Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Dua Versi di Balik Asal-usul Nama Koplakan

Mardi Sampurno • Sabtu, 7 Januari 2023 | 03:01 WIB
Photo
Photo
Kompol (Purn) Sugeng Prasetyo merupakan salah satu warga asli Kampung Koplakan. Dia lahir di sana pada tahun 1953. Saat berkarier di kepolisian, dia sempat berpindah-pindah daerah. Setelah pensiun 2014 lalu, dia kembali ke kampung halamannya. Berdasar pengetahuannya, ada beberapa versi di balik penamaan Koplakan. Versi pertama, nama itu berasal dari bentuk awal kawasan permukiman warga di sana. Dulu, dia menyebut bila permukiman warga berbentuk seperti asrama. Ada blok-blok kamarnya

Jarak antar rumah juga disekat. Dulu, di bagian depan rumah warga juga memiliki kandang kerbau dan sapi. Saat Belanda berkuasa, permukiman di sana sempat menjadi tempat penggilingan tepung. Sejumlah literatur dan penelitian menguatkan statement itu. Sebab pabrik peluru PT Pindad dulunya adalah pabrik tepung tapioka.

Pemerintah Belanda menyerahkan pabrik itu kepada pemerintah Indonesia pada 29 April 1950. Diyakini, penghuni Kampung Koplakan, menerima pesanan penggilingan tepung tapioka dari pabrik tersebut. ”Ayah saya datang ke kampung ini tahun 1928. Tahun 1953 saya lahir. Saat kecil, saya masih sempat melihat satu-dua rumah yang masih ada kerbau dan sapi. Nama Koplakan itu muncul karena kawasan ini seperti asrama yang disekat,” papar Sugeng. Bentuk permukiman warga di sana memang memanjang. Ada dua lajur utama deretan rumah warga di Kampung Koplakan. Bagian kampung di sisi barat lah yang dulunya merupakan tempat penggilingan tepung.

Karena itu juga, luas dan ukuran rumah warga rata-rata sama. Sejumlah penelitian menduga, pabrik tepung dan gilingan bertenaga ternak sudah ada di akhir abad 19. Hasil penelitian Amanatus Zuhriah Romadhonia dari UIN Surabaya di tahun 2015 mendukung pernyataan itu. Sehingga, diyakini Kampung Koplakan telah ada sebelum tahun 1900. Muncul juga anggapan bila pemerintah kolonial Belanda membawa bibit peradaban berupa industrialisasi ke Kecamatan Turen. Caranya dengan mempekerjakan masyarakat sekitar ke pabrik tepung tersebut.

Patut diduga pula, Kampung Koplakan termasuk bagian dari ekosistem industri pabrik tepung di Kelurahan Sedayu, Kecamatan Turen. Setelah kemerdekaan, kekuasaan bergeser. Belanda mulai mundur teratur. Pada tahun 1950, pabrik tepung di Sedayu diserahkan kepada pemerintah. Perlahan para penggiling tepung dan ternaknya juga pergi. Penghuninya juga berganti. ”Setelah itu personel tentara menjadi penghuni Kampung Koplakan ini. Sebab, pabrik tepung itu berubah jadi pabrik peluru,” kata Sugeng. Pabrik tapioka kemudian berubah nama menjadi Pabrik Senjata Munisi (PSM). Itu terjadi tahun 1968. Pemerintah kemudian mengubah PSM menjadi PT Pindad (Persero).

Seiring berjalannya waktu, banyak pendatang baru yang masuk kampung Koplakan. Mereka adalah warga yang direkrut sebagai pegawai Pindad. Beranjak dari sana, Kampung Koplakan sempat disebut sebagai Perumahan Karyawan III. Sebab, mayoritas penghuninya adalah para karyawan PT Pindad Persero. Sementara itu, Muslimin, pensiunan ASN Ajendam yang pernah bertugas di PT Pindad menyebut versi lain di balik nama Koplakan. Versi itu menyebut bahwa Koplakan adalah pelesetan dari kata kompleks atau perumahan.

”Kawasan ini kan memang seperti kompleks. Namun, orang Jawa lidahnya sulit bicara kompleks. Jatuhnya jadi Koplakan, dan itu bertahan sampai sekarang,” kata bapak dua anak tersebut. Belum diketahui apakah Kampung Koplakan sudah ada di zaman Hindu Buddha. Sebab, satu-satunya penanda kehidupan zaman kerajaan di Kecamatan Turen adalah prasasti Turriyan. Tahun 1988, peneliti asal Inggris, J G de Casparis berupaya menerjemahkan prasasti itu. Hasil terjemahannya dituangkan dalam buku Where Was Pu Sendok’s Capital Situaded ?”, in South and South-east Asia Archaelogy. Menurut Casparis, prasasti Turriyan menyebut bila Raja Mpu Sindok dari Kerajaan Medang tahun 929 masehi meminta ada pembangunan tempat ibadah umat Hindu Buddha.

Dia memerintahkan pendeta bernama Ndang Empu Satya untuk mewujudkan pembangunan itu. Ndang Empu Satya pun datang ke wilayah Turen. Dari sana lah ada dugaan bila peradaban masyarakat sudah tertata sejak lama. Belum ditemukan bukti sejarah yang memuat adanya permukiman di atas kawasan bernama Koplakan. Namun, legenda lokal menyebut adanya tokoh pembabat alas di Kelurahan Sedayu. Nama tokoh legenda itu adalah Mbah Surgi Mangunrono.

Sejumlah sumber menyebut dia adalah petualang sakti dengan kuda sembrani atau kuda terbang bernama Kolomercu. Nama Sedayu diambil dari gabungan dua kata. Yakni, Sedah dan Ayu. Sedah adalah nama daun sirih. Pada zaman dahulu, diyakini kawasan Sedayu banyak ditumbuhi sirih. Saat Mbah Surgi Mangunrono tiba di daerah Sedayu, dia melihat banyak tanaman sedah atau daun sirih. Tanaman itu tumbuh subur dan membuat kawasan itu lebih hijau. Dari sana lah nama kawasan itu menjadi Sedayu. (*/by) Editor : Mardi Sampurno
#Kota Malang #radar malang #Asal-usul Nama Koplakan #Dua Versi di Balik Asal-usul Nama Koplakan