Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Efisiensi Anggaran Hantam Sektor Budaya, Frekuensi Pentas dan Hibah Dipangkas

Aditya Novrian • Minggu, 15 Februari 2026 | 14:45 WIB
Ilustrasi pertunjukan seni (freepik).
Ilustrasi pertunjukan seni (freepik).

BATU - Anggaran pelestarian kebudayaan di Kota Batu pada 2026 mengalami penyusutan signifikan. Alokasi yang sebelumnya sekitar Rp5,5 miliar pada 2025 kini tersisa sekitar Rp2,5 miliar atau turun hampir separo. Penurunan ini dipicu oleh berkurangnya dana transfer pusat serta penyesuaian prioritas program daerah.

Meski anggaran menyusut, Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu memastikan program kebudayaan tetap berjalan. Penyesuaian dilakukan dengan skala prioritas dan efisiensi kegiatan. Kepala Disparta Kota Batu Onny Ardianto menyebut, porsi terbesar anggaran tetap diarahkan pada pengembangan kebudayaan.

“Total untuk pengembangan kebudayaan sekitar Rp2 miliar,” ujarnya. Sisa anggaran sekitar Rp500 juta dialokasikan untuk tiga subkegiatan utama, yakni pengembangan kesenian, penguatan sejarah melalui penulisan buku sejarah, serta pelestarian cagar budaya. Program-program tersebut tetap dijalankan meski dengan pembiayaan lebih terbatas.

Kegiatan pengembangan kebudayaan mencakup penyelenggaraan pertunjukan seni, pemberian hibah kelompok seni, perlindungan kebudayaan, serta program pendukung lainnya. Namun, jumlah penerima hibah kelompok seni ikut terdampak. Pada 2025, terdapat 15 kelompok penerima hibah, sedangkan pada 2026 hanya lima kelompok yang memperoleh bantuan.

Pengajuan hibah tetap dilakukan sebelum tahun anggaran berjalan melalui proposal resmi dengan syarat berbadan hukum dan memiliki Nomor Induk Kesenian (NIK). Usulan dapat disampaikan melalui Musrenbang maupun pokok-pokok pikiran (pokir).

Penyusutan anggaran juga berdampak pada frekuensi kegiatan rutin. Program Pentas Padang Bulan yang pada 2025 digelar 12 kali setahun kini direncanakan hanya enam kali atau dua bulan sekali. “Kemungkinan pelaksanaan pertama setelah Lebaran,” kata Onny.

Kepala Bidang Kebudayaan Disparta Kota Batu Sintiche Agustina Pamungkas menambahkan, program pengembangan kesenian tradisional tetap difokuskan pada pelatihan. Sementara pengembangan sejarah diarahkan pada penulisan sejarah desa dan kelurahan.

“Dari total 24 desa dan kelurahan, tahun lalu tiga desa tuntas. Tahun ini ditargetkan tiga desa lagi,” jelasnya. Untuk pelestarian cagar budaya, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) tetap dioptimalkan guna memverifikasi objek yang layak ditetapkan sebagai cagar budaya. Targetnya minimal lima penetapan setiap tahun.

Sintiche menegaskan, bantuan pelatihan dan hibah bersifat stimulan dan tidak diberikan terus-menerus kepada kelompok yang sama. Tujuannya agar komunitas seni dapat tumbuh mandiri. “Penerima hibah bergantian setiap tahun. Namun ada pelatihan yang memang fokus pada satu kesenian selama beberapa tahun agar hasilnya mendalam,” ujarnya.

Salah satu contoh adalah pelatihan Tari Sembromo yang kembali dilanjutkan tahun ini setelah digelar pada 2025. Program tersebut bertujuan memperkuat materi sekaligus menghidupkan kembali kesenian yang mulai jarang ditampilkan. Setelah dinilai kuat, fokus pelatihan akan dialihkan ke kesenian lain.

Pemkot Batu juga tetap membuka dukungan bagi kegiatan budaya masyarakat, seperti bantuan untuk tradisi Serabi Suro di Dadaptulis. Namun bantuan tersebut hanya bersifat awal. “Diberikan sekali sebagai stimulan. Selanjutnya diharapkan bisa berkembang mandiri,” tegasnya.

Masyarakat tetap dapat mengajukan dukungan melalui proposal resmi. Disparta akan memprioritaskan kegiatan yang paling mendesak dan berpotensi hilang jika tidak segera dilestarikan. (dia/dre)

Baca Juga: Kantongi Kekuatan Semen Padang, Leo Guntara Jadi Senjata Rahasia Arema FC

 

Disunting ulang oleh Marsha Nathaniela

Editor : Aditya Novrian
#efisiensi anggaran #sektor budaya