Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Kota Malang Meifta Eti Winindar memaparkan, kelompok yang paling banyak terpapar adalah laki suka laki atau gay. Jumlahnya mencapai 168 orang atau 34,9 persen dari 481 orang yang positif HIV/Aids. ”Sementara sampai akhir 2022 lalu ada 1.765 orang yang berobat," terang Meifta.
Untuk melakukan pencegahan, dinkes meluncurkan distribusi paket pencegahan kepada populasi kunci yang melakukan seks berisiko. Dinkes juga memperluas dukungan dan layanan pengobatan untuk masyarakat.
"Awalnya ada tujuh layanan, kini menjadi 16 layanan. Kami juga koordinasi dengan organisasi masyarakat peduli HIV/Aids," terangnya. Cara lain yang digencarkan yakni sosialisasi kepada siswa SMA/SMK melalui program UKS.
Sementara itu, Aktivis Jaringan Indonesia Positif Rika Wanda mendorong edukasi tentang HIV/Aids masuk dalam kurikulum pendidikan di Kota Malang. ”Selama ini edukasi hanya sebatas sosialisasi seperti seminar di sekolah,” ujar Rika.
Dia mendorong Pemkot Malang serius melaksanakan program pencegahan HIV/Aids. Selama ini, kata Rika, sosialisasi hanya memberi materi dasar yang selalu diulang-ulang. Menurutnya hal itu kurang efektif, sehingga dia menyarankan materi pencegahan HIV/Aids masuk dalam kurikulum pendidikan saja.
”Itu lebih baik daripada harus mengeluarkan banyak biaya untuk menggelar sosialisasi yang materinya sangat mendasar dan diulang-ulang terus," kata Rika.
Meski demikian, menurut dia, perawatan terhadap ODHA di Kota Malang sudah baik. Hal yang perlu disempurnakan adalah pencegahannya. Juga sosialisasi kepada masyarakat agar tidak mengucilkan ODHA.
Pengamatan Rika, masih banyak warga Kota Malang yang kaget saat mendengar atau terpapar HIV/AIDS. "Padahal ketika pengobatan, tidak ada bedanya dengan diabetes maupun jantung. Memang butuh dukungan psikososial," tandasnya. (adk/dan) Editor : Mahmudan