuk menyambut Nataru.
RAMAI: Kawasan Dinotopia di Dino Park Jawa Timur Park 3 diserbu pengunjung beberapa waktu lalu. Manajemen menyiapkan beberapa wahana baru untuk menyambut Nataru.

BATU - Menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), sektor akomodasi di Kota Batu masih terseok. Rendahnya perkiraan kunjungan wisata memukul tingkat keterisian kamar hotel dan vila yang hingga akhir November baru berada di kisaran 10-20 persen.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu Sujud Hariadi mengatakan kondisi ini membuat pelaku usaha perhotelan cemas. Tren penurunan sudah terlihat sejak beberapa bulan terakhir “Biasanya okupansi long weekend bisa 70-80 persen. Sekarang tinggal 50-60 persen saja,” ujarnya.

Untuk momen Nataru, Sujud memprediksi tingkat keterisian baru akan melonjak pada tanggal tertentu. Bila berkaca pada tahun lalu, okupansi mencapai 90-100 persen sejak 25 Desember hingga 2 Januari. Dia menyebut tahun ini puncaknya diperkirakan hanya terjadi pada 30 Desember-1 Januari saja.

Pantauan reservasi awal menjadi salah satu sumber pesimisme. Hingga saat ini, pemesanan di sebagian besar hotel baru menyentuh 10-20 persen. Angka itu jauh lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu yang sudah mencapai 40-50 persen.

Meski begitu, Sujud melihat adanya pergeseran minat wisatawan ke hotel-hotel tematik. Desain yang unik dan pengalaman menginap yang lebih spesifik membuat okupansi hotel jenis ini bertahan di angka 50 persen sejak awal bulan.

“Hotel tematik memang lebih dicari,” kata pria yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Selecta itu. Salah satu faktor yang menekan okupansi yakni melemahnya daya beli masyarakat.

Wisatawan kini memilih perjalanan singkat tanpa menginap (tek-tok). Bila pun menginap, durasinya dipersingkat. Apalagi tahun baru jatuh pada hari efektif kerja. Tentu hal ini mempengaruhi keputusan wisatawan untuk staycation.

Perubahan perilaku wisatawan juga membuat hotel menyesuaikan strategi. Jika sebelumnya hotel berbintang mengundang artis nasional, kini mereka beralih ke artis lokal untuk menekan biaya.

Paket gala dinner dan pesta kembang api tetap ditawarkan. Namun sebagian tamu hanya membeli paket makan malam tanpa menginap.

Kondisi ini memaksa hotel menyiapkan paket-paket khusus agar tetap menjadi pilihan perayaan Nataru. Kondisi serupa terjadi di sektor vila. Ketua Paguyuban Vila Kota Batu Indra Tri Ariyono menyebut okupansi vila saat ini baru 10 persen.

Banyak calon wisatawan hanya menanyakan harga tanpa melakukan pemesanan. Mayoritas masih survei untuk perbandingan harga. Indra menduga wisatawan kini lebih sering datang langsung tanpa reservasi sehingga angka okupansi tidak terlihat signifikan sejak awal.

Padahal para pelaku usaha sudah melakukan berbagai upaya. Mulai dari promosi di media sosial hingga memberikan diskon 20-30 persen. “Kalau tahun lalu kamar Rp250 ribu, sekarang tinggal Rp200 ribu,” ujarnya.

Pada musim puncak tahun lalu, vila bahkan bisa menaikkan harga hingga dua kali lipat dari tarif normal.

Namun, persaingan dengan hotel berbintang yang kini menawarkan beragam fasilitas membuat pengusaha vila waswas.

“Hotel punya hiburan dan fasilitas lengkap. Banyak tamu akhirnya pindah ke rumah vila saja yang harganya mirip tapi fasilitasnya lebih luas,” kata Owner Vila Tiga Saudara Songgoriti itu.

Meski kondisi lesu, pengusaha vila tetap optimistis tingkat keterisian bisa menyentuh 100 persen pada malam pergantian tahun.

Optimisme itu merujuk pada pola tahun lalu. “Para pemilik vila sekarang lebih agresif promosi di media sosial dan menyiapkan sejumlah promo untuk menarik tamu,” pungkas Indra. (ori/dre)

 

Editor : A. Nugroho
#batu #hotel #vila #Wisata #Kunjungan