Selain menggambar sketsa, komunitas teras gambar juga belajar menerima pandangan yang berbeda. Fokusnya membentuk seniman profesional sekaligus menerima perubahan.
BEBERAPA pemuda berkumpul di salah satu kedai kopi di Jalan Pandanrejo, Kecamatan Wagir Kabupaten Malang, Jumat lalu (15/3). Mereka adalah anggota komunitas teras gambar. “Masing-masing menggambar satu benda,” perintah salah satu anggota komunitas Rizki Agung.
Mereka kemudian sibuk menggoreskan pensil di atas kertas AP yang ada di pangkuan masing-masing. Ada yang menggambar gunting, fonograf, hingga tengkorak.
Sesekali mereka bergurau, kemudian melanjutkan gambarnya. Setelah gambar selesai, Agung kembali menginstruksikan untuk menuliskan satu kata di dalam gambar tersebut. Dia menyebutkan bahwa materi pertemuan tersebut adalah lettering. Yakni seni menulis indah dengan mempercantik tampilan huruf. Sehingga anggota fokus pada menggambar kata-kata hari itu. “Pertemuan sebelumnya juga sudah dibahas teknik-teknik lettering, sehingga sekarang tinggal meneruskannya,” ungkapnya.
Komunitas Teras Gambar tersebut memiliki kegiatan yang beraneka ragam. Mulai dari belajar kolase, painting, menggambar komik, doodle, hingga lettering. Pengisi materi juga merupakan anggota komunitas yang sudah memiliki keahlian di bidang tersebut. Seperti Agung yang banyak menggeluti bidang lettering seperti graffiti dan mural.
Dia sering mendapat permintaan untuk menggambar mural di kafe hingga sekolah. Meski saat ini sudah banyak aplikasi maupun teknologi membuat lettering dengan sangat mudah, namun menurutnya dasar pembuatan font lettering dalam aplikasi tersebut juga dari kemampuan menggambar manual, lalu diubah ke digitalisasi.
Materi di Teras Gambar tersebut tidak terlalu serius. Hanya mempelajari dasar-dasar seperti penataan huruf dengan gambar saja. “Tak terlalu mementingkan anatomi huruf,” kata Agung.
Pertemuan rutin yang digelar setiap Jumat tersebut boleh diikuti siapa pun, termasuk bukan anggota Teras Gambar. “Biasanya ada 10 sampai 15 orang peserta,” kata dia.
Komunitas tersebut juga membebaskan anggotanya untuk mengeksplorasi teknik gambar yang disukai, sehingga tidak menekankan para anggota untuk harus bisa.
Komunitas Teras Gambar terbentuk pada 2021 lalu. Berawal dari perkumpulan peminat seni gambar dari kecamatan Wagir di salah satu komunitas di Kota Malang. Setelah menyadari ada banyak anggota yang berasal dari Wagir, akhirnya mereka membentuk komunitas sendiri yang berpusat di Wagir. Namun yang berminat belajar melalui komunitas tersebut tidak dari Wagir, melainkan dari beberapa kecamatan di Kota Malang, seperti Sukun dan Kedungkandang.
Setelah Gambar Lettering setengah jadi, kemudian ditukarkan dengan cara diputar bergantian pada setiap anggota. Kemudian anggota lain bebas meneruskan gambar temannya tersebut. Ketika sudah jadi sketsa, gambar tersebut kemudian dikembalikan ke pemilik asal.
Anggota Teras Gambar yang lain, Fajar Gusmy mengatakan, hal tersebut dilakukan agar anggota belajar menerima kehadiran orang lain. Karena menurutnya banyak sekali seniman yang terpaku pada karya yang orisinal. Sementara di Teras Gambar mereka belajar menerima perubahan sketsa gambar dari orang lain. “Perubahan itu diterima untuk kemudian disikapi,” tuturnya.
Kegiatan tersebut terbuka untuk umum. Anggotanya juga mulai dari anak-anak usia SD hingga dewasa. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari guru maupun desainer grafis.(dur/dan)
Editor : Mahmudan