Selain menyalurkan hobi, komunitas Game Developer Malang (GDM) juga punya kegiatan mulia. Yakni berupaya mengenalkan Kota Malang di tingkat internasional. Bagaimana caranya?
SALAH satu ruang di lantai tiga gedung Malang Creative Center (MCC) dipenuhi anak-anak muda. Mereka bergantian maju ke depan untuk menceritakan pengalamannya selama mengikuti pameran, baik tingkat nasional maupun internasional.
Puluhan remaja tersebut merupakan anggota komunitas Game Developer Malang (GDM). Terdiri atas producer, director, designer, programmer, artist (animator, pembuat desain 2D dan 3D), sound engineer dan juga script writer. Beberapa di antara mereka masih berstatus mahasiswa, tapi ada juga yang sudah lulus dan bekerja.
Memang menjadi pembuat aplikasi game dapat bekerja dari mana saja. Karena itu mereka rutin menggelar gathering. ”Tujuannya agar bisa saling bertukar pengalaman di antara sesama anggota komunitas GDM,” ujar ketua komunitas GDM Adib Thoriq, Kamis lalu (26/10).
Adib berdiri paling depan untuk memimpin acara berbagi pengalaman tersebut. Pria yang berdomisili di Kota Batu tersebut juga baru saja mengikuti pameran di Bali, Singapura dan Jerman.
Pameran menjadi satu tahap penting bagi para pencipta game. Salah satu manfaat yang paling mencolok dari pameran adalah, mereka punya kesempatan untuk mengenalkan game buatannya, sehingga berpotensi dilirik publisher dari berbagai penjuru dunia. Jika pembuat game merupakan perusahaan yang fokus pada pembuatan game, maka publisher membantu untuk memasarkan atau merilis game tersebut di beberapa platform game.
Selama empat hari mengikuti event Gamescom Asia di Singapura, Adib mengatakan, setidaknya ada 100 orang yang berkunjung ke booth mereka dalam sehari. "Ketika kami menjelaskan bahwa kami datang dari Malang, 95 persen mereka tidak tahu apa dan di mana Kota Malang," kata Adib.
Saat dia menjelaskan mengenai Malang, kata Adib, banyak sekali publisher yang penasaran dan mengaku ingin mengunjungi Malang. Terlebih saat tahu banyaknya pencipta game dari Malang. "Banyak di antara mereka yang tertarik menggelar acara di Malang," imbuh Adib.
Namun dia belum bisa menjelaskan dengan rinci ketika ditanya mengenai studio-studio game dan para pencipta game di Malang. Untuk itu, dia kembali mendata para anggota GDM. Tujuannya agar lebih mudah mengenalkan karya mereka kepada para publisher. Seperti visi awal GDM dibentuk, yakni menampung para pencipta game dari Bumi Arema.
Dia mengatakan, banyaknya kampus di Malang menjadi potensi besar Malang sebagai pool talent game. "Di Malang, kalau tidak salah ada enam sampai tujuh studio game yang sudah dapat publisher," imbuh Adib.
Sehingga dengan adanya GDM, lanjutnya, para pencipta game yang memiliki pengalaman menggandeng publisher dapat menarik developer lain dengan cara membagikan pengalaman-pengalamannya.
Karena itu, dia yakin bahwa game sangat efektif untuk mengenalkan tentang Malang di mancanegara. "Kami tidak perlu membuat game tentang apel. Cukup kita buat game di akhir game di-credit "Game Developer Malang,". Orang pasti akan penasaran dengan Malang," terangnya. (dur/dan)
Editor : Mahmudan