Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Batu Tulis Kuno di Malang raya, Kondisi Terkini dan Cerita yang Menyertainya (3)

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Sabtu, 5 Agustus 2023 | 20:00 WIB
Prasasti Kanuruhan di Museum Mpu Purwa.
Prasasti Kanuruhan di Museum Mpu Purwa.
Prasasti Kanuruhan Kisahkan Dua Tanaman untuk Upacara

Masih ada prasasti lain yang hingga kini tersimpan di Museum Mpu Purwa, yakni Prasasti
Kanuruhan. Meski bagian atasnya sudah rusak, isinya bisa terbaca. Prasasti itu memuat soal tanaman
.

KALAU bertandang ke Museum Mpu Purwa, pengunjung pasti diarahkan menuju ruang pamer lantai satu. Di sana terdapat kumpulan arca dan prasasti yang sudah tertata rapi pada beberapa rak berbentuk persegi panjang. Salah satunya arca Dewa Hindu yang memiliki
kepala gajah, Ganesya. Arca Ganesya memiliki dimensi panjang 101,5 sentimeter, lebar 74 sentimeter, dan tinggi 109,5 sentimeter.

Arca tersebut berada di atas fondasi berbentuk teratai ganda. Di punggung arca terdapat prasasti yang dikenal dengan Prasasti Kanuruhan. Jika diamati dengan saksama, maka tulisan pada prasasti itu yang menggunakan aksara Jawa kuno itu sebenarnya memiliki tingkat keterbacaan hampir 100 persen.

Sayang, isinya tidak lengkap karena bagian atas prasasti yang menyatu dengan kepala arca hilang. Saat ini, arca hanya tersisa berupa separo bagian ke bawah. Beberapa bagian lain juga tidak lagi utuh. Seperti tangan kanan yang patah dan tiga tangan lainnya menghilang.

Berdasar beberapa kajian, Arca Ganesya beserta prasasti ditemukan di sisi telaga tak jauh dari Gereja Kristen Advent. Gereja itu dulu berada di sebelah timur Kantor Kelurahan Bunulrejo, Kecamatan Blimbing. Tepatnya di Kampung Beji Gang Buntu. Beji sendiri memiliki arti telaga.

Cerita dari generasi ke generasi menyebutkan bahwa Arca Ganesya memang sudah tidak
utuh sejak lama. Lalu pada 1978, arca dibawa ke Kantor Dinas Pekerjaan Umum di Jalan Halmahera oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang. Entah mengapa, arca kemudian dipindah ke Taman Senaputra.

Arkeolog Universitas Negeri Malang (UM) Ismail Luthfi menilai pemindahan Arca Ganesya ke Taman Senaputra membuatnya semakin tidak terawat. Sebab, taman tersebut kerap dilintasi pengendara motor, sehingga rawan terkena benturan. Karena itu dia sempat membawa arca ke Rumah Makan Cahyaningrat di Jalan Soekarno­Hatta untuk dirawat.

Baru pada 2003, arca disimpan di Museum Mpu Purwa. Dalam disertasi tahun 1994 milik Edi Sedyawati, Prasasti Kanuruhan pernah dibaca oleh Kepala Lembaga Arkeologi FSUI Prof M. Boechari. Dari pembacaan tersebut, Prasasti Kanuruhan ternyata berisi tentang pemberian sebagian tanah di desa atau wanua.

Yang memberikan tanah adalah Rakryan (bangsawan) Kanuruhan bernama Dyah Mungpang kepada Bulul yang merupakan penduduk desa. Belum diketahui alasan Dyah Mungpang memberi tanah kepada Bulul. Tapi diduga karena jasa Bulul dalam menjaga keamanan dan cintanya terhadap lingkungan.

Untuk membuktikan rasa cintanya, Bulul membuat telaga yang dilengkapi taman bunga. Isi prasasti yang bercerita mengenai taman bunga buatan Bulul itu berbunyi,Tan watak kanuruhan paknanya desaŋ bulul tanammana puspadala mula kambaŋ. rowańa nikanaŋ ya śapa….”.

Artinya, tan wilayah Kanuruhan diperuntukkan bagi sang bulul guna menanam bunga­-bunga
sebagai taman bunga, diiringi oleh siapa pun. Ismail Luthfi juga pernah membaca Prasasti Kanuruhan. Menurut dia, isi lain prasasti adalah mengenai tanaman yang digunakan
untuk upacara. Yakni tanaman bernama
puspadala.

Bentuknya menyerupai teratai. Ada juga tanaman mulakambuang yang mirip seroja.
”Tapi sampai sekarang belum jelas upacara apa yang dimaksud dan bagaimana prosesisnya,” terangnya. Yang jelas, lanjut Luthfi, kedua tanaman itu biasanya ada dalam upacara keagamaan pada masa Hindu atau Buddha.

Kalau di India, upacara tersebut digunakan untuk pemujaan terhadap Dewa Yadnya. Sampai sekarang Luthfi belum menemukan bentuk pasti dari puspadala. Apakah menyerupai tanaman teratai berwarna biru, merah, atau putih. ”Demikian pula yang mulakambuang, apakah seperti seroja berwarna merah atau putih. Tapi di Indonesia seluruh tanaman itu ada,” imbuhnya.

Luthfi memiliki analisis bahwa dahulu di Kelurahan Bunulrejo terdapat taman. Persisnya di Makam Mbah Bejisari yang berkaitan dengan Prasasti Kanuruhan. ”Bahkan, saya rasa motto Malang Ijo Royo-Royo terinspirasi dari Prasasti Kanuruhan karena punya makna tanaman,”
pungkasnya.
(mel/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#museum mpu purwa #prasasti kanuruhan