Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Istilah Buk Gluduk Dicetuskan Pribumi

Mardi Sampurno • Minggu, 11 Desember 2022 | 16:08 WIB
JADI INSPIRASI NAMA KAMPUNG: Bangunan penyangga perlintasan kereta api (KA) di Kecamatan Klojen sudah ada sejak zaman Belanda.
JADI INSPIRASI NAMA KAMPUNG: Bangunan penyangga perlintasan kereta api (KA) di Kecamatan Klojen sudah ada sejak zaman Belanda.
Kampung ini dulunya sepi. Hanya ada kompleks rumah dinas pegawai PJKA. Sisanya yakni rawarawa dan kompleks persawahan. Dua sesepuh di sana berbagi cerita kepada koran ini.

Nama Buk Gluduk terinspirasi dari sebuah bangunan yang menjadi penyangga lintasan kereta api (KA) di Kota Malang. Bangunan setinggi lima meter itu melintang di atas pertemuan Jalan Gatot Subroto dan Jalan Panglima Sudirman, Kecamatan Klojen.

Sebelum menjadi kawasan perkampungan seperti sekarang, dulu di sana merupakan kawasan khusus rumah dinas bagi pegawai PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api). Keterangan itu disampaikan Sri Sulastri, salah satu saksi sejarah di Kampung Buk Gluduk. Perempuan yang kini berusia 77 tahun itu merupakan anak dari seorang Kepala Bidang Administrasi Keuangan PJKA saat itu.

Sekaligus satu-satunya keturunan pegawai PJKA yang hingga saat ini masih tinggal di rumah dinas. Perempuan yang lebih akrab disapa dengan nama suaminya itu, yakni Zaini, mengatakan bila Kampung Buk Gluduk dulunya adalah sebuah rawa-rawa.

Hanya ada bangunan rumah dinas dua deret. Deret pertama terletak di sebelah utara, dengan jumlah enam rumah. Sementara, deret kedua terletak di sebelah selatan, berisi 10 rumah. ”Tapi yang 10 rumah itu dibagi lagi. Jadi bagian depan ada 10, dan bagian belakang ada 10 lagi.

Total jadi ada 20 rumah,” ujarnya. Zaini mengatakan bila cikal bakal Kampung Buk Gluduk ya kawasan rumah dinas itu saja. Sebab sisanya merupakan rawarawa dan hamparan sawah yang membentang luas di sisi timur. Dia tidak tahu pasti kapan dibangun penyangga perlintasan KA itu. Sebab sejak dia lahir tahun 1945 lalu, bangunan itu sudah berdiri kokoh. Lantas, mengapa disebut Buk Gluduk? Zaini mengatakan bila itu sebutan dari Bahasa Jawa. Buk artinya struktur bangunan berundak. Sementara, gluduk adalah suara gelegar dari sambaran petir. Jadi, warga di sana menyebut bila struktur bangunan di sana seperti sebuah buk.

Lantas, setiap kali KA melintas, ada suara gelegar seperti sambaran petir. Suara itu muncul akibat gesekan antara roda KA dengan bantalan rel, yang dulunya masih berupa kayu. Suara itu kini sudah berbeda. Seiring bergantinya jenis KA yang melintas dan bantalan kayu yang saat ini sudah diganti dengan beton.

Meski begitu dua deret rumah dinas PJKA masih berdiri kokoh hingga saat ini. Zaini menempati rumah nomor tiga di deret pertama. ”Rumah dinas ini sampai saat ini masih kami sebut sebagai kongsen,” ucapnya. Kongsen merupakan bangunan peninggalan Belanda yang difungsikan untuk rumah dinas. Hal serupa diungkapkan oleh Taminah, sesepuh Kampung Buk Gluduk lainnya.

Perempuan berusia 86 tahun itu telah menetap di Kampung Buk Gluduk sejak usia belia. Dia hidup sebatang kara tanpa orang tua. Akhirnya, sejak kecil dia bekerja menjadi pembantu rumah tangga di salah satu rumah pegawai PJKA. Hingga akhirnya dirinya mendapatkan sebuah bangunan yang awalnya difungsikan sebagai dapur umum rumah dinas itu. Di sana lah Taminah akhirnya tinggal. Sampai detik ini, ruang bekas dapur umum itu masih dia tinggali bersama cucunya.

Perempuan yang akrab disapa Tam itu membenarkan bahwa dulunya Kampung Buk Gluduk itu hanya dihuni pegawai PJKA dan keluarganya. ”Jadi dulu di sini sepi, tidak seperti sekarang banyak pendatang,” kata dia. Kampung Buk Gluduk sempat ditinggal oleh penghuninya karena Belanda kembali datang sekitar tahun 1948. ”Semua orang mengungsi. rumah-rumah juga dijarah,” terangnya. Terkait asal mula nama Kampung Buk Gluduk, Taminah menyampaikan hal yang berbeda.

Dia mengatakan bila saat pembangunan struktur bangunan penyangga lintasan KA di sana, kerap kali ada petir yang menyambar.

Orang pribumi yang mengerjakan bangunan itu secara paksa di bawah komando Pemerintahan Kolonial Belanda akhirnya menyebutnya Buk Gluduk. Sebab, selama pengerjaannya banyak sambaran petir yang terjadi. Seiring berjalannya waktu, Kampung Buk Gluduk menjadi kawasan padat penduduk. Banyak pendatang yang mulai berdatangan. Yayak Sahiya, Ketua RW 2 Kampung Buk Gluduk, Kelurahan Kesatrian, Kecamatan Blimbing mengatakan, saat ini di RW 2 ada sebanyak 314 KK. ”Jumlah penduduk perempuannya ada 545 orang.

Sedangkan, penduduk laki-lakinya berjumlah 480,” kata dia. Yayak, sapaan akrabnya, mengatakan bila Kampung Buk Gluduk terdiri atas dua RW. Yakni RW 2 dan RW 12. Namun, RW yang masih banyak dihuni oleh penduduk asli di sana adalah RW 2. Sedangkan, di RW 12 sudah banyak pendatang. Arkeolog Universitas Negeri Malang Suwardono mengatakan, berdirinya Kampung Buk Gluduk itu tidak terekam dalam sejarah Kota Malang.

Namun, kampung yang berada di Jalan Untung Suropati Selatan itu memang lokasinya paling dekat dengan struktur bangunan Buk Gluduk. ”Iya, itu dulu merupakan tanah PJKA,” ujarnya. Dalam buku berjudul Wanwacarita yang ditulis oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang, Buk Gluduk mempunyai peran penting dalam menggerakkan perputaran ekonomi di Kota Malang. Pasalnya, di seberang selatan Buk Gluduk merupakan sentra perekonomian awal.

Yakni Kampung Pecinan atau Pecinan Besar yang dihuni oleh warga keturunan Tionghoa. Itu lah mengapa jalur lintasan KA dibangun membujur ke utara hingga selatan. Jalur KA itu dibangun pada tahun 1876.

Menghubungkan Malang-Surabaya dan Malang-Pasuruan. Pembangunan jalur KA itu akhirnya dilanjutkan ke sebelah selatan Kota Malang, yakni Blitar. Jalur lintasan KA itu memudahkan akses dari dan ke Kota Malang.

Sebab, Kota Malang dulu merupakan wilayah pedalaman di Jawa Timur. Jika dibandingkan Kota Surabaya saat itu, Kota Malang masih belum banyak berkembang. Untuk itu, pembangunan lintasan-lintasan KA itu cukup membantu proses distribusi barang. Sehingga pergerakan ekonomi di Kota Malang mulai berkembang. (*/by) Editor : Mardi Sampurno
#Bangunan penyangga perlintasan kereta api (KA) #kecamatan klojen #Kota Malang