Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Mengulik Aktivitas Komunitas Akar Tuli di Kota Malang

Mahmudan • Sabtu, 16 Desember 2023 | 03:29 WIB

 

SOSIALISASI: Seorang anggota komunitas memperhatikan warga yang berkomunikasi melalui gerakan jari.
SOSIALISASI: Seorang anggota komunitas memperhatikan warga yang berkomunikasi melalui gerakan jari.

 

Setiap Minggu pagi, komunitas Akar Tuli menggelar kegiatan di Car Free Day (CFD) Jalan Ijen, Kota Malang. Tujuannya untuk membangun kesadaran disabilitas di kalangan masyarakat.

 

PULUHAN anak muda bergerombol di sisi utara panggung Car Free Day (CFD), Jalan Ijen, Minggu lalu. Mereka saling berkomunikasi, namun suasana hening. Tidak ada suara. Tangan mereka bergerak mengisyaratkan huruf, angka, dan kata-kata disertai gerakan bibir yang membantu agar isyarat tersebut terbaca.

Di samping mereka, terpampang poster-poster ajakan untuk belajar bahasa isyarat juga. Dengan senyum ramah, mereka mengatakan “Halo…” dengan isyarat lambaian tangan kanan. Mereka merupakan anak-anak muda yang tergabung dalam Komunitas Akar Tuli.

Seluruh anggotanya merupakan penyandang tunarungu yang sebagian besar merupakan mahasiswa. Para penyandang tunarungu tersebut biasa disebut teman- teman tuli. Beberapa volunteer atau sukarelawan yang tergabung dalam Juru Bahasa Isyarat (JBI) membantu menerjemahkan isyarat tersebut dengan kata-kata. Karena JBI terdiri atas teman-teman dengar (sebutan bagi orang tidak tuli).

Kegiatan tersebut merupakan salah satu agenda rutin yang dilakukan oleh komunitas Akar Tuli setiap hari minggu pagi. “Yang diajarkan di sini Bisindo dasar, yakni huruf-huruf,” tutur Wakil Ketua Akar Tuli Jams Hansen menggunakan bahasa isyarat.

Dia menjelaskan, terdapat dua jenis bahasa isyarat yang digunakan teman-teman tuli. Yakni Bisindo (Bahasa Isyarat Indonesia) dan Sibi (Sistem Bahasa Isyarat Indonesia). Meski sama-sama bahasa isyarat, Bisindo dan Sibi memiliki perbedaan yang jauh. Bisindo lebih banyak menggunakan dua tangan, sedangkan Sibi hanya satu tangan.

Hans mencontohkan untuk mengisyaratkan huruf A dalam Bisindo menggunakan kedua jari jempol dan telunjuk hingga membentuk segitiga. Sementara dalam Sibi cukup mengepalkan tangan kanan dengan jempol berada tegak di samping jari telunjuk.

Sibi menjadi bahasa isyarat yang ditetapkan pemerintah dan diajarkan di Sekolah Luar Biasa (SLB). Sedangkan Bisindo merupakan bahasa yang lahir secara alami dari teman-teman tuli.

Kegiatan Belajar Bisindo di CFD tersebut dilakukan langsung oleh teman-teman tuli, dengan bantuan papan yang tertulis abjad A-Z, mereka memperagakan satu per satu abjad dan meminta teman-teman dengar untuk menirukan. Setelah selesai semua abjad, peserta belajar diminta menyebutkan nama dengan huruf isyarat yang sudah dipraktikkan sebelumnya.

Tidak mudah bagi teman tuli untuk mengajarkan bahasa isyarat tersebut kepada teman dengar. “Karena saat menggunakan bahasa isyarat, mulut harus tetap diam agar tetap fokus pada bahasa isyarat, tapi mereka sulit menutup mulut (tidak mengatakannya dalam bahasa suara),” terang Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi UB tersebut.

Dengan kegiatan tersebut, mereka berharap dapat membangun kesadaran disabilitas pada masyarakat. “Supaya komunikasi lancar dan bisa saling nyaman saat ngobrol,” tuturnya.

Melihat antusias masyarakat untuk belajar bahasa isyarat, kegiatan tersebut akan terus digelar. Namun karena mayoritas anggota Akar Tuli merupakan mahasiswa dari luar kota, selama libur natal dan tahun baru (Nataru) akan banyak yang pulang kampung. Sehingga kata Hans akan dilanjutkan pada Februari 2024 depan. (dur/dan)

Editor : Mahmudan
#disabilitas #Kota Malang #komunitas