MALANG KOTA – Industri tekstil di Kota dan Kabupaten Malang kembali mengalami pertumbuhan setelah pandemi Covid-19 berakhir.
Sebagian memang mulai terdampak gempuran produk impor yang makin mudah masuk ke dalam negeri.
Mau tidak mau, mereka harus meningkatkan kualitas produk dan membuat terobosan dalam hal penjualan.
Sejak 2022 hingga 2024, di Kota Malang terdapat 212 industri baru di bidang tekstil.
Hingga Oktober 2024, nilai investasi yang masuk ke Kota Malang dari sektor tersebut mencapai Rp 62,82 miliar.
Tumbuh sekitar 45 persen selama dua tahun terakhir.
“Artinya, minat investor dan pengusaha lokal masih tinggi untuk berinvestasi di sektor tekstil,” tutur Kepala Bidang Industri Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang Dian Likos.
Dia menjelaskan, secara keseluruhan terdapat 473 industri tekstil di Kota Malang.
Mulai dari industri kecil, menengah, hingga besar.
Meski mengalami pertumbuhan, para pelaku industri tekstil menghadapi tantangan serius akibat impor tekstil yang semakin masif.
Banyak pelaku industri tekstil yang merasakan dampak langsung dari masuknya produk impor dengan harga lebih murah.
Karena itu, mereka berharap ada kebijakan dari pemerintah pusat maupun daerah yang mendukung industri tekstil lokal.
Seperti penguatan regulasi terkait kualitas produk impor, serta upaya untuk meningkatkan daya saing produk lokal.
”Kami berharap ada dukungan lebih dari pemerintah untuk memastikan industri tekstil lokal dapat terus berkembang meski ada tekanan dari produk impor,” kata salah satu pelaku industri tekstil di Kota Malang, Asrul Tsani.
Terlebih saat ini ada rencana kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 12 persen tahun depan.
Apabila itu jadi dilakukan, Asrul menilai akan semakin memukul para pelaku usaha.
Saat ini, pengusaha konveksi yang memproduksi jaket safety itu mengaku terus meningkatkan kualitas produknya.
Baik dari segi bahan maupun inovasi desain.
Dia juga melakukan promosi yang masif secara online.
”Kalau untuk bahan, saya tidak kesulitan meski sebagian besar dari luar Kota Malang”.
Hal senada diungkapkan Communication Manager Emba Group Mia Wu.
Pihaknya harus banyak beradaptasi dan meningkatkan daya saing dengan produk-produk impor.
“Kita coba meningkatkan daya saing dengan kolaborasi dengan desainer terkenal, kita juga selalu update tren-tren terbaru” tuturnya.
Dia juga berusaha berkolaborasi dengan beberapa pihak ketiga untuk pengadaan untuk mendapatkan harga bahan yang masih terjangkau.
Hal itu penting agar harga produk tetap stabil dan terjangkau di masyarakat.
Menurutnya pemerintah harus turut berperan agar industri tekstil lokal dapat bertahan di tengah gejolak impor ini.
“Karena kami sendiri menyerap karyawan sekitar 800 pekerja,” tuturnya.
11 Perusahaan Tambah Investasi Pertumbuhan investasi industri tekstil juga terjadi di Kabupaten Malang.
Sepanjang tahun lalu nilainya mencapai Rp 63,49 miliar.
Padahal, pada 2022 tidak ada pelaporan penambahan investasi dari perusahaan tekstil.
Karena pada saat itu, perusahaan masih berusaha bangkit akibat pandemi Covid-19.
Analis Kebijakan Ahli Madya Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Malang Endah Dwi Suhesti menyebutkan, nilai investasi itu hanya dari perusahaan yang mengisi Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM).
Sedangkan perusahaan yang tidak mengisi LKPM, pertambahan investasinya tidak tercatat.
Baca Juga: Digempur Impor, Peminat Kain Tekstil Masih Tinggi
”Perusahaan yang wajib mengisi LKPM itu investasinya di atas Rp 5 miliar,” kata Endah.
Dari 11 perusahaan yang melaporkan penambahan investasi pada 2023, tiga di antaranya lebih dari Rp 5 miliar.
Seperti Aumireta Anggun, Unggul Putra Samudra, dan Eka Putra Samudra.
Sementara, sisanya memiliki penambahan investasi kurang dari Rp 5 miliar.
Pemkab Malang juga belum menerima keluhan industri tekstil setelah pemberlakuan (Permedag) Nomor 8 Tahun 2024 yang mempermudah impor pakaian jadi.
Mereka melihat masyarakat Kabupaten Malang pun masih bergantung pada produk lokal.
Belum banyak membeli produk tekstil pakaian impor.
“Untuk bahan-bahannya memang ada yang impor. Tetapi itu karena bahannya tidak ditemukan di Indonesia. Namun, sebagian besar bahan, seperti kain, itu masih produk lokal,” ucap Kepala Bidang Industri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Malang Indra Anggaraeni.
Dia menambahkan, secara kualitas produk lokal Kabupaten Malang masih bisa bersaing.
Beberapa konsumen memilih produk impor dengan pertimbangan gengsi.
Itu tidak banyak terjadi di Kabupaten Malang.
Mayoritas lebih memilih produk lokal yang harganya terjangkau.
Tak Signifikan di Batu Sedikit berbeda, industri tekstil tak banyak berpengaruh pada capaian investasi Kota Batu.
Peningkatan investasi didominasi oleh sektor pariwisata.
Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Batu Dyah Lies Tina.
Dia menjelaskan, investasi tekstil masuk dalam sektor industri.
Di kota batu, sumbangan investasi sektor industri terbilang kecil.
”Bahkan realisasi investasinya hanya berkisar 0,01 persen,” ujarnya.
Itu karena kebanyakan industri dimiliki oleh perseorangan.
Sehingga nilai investasinya tidak terlalu besar.
Yang berbentuk CV diperkirakan menyumbang investasi sekitar Rp 100 juta per tahun.
Sementara perseorangan masih di bawah Rp 5 juta.
Pembina Komunitas Satuasa Batu Armand Januar mengatakan, produksi industri tekstil sudah tak sebesar dulu.
Terlebih, bahan produksi banyak diambil dari luar daerah.
Seperti Kota Malang, Bandung, dan Surabaya.
Beberapa tahun terakhir industri kaus di Kota Batu juga makin lesu.
Bahkan banyak industri konveksi kaus yang akhirnya beralih menyablon saja.
Padahal sebelumnya melakukan produksi mulai penjahitan kain.
Itu lantaran para pelaku industri tak ingin ambil risiko.
Terlebih, biaya produksi juga semakin mahal.
“Bahan baku juga sulit dicari, harus dari luar kota,” paparnya.
Pada saat yang sama, permintaan pasar kian lama kian merosot.
Produsen lokal kaus wisata yang dulu menjadi andalan Kota Batu kini juga harus bersaing dengan pihak luar.
Beberapa perusahaan milik investor asing sudah jarang yang memanfaatkan vendor lokal.
Termasuk tempattempat wisata besar yang menjadi jujukan wisatawan.
Pemilik Dewi Sartika Convection, Gresia Dewi, mengaku usahanya sempat mandek saat pandemi Covid-19.
Saat itu dia masih fokus memproduksi pakaian seragam.
Tak kehabisan ide, dia banting setir untuk produksi masker atau APD.
Setelah pandemi mereda, dia kembali memproduksi seragam sekolah.
Namun, dia mulai merasakan tekanan dari produk-produk impor.
”Terutama soal harga. Memang lumayan kebanting,” tuturnya.
Keluhan lain yang dirasakan Gres adalah sulitnya mencari bahan baku dengan kualitas yang bagus.
Terutama setelah ditutupnya PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) lalu.
Dia mengaku kewalahan untuk mencari bahan produksi dengan kualitas serupa. (dur/yun/ori/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana