Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Jejak Bung Tomo di Kota Malang: Pernikahan, Rumah, hingga Percetakan

Shuvia Rahma • Rabu, 10 November 2021 | 17:09 WIB
Foto pernikahan Bung Tomo dengan Sulistina. Pernikahan itu dilaksanakan pada 1947 di kediaman keluarga Sulistina, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. (Dok Keluarga Bung Tomo/ist)
Foto pernikahan Bung Tomo dengan Sulistina. Pernikahan itu dilaksanakan pada 1947 di kediaman keluarga Sulistina, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. (Dok Keluarga Bung Tomo/ist)
Penghancuran Stasiun RRI Surabaya oleh tentara sekutu pada 10 November 1945 menjadi momen awal ”hijrah” Bung Tomo ke Kota Malang. Kepindahannya ke Stasiun RRI Malang, yang sekarang menjadi Hotel Shalimar, dibantu beberapa orang. Termasuk sang kekasih yang kemudian dinikahinya, Sulistina.

Proses kepindahan Bung Tomo ke Kota Malang dikisahkan kembali oleh putra tunggalnya, Bambang Sulistomo, kepada Jawa Pos Radar Malang, Selasa (9/11). Menurutnya, kepindahan tersebut didasari pertimbangan faktor keamanan. Apalagi rasa aman itu diyakinkan oleh Sulistina, yang kala itu menjadi perawat di Kota Surabaya.

”Dari Kota Malang, bapak saya terus menyiarkan berita kemerdekaan ke seluruh negeri. Beliau memang ingin Indonesia merdeka seluruhnya, tanpa memberikan secuil wilayah kepada penjajah,” ujarnya.

Bambang juga menjelaskan bahwa ayahnya punya andil penting dalam pertempuran 10 November di Kota Malang. Dialah sosok yang mampu menggerakkan para laskar dengan sistematis melawan para tentara sekutu. Keberhasilan mengusir tentara sekutu juga dibantu oleh Sulistina yang memberikan informasi penting dari para pejuang yang dirawat.

Sejarah bahwa Bung Tomo tidak terpisahkan dari Kota Malang juga karena sang istri. Sulistina merupakan arek Malang yang berasal dari Kecamatan Lowokwaru. Mereka menikah secara sederhana pada 1947 di kediaman Sulistina. ”Saat itu pernikahan bapak dan ibu dianggap kemunduran idealisme oleh para pejuang lantaran berlangsung saat perang revolusi,” papar Bambang.

Padahal, ada pertimbangan lain yang membuat Bung Tomo memutuskan untuk menikah di zaman tersebut. Salah satunya agar tidak diungsikan ke Australia oleh kawan-kawan seperjuangan, mengingat tentara sekutu sedang berusaha keras mencari dirinya. Dengan menikahi Sulistina, maka ada alasan untuk bisa menetap di Kota Malang.

Kala itu, mereka terpaksa tinggal berpindah-pindah untuk menghindari sergapan tentara sekutu. ”Dulu pernah dicap jelek dengan menyebut perjuangan Bung Tomo sudah habis. Tapi nyatanya ya terus berlanjut,” imbuh Bambang.

Hingga kemerdekaan Indonesia telah diakui dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 1949, perjuangan Bung Tomo masih terus berlangsung di Kota Malang. Meski dengan cara yang lain. Dia mendirikan sebuah percetakan di Jalan Glintung Nomor 32, Kecamatan Blimbing. Percetakan itu diberi nama Percetakan Balapan. Bung Tomo meminjam uang dari bank untuk membeli alat percetakan dari Jerman. Sejumlah buku dari pengalaman pribadinya pernah diterbitkan.

Dari hasil keuntungan membuka percetakan, Bung Tomo dan Sulistina membeli sebidang tanah di Jalan Ijen nomor 6. Mereka pun membangun rumah pada 1950. Rumah dengan gaya klasik tersebut menjadi tempat tinggal Bung Tomo dan Sulistina hingga dikaruniai anak.

Photo
Photo
Rumah di Jalan Ijen nomor 6 Kota Malang pernah menjadi
kediaman Bung Tomo bersama istri dan anaknya. (Suharto/Radar Malang)

”Saya lahir ketika rumah itu sudah mulai dibangun. Banyak kenangan di sana,” ungkap Bambang.

Waktu terus berjalan. Kemajuan teknologi percetakan juga semakin cepat. Usaha milik Bung Tomo mulai mengalami penurunan produksi pada 1960-1970-an. Hingga akhirnya, sejumlah alat percetakan dijual.

Meski demikian, sampai akhir hayatnya sosok Bung Tomo masih dikenang oleh warga Kota Malang maupun warga Kota Surabaya. Seperti yang diungkapkan Budayawan Kota Malang Dwi Cahyono yang menyimpan sejumlah arsip keberadaan Bung Tomo di Kota Malang. Dia menganalisis sosok Bung Tomo sebagai pahlawan yang gigih dalam mempertahankan idealisme. Terutama saat sidang Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) 25 Februari-6 Maret 1947.

”Gagasan tentang kemerdekaan harus diraih secara utuh juga dari Bung Tomo. Itulah yang menjadi penyemangat para pejuang kala itu,” katanya.

Pria yang pernah menjadi Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang itu juga mendengar kisah heroik Bung Tomo membantu para pejuang di Kota Malang saat pembumihangusan tahun 1947. Dia mengorganisir para pejuang agar tak gentar melawan tentara sekutu. Sama halnya dengan di Surabaya, pidatonya menjadi pemantik semangat para pejuang.
Untuk itu, peringatan Hari Pahlawan ini bisa menjadi momen saling belajar bersama. Sosok Bung Tomo tak hanya ada di Kota Surabaya saja. Pengaruhnya sudah menyebar ke Kota Malang hingga penjuru daerah lainnya.

”Saya rasa memang butuh sebuah pengetahuan dalam dunia pendidikan, khususnya sejarah, bagaimana sosok Bung Tomo melanglang buana di Kota Malang,” tandasnya. (adn/fat/rmc)
Editor : Shuvia Rahma
#hari pahlawan #bung tomo