KOMUNITAS Akar Tuli terbentuk pada 13 September 2013. Awalnya mereka merupakan perkumpulan mahasiswa tuli yang kuliah di Universitas Brawijaya (UB). Lantaran sering berkumpul, akhirnya mereka sepakat untuk membentuk komunitas sebagai wadah bagi para teman tuli belajar dan sharing bersama. Kini, anggota akar tuli tidak hanya mahasiswa UB, tetapi juga dari perguruan tinggi lain di Kota Malang.
Wakil Ketua Komunitas Akar Tuli Jams Hansen mengatakan, periode kepengurusan berganti setiap 1 atau 2 tahun. “Tujuan dibentuknya untuk membuka kesempatan teman tuli (sebutan untuk penyandang tunarungu) berkarya,” tuturnya.
Selain itu, dia melanjutkan, juga untuk menyosialisasikan bahas isyarat sebagai bahasa komunikasi utama. ”Juga untuk memperjuangkan kesetaraan teman tuli dan dengar,” tambahnya.
Menurut Hans, saat ini sudah banyak masyarakat yang memiliki kesadaran untuk belajar bahasa tuli. Karena itu, pihaknya akan terus menggencarkan sosialisasi bahasa isyarat. Hans sendiri mengaku cukup kesulitan dalam berkomunikasi sehari-hari dengan orang-orang yang tidak mengalami keterbatasan dalam mendengar, “Tapi gak papa, ada alternatif lain dengan menulis atau mengetik di notes,” imbuhnya. Meskipun itu cukup ribet namun hanya itulah solusi berkomunikasi dengan orang yang belum bisa bahasa isyarat.
Dia menegaskan, kesetaraan juga terus diperjuangkan, karena tidak jarang teman-teman tuli mendapatkan diskriminasi. “Sebenarnya saya tidak terlalu peduli, karena biasanya yang mendiskriminasi difabel itu awam tentang dunia kami (disabilitas dan tuli),” kata Hans. Untuk itu, Hans mengatakan, komunitas Akar tuli terus membuat kegiatan mengenai bahasa isyarat maupun diskusi-diskusi lain. (dur/dan)
Editor : Mahmudan