Mengenakan kostum serba hitam, mereka berkumpul di bundaran jalan tugu sekitar pukul 17.00. Ada lima tuntutan yang disuarakan. Salah satunya, menolak renovasi Stadion Kanjuruhan di Kepanjen, Kabupaten Malang. Alasan penolakan karena stadion tersebut sekaligus jadi momentum peringatan meninggalnya 135 aremania.
Usai membacakan tuntutan, massa aksi berjalan mengelilingi Alun-alun Tugu sembari membawa sejumlah poster. Seperti poster bertuliskan 'Masih Adakah Keadilan?' hingga 'Kami Ini Anak Bangsamu! Tapi Kenapa Kau Paksa Untuk Lumpuh?'.
Salah seorang keluarga korban Kanjuruhan, Bambang Lesmono memaparkan, pihak keluarga korban akan tetap bersatu menuntut keadilan. "Apa pun yang terjadi, kami akan terus teguh,” kata Bambang.
Dalam Tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022 lalu, Bambang kehilangan seorang anak yang bernama Putri Lestari. Karena itu, pria asal Turen, Kabupaten Malang tersebut akan berupaya menggugah kesadaran aparat dan pejabat bersama keluarga korban lainnya.
”Ini merupakan langkah awal keluarga korban untuk menggugah pejabat yang ”tidur”. Kami ingin keadilan yang setuntas-tuntasnya," lanjut dia.
Sementara itu, perwakilan Koalisi Solidaritas Masyarakat Sipil Daniel Siagian yang tergabung dalam Aksi Kamisan mengatakan, tragedi Kanjuruhan tak hanya menghilangkan nyawa 135 Aremania. Tapi juga ada korban-korban lain seperti perempuan dan anak-anak di bawah umur yang tidak tercatat. "Sebagai contoh, ada 624 orang korban luka-luka dan 43 anak di bawah umur. Melalui aksi ini, kami ingin menggerakkan solidaritas publik untuk memenuhi keadilan," pungkas Daniel. (mel/dan) Editor : Mahmudan