Dokter Spesialis Patologi Anatomi dr Kiki Ulfaningtyas SpPA menyampaikan PA ini adalah salah satu cabang ilmu yang menilai perubahan patologis pada tubuh. Perubahan patologis itu diteliti di tingkat sel. Jadi untuk melihatnya harus memakai mikroskop. "Karena perubahan patologis (kelainan pada tubuh) itu bisa dideteksi sampai tingkat sel. Nah patalogi anatomi itu menilai perubahannya di tingkat sel," katanya.
Lebih detil, dr Kiki menyebut tujuan utama PA itu untuk diagnostik. Karena sejatinya patologi anatomi ini sebagai pemeriksaan penunjang untuk mendukung diagnostik. "Dari diagnostik itu nantinya dokter klinis lebih mudah untuk menentukan terapi atau penatalaksanaan lebih lanjut kepada pasien," ujarnya.
Sebagai contoh, ketika ada benjolan di leher dokter klinis bakal mencari tahu penyebabnya. Bisa bermacam-macam sebabnya, di antaranya infeksi, tumor jinak atau ganas. "Nah, patologi anatomi itu membantu mendiagnosis benjolan secara mikroskopis. Setelah jelas itu (benjolan) apa, baru dokter klinis akan menentukan terapi selanjutnya berdasarkan (analisis PA) itu," jelas dr Kiki.
Pemeriksaan PA dibagi menjadi dua, yakni Histopatologi dan Sitologi. Jika Histopatologi yang diperiksa adalah jaringan, sementara Sitologi memeriksa sel.
Sitologi kata dr Kiki, dibagi menjadi dua pemeriksaan, yakni FNAB atau biopsi aspirasi jarum halus. Melalui tindakan FNAB ini, sel akan diambil melalui jarum kecil, aspirat sel kemudian dilihat memakai mikroskop. Sementara sitologi eksfoliatif memeriksa sel yang terlepas dan ada di dalam cairan tubuh, seperti cairan pleura, ascites, dan lain- lain.
Untuk menganilisa jenis benjolan yang ada pada pasien, butuh waktu yang berbeda-beda. Bergantung pada jenis tindakan yang dilakukan. Kalau Sitologi FNAB dan Eksfoliatif bisa sampai 1-2 hari. Sedangkan Histopatologi sampai 4-5 hari. "Di sini banyak penanganan yang sudah menerapkan Sitologi, baik FNAB maupun Eksfoliatif. Mayoritas kasus yang sudah ditangani di RSUD seperti tumor, infeksi, dan lainnya," tukasnya.
dr Kiki menambahkan biasanya dokter klinis yang membutuhkan pemeriksaan PA bakal merujuk pasien ke PA. Dokter klinis yang paling sering membutuhkan PA seperti spesialis paru, bedah, penyakit dalam dan anak. "Dokter klinis akan membuat pengantar untuk ke PA. Setelah diproses, hasilnya diserahkan pasien dan pasien kembali ke dokter klinisnya untuk tindakan lanjutnya, atau terapi," tutup dr Kiki. (bin/dik) Editor : Didik Harianto