Daya dengan total 160 ribu kWh terintegrasi dengan sistem dengan Gedung A-19 secara keseluruhan memakai sistem on grid. Namun daya sebanyak 40 kWh difokuskan untuk men-cover lantai tiga Gedung A-19 dengan sistem off grid. ”Kami pakai sistem off grid di lantai tiga karena di sana beban daya listrik tidak terlalu tinggi. Selain itu, di sana juga ada ruang seminar. Sehingga ketika ada kendala kelistrikan PLN, maka kegiatan seminar bisa terus berjalan,” urai dia.
Dengan daya yang dihasilkan itu, UM mampu melakukan penghematan konsumsi listrik sebanyak 15 persen. Bila dirupiahkan, ada penghematan sekitar Rp 10 juta sampai Rp 15 juta per bulan. Sementara itu, kelebihan lain yang dihasilkan oleh Smart PLTS yaitu adanya kemudahan melakukan pengecekan. Sebab PLTS diusung dengan sistem IoT, yang bisa dilakukan pengecekan kapan pun dan di mana pun dengan internet. ”Di samping itu juga semakin membawa UM ke arah green campus karena menerapkan energi baru terbarukan,” seru dia.
Rencananya, dengan melihat kesuksesan pembangunan PLTS itu, UM akan melebarkan sayap ke Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK). Lantaran menurut Dosen Fisika UM itu, FIK saat ini sudah siap menerima pembangunan PLTS di wilayahnya. ”Dan juga ada space yang kami nilai cukup untuk dibangun PLTS di sana,” bebernya. (fif/by) Editor : Mardi Sampurno