***
Ruangan berukuran 4×6 meter bekas garasi itu disulap oleh 6 emak-emak menjadi lapak yang menjual baju-baju bekas. Baju-baju itu merupakan hasil donasi. Tidak hanya baju yang tertata rapi layaknya di pertokoan, dalam etalase juga terdapat sejumlah sepatu hingga apron kain. Garasi yang berlokasi di Mulyorejo, Kota Malang, itu meski tidak terlalu besar, namun manfaatnya sangat banyak. Setidaknya bagi 46 anak asuh Yayasan Garasi Amanah Insan Mulia. Karena hasil penjualan dari baju dan barang bekas itulah, sekolah anak-anak yatim peserta duafa yang tersebar di Malang Raya tersebut bisa terbantu.
Siti Rofi’ah menjelaskan, awal mula Yayasan Garasi Amanah Insan Mulia terbentuk adalah adanya agenda tahunan, yakni bakti sosial, yang dilakukan para komite sekolah TK Islam Terpadu As Salam. ”Acaranya jualan sembako dan mengumpulkan baju bekas. Rencananya, baju bekasnya kami bawa ke panti asuhan. Ternyata banyak panti asuhan di Malang yang tidak mau menerima barang bekas,” jelasnya.
Sehingga, barang-barang bekas yang sudah menumpuk banyak banyak itu dijual dengan membuat bazar. ”Dijual online juga. Hasilnya kami bawa ke panti asuhan,” imbuhnya. Saat itu, panti asuhan yang sering didatangi adalah Panti Asuhan Yasibu dan Panti Asuhan Al Kaaf Jabung.
Seiring berjalannya waktu, barang-barang bekas terus dijual dan dibawa ke panti asuhan saja. ”Namun setelah anak-anak kami lulus, kegiatan ini tetap saya lakukan sendiri. Tidak bersama ibu-ibu komite dari sekolah,” kata Siti. Hal itu dikarenakan banyak donatur yang bertanya, apakah masih menerima barang bekas?
”Daripada tidak ada kegiatan, saya lanjutkan,” imbuhnya. Hasil penjualan barang-barang bekas tersebut pun dia rutin upload di media sosialnya. ”Saya laporkan juga hasilnya saya bawa ke mana,” jelas Siti.
Trenyuh Banyak Anak Berpendidikan Rendah
Hati Siti Rofi’ah tergerak membantu anak-anak ini berawal adanya fakta banyak anak yang minim pendidikan. Terutama di desa-desa. Bahkan anak perempuan di usia belasan sudah ada yang jadi janda dengan anak satu atau dua. Ini karena mereka nikah usia dini dan tidak sekolah tinggi.
Karena kegiatan-kegiatan sosial Siti sering di-upload di media sosial pribadi, ada seorang guru di Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang, yang mengirim pesan kepada Siti.
”Guru tersebut bertanya, ”Tidak mau ambil anak asuh? Di daerah Pagak banyak anak-anak yang butuh bantuan,” terang Siti menirukan pertanyaan guru tersebut. Setelah berkomunikasi dengan guru tersebut, Siti berkunjung ke Pagak untuk melakukan survei.
”Pertama kali, saya kaget karena di sana masih banyak rumah yang terbuat dari bilik bambu dan tanah,” sambungnya. Siti menuturkan, kesadaran pendidikan di Pagak pun masih rendah, tingkat kemiskinan masih tinggi, dan angka pernikahan di bawah umur masih banyak terjadi. ”Jadi anak usia belasan, banyak yang sudah jadi janda dengan mempunyai satu hingga dua anak,” terangnya.
Hal itu membuat Siti tergerak untuk mengangkat anak-anak tersebut jadi anak asuh. ”Karena menurut saya, modal meningkatkan taraf hidup mereka adalah pendidikan,” imbuh Siti. Dengan usahanya sendiri, pemilik warung soto ayam babon ITN Malang itu mempunyai empat anak asuh pertama yang terdapat di Tumpang dan Pagak.
Setelah dua tahun sendiri, pada tahun 2019, selain donatur yang semakin banyak, anak asuhnya pun meningkat, mencapai 28 anak. ”Saya merasa kuwalahan. Sehingga saya mengajak kembali teman-teman komite untuk membantu,” terang Siti.
Bersama lima emak-emak lainnya, yakni Aprida Rahimah Rahman, Sitta Laili Abidah, Iswatul Chasanah, Dyah Ariefa Tristanti, dan Sudarmi, Siti ingin mempunyai tempat jualan. ”Kalau hanya dilakukan secara online, repot harus foto satu-satu,” imbuhnya.
”Akhirnya satu tahun yang lalu ngontrak di Mulyorejo ini,” sambungnya. Bahkan, pada Februari 2020 lalu, ada seorang donatur yang menyumbangkan sebuah mobil. ”Mobil itu seharga Rp 40 juta. Kami ingin buat beli tempat biar tidak ngontrak. Tapi uangnya masih kurang banyak,” terangnya.
Dia menjelaskan, hal yang paling repot adalah memantau anak-anak asuh karena tidak terkumpul di satu tempat. ”Kami menggandeng Alfianto Setiawan, founder program 1.000 Sepatu untuk Anak Indonesia. Beliau bisa memberikan motivasi untuk anak-anak,” katanya. Karena meski sudah ada tawaran untuk sekolah gratis, anak-anaklah yang memang tidak mau. ”Kami harus bujuk. Tapi kalau memang anak-anak tidak punya semangat, kami cari anak-anak yang ada keinginan,” jelasnya.
”Bentuk pembayaran sekolah anak-anak melalui gurunya selama satu semester. Kita koordinasi dengan gurunya,” jelasnya. Ada juga anak-anak yang ditaruh di pondok pesantren, yaitu sebanyak tiga anak di Pondok Pesantren Subulus Salam Malang. ”Anak-anak kita kebanyakan dari Pagak dan Bantur,” imbuhnya.
Menurut dia, mengontrol aktivitas anak-anak adalah yang paling sulit. ”Tapi kami punya aturan. Anak-anak yang melanggar, kita hentikan pembiayaannyaa,” tuturnya.
Program utama Yayasan Garasi Amanah Insan Mulia adalah anak asuh. Tetapi, ada juga program-program lain yang dimiliki. Seperti wakaf masjid, santunan anak yatim piatu, dan khitan gratis. ”Setiap bulan kita khitan anak yatim, satu sampai 3 anak,” katanya.
Pandemi Covid-19 ini pun, ada pengadaan alat pelindung diri (APD) untuk tenaga kesehatan dan bagi-bagi sembako untuk masyarakat terdampak.
”Yang nyumbang barang-barang bekas itu dari banyak daerah. Bahkan kita tidak kenal mereka,” imbuhnya. Donatur menghubungi melalui media sosial atau nomor HP pengurus maupun Yayasan Garasi Amanah Insan Mulia yang tersebar.
”Sebelumnya kami dapat paketan dari Denpasar. Ada juga dari Jakarta,” kata Siti. Dia bersyukur, donasi yang datang tidak hanya berupa baju dan barang bekas. Beberapa waktu lalu, yayasan itu mendapat donasi sebuah mobil Ford tahun 2006. Donasi itu lalu dijual dan laku Rp 40 juta.
Itu merupakan donasi dari salah satu kerabat pengurus yayasan. Lucunya, pada saat akan dijual, Siti dan pengurus lainnya sempat kesulitan dalam menentukan harga. ”Kami emak-emak nggak ada yang mengerti mobil semua, monggo sak kerso panjenengan mau bayar berapa,” ujar Siti menirukan bagaimana dia dan pembeli melakukan penawaran. Siti menyebutkan bahwa donasi tersebut nantinya akan digunakan untuk membeli lapak serta kantor. Editor : Editor : Hendarmono Al S.