Saat ini, nama Kemirahan juga dipakai menjadi nama jalan. Ada Jalan Kemirahan Gang 1, yang berlokasi di RW 1. Juga Jalan Kemirahan Gang 2 di RW 2, dan Jalan Ikan Piranha di RW 3. Dalam buku berjudul Toponim Kota Malang karya Ismail Lutfi dan kawan-kawan, disebutkan bila nama Kemirahan diambil dari nama tanaman mirah. Dalam bahasa Jawa, mirah memiliki sinonim banteng, dara, deres, mirah, sambang, dan sariawan.
Tanaman itu berbentuk semak, dengan panjang 2 sampai 10 meter. Tanaman tersebut lebih sering tumbuh di hutan. Menurut tradisi tata bahasa Jawa, biasanya nama akan diberi awalan ke dan akhiran an. Dari tradisi itu, kemudian muncul nama Kemirahan. Versi yang tidak jauh berbeda disampaikan sejarawan Kota Malang Suwardono. Dia menyebut bila nama Kemirahan berasal dari tanaman bang-bang yang bunganya disebut bunga kemirahan. Saat itu, banyak pendatang dari Madura dan tidak bisa mengucapkan kata abang.
Dalam bahasa Indonesia, abang berarti merah. Namun, orang Madura menyebut merah dengan kata mirah. ”Sehingga penamaannya menjadi Kemirahan,” kata dia. Sementara menurut Ketua RW 1 Rita Puspitasari, kemirahan berasal dari kata mirah. Dalam bahasa Jawa kuno, artinya kemakmuran atau kesejahteraan. Ada juga dugaan lain. Kemirahan berarti kemiren atau suka iri. ”Itu dipelesetkan sama warga di sini. Soalnya kalau ada orang meninggal di Gang 1, di Gang 2 juga selalu ada, Gang 3 juga. Selalu gitu,” kata Rita.
Dia menyebut bila kejadian seperti itu masih sering terjadi sampai sekarang. Mendukung dugaan Rita, Ketua RT 2 RW 1 Yoseph Heru menyatakan bila kejadian itu benar adanya. ”Kurang tahu itu mitos atau tidak, tapi kejadiannya memang seperti itu,” kata dia. Sejauh ini, dia menyebut bila pernyataan itu menjadi rumor yang masih beredar di masyarakat. Versi yang cukup berbeda disampaikan tokoh agama setempat, Ustad Agus Yulianto. Menurut cerita yang dia ketahui, kemirahan memiliki arti persinggahan. ”Nama Kemirahan berawal dari Eyang Loso yang singgah di sini. Jadi, kemirahan itu maksudnya persinggahan,” kata dia.
Persinggahan tersebut dimaksudkan untuk meneruskan perjuangan Pangeran Diponegoro. Ketika Pangeran Diponegoro diasingkan, dia turut mengumpulkan prajuritnya. Di antaranya yakni Mbah Thohir Bungkuk, Ki Ageng Gribig, Mbah Aris Kertoleksono Dampit, dan Mbah Singojati. ”Mereka-mereka ini diperintahkan ke Malang. Sementara Pangeran Diponegoro sudah berada di Gunung Kawi dengan nama Eyang Imam Sujono,” kata dia. Untuk lebih memudahkan hubungan antara prajurit-prajuritnya, akhirnya Pangeran Diponegoro pindah ke Kemirahan.
Sekitar tahun 1875, Eyang Loso hijrah dari Keraton Ngayogyakarta bersama istri dan anakanaknya beserta abdinya ke Malang, tepatnya Kecamatan Wagir. Salah satu keturunan Raden Patah itu berniat mengumpulkan pemuda yang memiliki patriotisme tinggi. Namun, karena kondisi tidak memungkinkan, akhirnya ke kota. ”Saat itu di sini masih dalam lingkungan Panawijen (sekarang Polowijen),” tambah Ustad Agus.
Eyang Loso berperan penting dalam melindungi Kemirahan dari penjajahan Belanda. Dalam catatan Ustad Agus, prajurit-prajurit hasil pembinaan Eyang Loso memiliki keberanian yang tinggi. Karena keberanian itu, tidak sedikit prajurit Belanda yang bisa terbunuh di tangan anak buahnya. Selain itu, karena proses tirakat Eyang Loso, beliau bisa tak terlihat oleh musuh. Ilmu itu juga ditularkan ke anak didiknya. ”Sampai Belanda mencari itu tidak ketemu.
Ya, cuma berdiri saja beliau, tapi tidak kelihatan,” tambah Ketua RT 2 RW 2 Wahyudi. Laki-laki yang lahir sekitar tahun 1960-an itu juga mengaku kalau kakeknya hanya memakan singkong sebagai proses tirakatnya. Untuk mengenang jasa Eyang Loso, warga setempat rutin menggelar kajian dan khataman Alquran. Kajian rutin dilaksanakan setiap Senin malam di rumah warga yang bersedia. Tradisi itu sudah berjalan selama lima tahun.
Sedangkan, kegiatan khataman Alquran dilakukan setiap minggu di musala-musala di tiap RW. Setiap minggu ada jadwalnya. Sementara, untuk minggu terakhir, seluruh RW akan melaksanakan khataman bersama-sama. Dalam tradisi warga Kemirahan, doa dikirimkan tidak hanya kepada keluarga ahli kubur yang menyerahkan nama. Melainkan, seluruh warga Kemirahan yang telah menghadap sang pencipta juga akan disebutkan namanya.
”Tujuannya, agar selalu mengenal para pendahulu kami,” imbuh Wahyudi. Daftar nama itu telah disusun dalam buku setebal sekitar lima sentimeter, dan dibacakan dari subuh hingga pukul delapan pagi. Selain itu, di Kemirahan dulu (sebelum 2018) juga sempat ada kegiatan bersih desa dengan menggelar wayang kulit. Menurut Wahyudi, itu dilakukan untuk meneruskan Sunan Kalijaga dalam berdakwah. Namun, karena berbagai rintangan, kegiatan itu tidak dilanjutkan lagi. (*/by) Editor : Mardi Sampurno