MALANG KOTA - Elpiji ukuran 3 kilogram atau melon kini sulit dicari. Sebagian warga Kota Malang bahkan rela antre di beberapa agen bahkan pedagang eceran untuk mendapatkan tabung Elpiji. Padahal, stok hingga distribusi barang diklaim Pertamina aman.
Meski demikian, Pertamina bakal menambah stok Elpiji melon. Setidaknya 76 ribu tabung gas bakal didistribusikan ke agen maupun subagen Pertamina.
”Memang ada peningkatan permintaan, penambahan diambil dari persediaan barang sebanyak 8,7 juta tabung,” kata Area Manager Comm, Relations, and CSR Pertamina Patra Niaga Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus) Ahad Rahedi, kemarin.
Ahad menyarankan masyarakat bisa membeli Elpiji melon kepada toko yang tercatat sebagai pangkalan resmi dari Pertamina. Pasalnya sejak bulan Maret lalu, pangkalan Elpiji difungsikan sebagai lembaga penyalur tingkat akhir dari Pertamina.
”Tujuannya supaya warga yang berhak mendapatkan Elpiji melon mendapatkan harga yang sesuai karena kalau di pengecer tidak bisa mengontrol harganya,” jelasnya.
Adanya penambahan stok tabung Elpiji melon itu memang jadi kabar baik. Sebab beberapa waktu lalu Wali Kota Malang Sutiaji meminta secara khusus ke Pertamina Patra Niaga Malang untuk menambah stok.
”Alhamdulillah baru minggu ini ada tambahan. Dulu kami dijanjikan tambahan 38 ribu tabung tapi ternyata ditambah lagi jadi 76 ribu," jelasnya.
Setelah kuota ditambah, Sutiaji meminta kepada perangkat daerah (PD) untuk mengawasi distribusi barang. Dia menegaskan tidak boleh ada satu individu atau rumah tangga yang memborong Elpiji melon.
Kemudian distribusi Elpiji subsidi itu harus tetap sasaran. Bagi warga yang akan membeli harus terverifikasi dan merupakan keluarga penerima manfaat (KPM).
”Untuk itu saya sudah meminta Diskopindag (dinas koperasi, perindustrian, dan perdagangan) dan bagian pisda (perekonomian, infrastruktur, dan SDA) untuk mengawasi distribusi hingga ke pedagang eceran," tegas Sutiaji.
Menanggapi hal itu, Ketua DPRD Kota Malang I Made Riandiana Kartika menyarankan pemkot bisa menyelesaikan masalah kelangkaan Elpiji. Menurutnya, kelangkaan barang timbul karena ada beberapa momen hari besar yang terjadi secara hampir bersamaan.
”Saat ini masuk momen maba (mahasiswa baru) kemudian sebagai kota kuliner memang membutuhkan Elpiji yang banyak, ke depan ada peringatan hari kemerdekaan juga harus diantisipasi," tutur Made.
Politisi PDI-Perjuangan itu menambahkan jika perlu Pemkot Malang bisa menggunakan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk menangani kelangkaan Elpiji. Yakni dengan menggelar operasi pasar yang melibatkan Diskopindag dan Perumda Tugu Aneka Usaha (Tunas).
”Selain itu harus kerja sama dengan kepolisian, untuk mengawasi pihak yang menimbun LPG subsidi," pungkas Made. (adk/adn)
Editor : Aditya Novrian