Salah satunya di toko elektronik yang ada di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Blimbing. Toko yang dikelola Tomo itu sekarang kehabisan stok karena tidak menyediakan STB dalam jumlah banyak.
”Kebanyakan orang mampir untuk tanya-tanya saja. Jadi, saya hanya ambil merek-merek yang direkomendasikan Kementerian Kominfo (Komunikasi dan Informatika), tapi dalam jumlah sedikit,” ujar Tomo saat ditemui kemarin (13/12).
Paling banyak, dia mengambil setengah lusin dari masing-masing merek. Namun, saat ini stok barang dari distributor tengah kosong. Sebagai pedagang, Tomo tidak membanderol STB dengan harga yang tinggi. Satu peranti STB dijualnya berkisar antara Rp 190 ribu-Rp 200 ribu.
Kondisi serupa juga dirasakan Heriyanto, pedagang barang elektronik yang berada di Jalan Semeru, Kecamatan Klojen. Dia yang menjual STB sejak dua bulan lalu menilai belum ada permintaan STB dari warga secara signifikan.
”Kalau diestimasi, yang cari 4-5 orang tapi yang beli kadang hanya 1-2 orang saja,” katanya. Di samping itu, harga STB yang dijual juga cukup mahal. Antara Rp 250 ribu-Rp 400 ribu. Semuanya STB yang dijual berstandar SNI sesuai persyaratan dari Kominfo.
Migrasi siaran TV itu ke depan memang bakal menambah pengeluaran masyarakat untuk membeli STB. Namun bagi keluarga prasejahtera, Pemkot Malang sudah menyiapkan bantuan distribusi STB secara gratis ke 2.927 jiwa. Namun hingga kini belum ada informasi lebih lanjut.
”Kalau timeline dari pusat harusnya November lalu, tapi dari Pemprov Jatim mengajukan reschedule (jadi 20 Desember 2022),” tutur pria yang akrab disapa Wiwid itu. (mel/adn) Editor : Mardi Sampurno