Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ragam Baju Adat Melenggang di Karpet Merah

Mardi Sampurno • Senin, 12 September 2022 | 20:19 WIB
BANGKIT BERMARTABAT: Wali Kota Malang Sutiaji bersama istrinya, Widayati Sutiaji, tampak mengenakan pakaian adat Minang. Diiringi para ASN Pemkot Malang yang juga mengenakan pakaian adat, mereka berjalan kaki mulai dari Jalan Basuki Rahmat hingga Jalan Se
BANGKIT BERMARTABAT: Wali Kota Malang Sutiaji bersama istrinya, Widayati Sutiaji, tampak mengenakan pakaian adat Minang. Diiringi para ASN Pemkot Malang yang juga mengenakan pakaian adat, mereka berjalan kaki mulai dari Jalan Basuki Rahmat hingga Jalan Se
MALANG KOTA – Jalan Basuki Rahmat hingga Jalan Semeru jadi ajang catwalk peragaan busana kemarin siang (11/9). Ragam baju adat, seperti Baju Bodo dari Makassar, Sulawesi Selatan, hingga baju adat Suku Dayak dipakai para peserta karnaval. Deretan warga yang menonton acara itu seolah kompak mengabadikan dengan kamera ponsel.

Antusias masyarakat dan peserta pawai yang sangat tinggi itu bukan tanpa alasan. Rasa kangen seolah terobati setelah dua tahun lamanya acara serupa ditiadakan akibat pandemi. Apalagi persiapan event karnaval dengan tema Bangkit Bermartabat yang dilakukan Pemkot Malang tahun ini jauh lebih baik. Termasuk gelaran karpet merah di Jalan Semeru yang terbilang panjang. 

”Para peserta kali ini cukup kreatif. Apalagi jika melihat busana yang ditampilkan cukup menarik perhatian pengunjung,” kata Wali Kota Malang Sutiaji. Pada kesempatan itu, Sutiaji bersama istrinya menggunakan baju adat Minangkabau berwarna merah. Sesekali dia bersama kepala perangkat daerah (PD) turun dari panggung untuk berjoget bersama dengan para peserta di atas karpet merah. Lewat karnaval itu, Pemkot Malang juga punya misi membangkitkan perekonomian warga. Sebab, tak sedikit baju adat yang dipakai para peserta itu berasal dari persewaan. Pelaku UMKM yang menawarkan jasa sewa baju adat pun bisa ikut tersenyum mengingat dua tahun sepi permintaan. 

”Sesuai tema Bangkit Bermartabat, maka ini jadi momen yang pas agar ke depan kita juga saling bahu membahu mendongkrak pertumbuhan ekonomi,” tutur pemilik kursi N1 itu. 

Karnaval yang berlangsung kemarin diikuti setidaknya lebih kurang 3 ribu peserta. Mereka terbagi dalam 30 kontingen. Paling banyak dari Komunitas Masyarakat Klojen yang membawa 341 orang. Setiap kontingen berlomba-lomba menunjukkan kreativitas. Ada yang dalam bentuk aksesori tambahan hingga atraksi di depan panggung utama. 

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Kadisporapar) Kota Malang Ida Ayu Made Wahyuni menjelaskan, pelaksanaan karnaval bisa mendongkrak kunjungan wisatawan. Sebab, selama dua tahun terakhir tanpa karnaval memengaruhi jumlah kunjungan wisatawan. ”Harapannya begitu. Animo masyarakat terlihat tinggi jika melihat event karnaval,” jelas wanita yang akrab disapa Dayu itu. 

Dia menambahkan, event karnaval kemarin pasti mendongkrak perekonomian warga. Terutama tempat persewaan baju adat. Menurutnya, kegiatan itu bisa kembali memperbaiki ekonomi dan hiburan masyarakat setelah dua tahun tidak ada karnaval. (adn/fat) Editor : Mardi Sampurno
#catwalk peragaan busana #Kota Malang #baju adat