”Akses menuju kelurahan kami (Wonokoyo) itu sangat terbatas, sementara kelurahan lainnya banyak akses. Makanya kami tertinggal,” ujar Suhartono, salah satu tokoh warga Wonokoyo, kemarin (16/10).
Ketertinggalan yang dimaksud Suhartono terlihat dari jomplangnya Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) maupun harga pasar tanah di kawasan timur Kota Malang, biasa disebut Malang Timur. ”NJOP di kawasan Wonokoyo ini hanya Rp 160 ribu per meter persegi. Tanah di sini (Wonokoyo) juga masih banyak yang harganya di kisaran Rp 200 ribu per meter persegi,” keluh pria yang kesehariannya berdagang itu.
Sementara di kelurahan lain di Kecamatan Kedungkandang, Suhartono mengatakan, NJOP-nya masih di atas Rp 600 ribu per meter persegi. Sehingga kelurahan lain yang dilintasi Jalitim dinilai pengembangannya lebih pesat. Seperti Kelurahan Kedungkandang, Buring, Bumiayu, dan Arjowinangun.
”Pengembangan suatu wilayah itu kunci utamanya infrastruktur. Kelurahan lain banyak akses menuju ruas Jalan Mayjen Sungkono, sedangkan akses dari Wonokoyo hanya satu,” kata dia.
Untuk menuju Wonokoyo, memang hanya ada satu akses, yakni melalui samping GOR Ken Arok. Berbeda dengan Kelurahan Buring, Kedungkandang, Bumiayu, dan Arjowinangun. ”Kami siap menghibahkan lahan jika dibuatkan jalan tembus,” katanya.
Sementara itu, Lurah Wonokoyo Suparman mengatakan, pihaknya akan menyalurkan aspirasi warganya kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Malang. Yakni mengupayakan penambahan akses dari Wonokoyo menuju ruas Jalan Raya Mayjen Sungkono. Dia mengupayakan Oktober 2020 ini sudah mengajukan pembukaan jalan tembus.
”Tinggal mengajukan proposal. Kira-kira kurang lebih ada 500 meter (jalan tembus) dari Wonokoyo menuju Mayjen Sungkono,” kata dia.
Selain menyerahkan proposal jalan tembus, Suparman mengatakan ada wacana pengembangan kawasan Wonokoyo Utara yang siap dijadikan lahan tol. ”Tapi wacana itu masih timbul tenggelam,” kata dia.
Termasuk pengembangan kawasan wisata air yang saat ini progresnya masih 30 persen juga akan dikebut. Hal itu dilakukan demi mengangkat perekonomian warga Wonokoyo. ”Tahun 2020 ini saya usahakan rampung agar bisa di-launching,” tutur Suparman.
Selain Lurah Wonokoyo Suparman, Camat Kedungkandang Donny Sandito W. juga mengakui ketertinggalan warga Wonokoyo dibanding kelurahan lain di sepanjang Jalitim. ”Aksesnya (menuju Wonokoyo) memang terbatas dan agak jauh,” kata Donny.
Donny mengatakan, sebenarnya pemerintah sudah memberi perhatian untuk memajukan Wonokoyo. Hal itu terlihat dari anggaran infrastruktur untuk Wonokoyo. Pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2020, Wonokoyo dijatah Rp 600 juta untuk peningkatan infrastruktur. Rinciannya Rp 315 juta dari pemkot dan sisanya Rp 330 juta dari dana alokasi umum (DAU) pemerintah pusat. ”Tapi ada sebagian yang terpangkas anggaran Covid-19,” kata pejabat eselon III A Pemkot Malang itu.
Disinggung mengenai permintaan warga untuk dibuatkan jalan tembus, Donny mengaku sudah beberapa kali membahasnya. Bahkan sejak camat Kedungkandang dijabat oleh Pent Haryoto. ”Camat sebelum saya (Pent Haryoto) juga sudah membahas hal tersebut, baik dengan DPRD maupun dengan Pemkot Malang,” kata pria yang pernah menjabat lurah Rampal Celaket itu.
Pewarta: Sandra DC
Editor : Shuvia Rahma