MALANG KOTA- Berbagai macam kostum dan properti bernuansa sejarah Bangsa Indonesia ditampilkan pada Pawai Budaya Kelurahan Tlogomas kemarin (23/2).
Mulai dari zaman kerajaan hingga perjuangan merebut kemerdekaan.
Salah satu yang menarik perhatian adalah teatrikal penjajahan Jepang yang ditampilkan warga RW 03.
Teatrikal itu disajikan dalam empat babak.
Yakni pada saat pemberlakuan romusha dengan menampilkan properti kereta api seukuran kereta asli yang berjalan di atas rel.
Rel yang terbuat dari bekas baki telur tersebut ditata langsung sepanjang pawai.
Peserta pawai juga memakai baju yang compang camping dan badan yang diberi efek luka, menggambarkan kekejaman kerja paksa saat itu.
Babak berikutnya menampilkan tentara Jepang yang memberikan hukuman keji pada penduduk pribumi.
Mulai dari kaki yang dirantai dan dicambuk hingga hukuman gantung.
Selain itu juga ditampilkan kisah penjajah Jepang melakukan penebangan hutan secara besar-besaran dengan replika kayu raksasa yang diangkut dalam pawai.
Sedangkan babak terakhir menampilkan perlawanan masyarakat pribumi terhadap Jepang dengan adegan peperangan.
Ketua RW 03 Kelurahan Tlogomas Sururi menyebutkan, konsep teatrikal penjajahan Jepang tersebut diberikan oleh panitia dari kelurahan.
Kemudian warga RW 03 bersama 4 RT di dalamnya mengembangkan dengan berbagai ide.
Persiapan penampilan dilakukan selama satu bulan.
Biaya dikumpulkan dari swadaya masyarakat sendiri.
”Kami tidak pakai sound musik besar-besaran. Hanya narasi terkait sejarah,” tuturnya.
Menurut Sururi, pawai budaya memang seharusnya menampilkan sejarah dan kearifan lokal.
Tujuannya agar masyarakat dan generasi muda lebih akrab dan menghargai perjuangan pada masa lalu.
”Karena selama ini kebanyakan anak muda itu yang ditampilkan goyang pargoy saja,” tambahnya.
Pawai Budaya kemarin mengangkat tema Dari Kanjuruhan, Awal Peradaban Nusantara.
Karena itu, berbagai bentuk visualisasi sejarah tentang kerajaan di Nusantara turut ditampilkan.
Mulai dari Kerajaan Kanjuruhan, Singosari, hingga Mataram Islam. (dur/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana