MALANG KOTA - Kondisi ekonomi Kota Malang pada bulan lalu mengalami deflasi.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang mencatat deflasi pada Februari 2025 di angka 0,69 persen secara monthto-month (MoM).
Pemicunya adalah penerapan diskon tarif listrik sebesar 50 persen yang berlaku sejak Januari 2025.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang Umar Sjaifudin mengatakan, penerapan diskon listrik menyumbang andil 1,80 persen.
Baca Juga: Siap-Siap Inflasi setelah Diskon Listrik Berakhir
Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah itu langsung dimanfaatkan oleh masyarakat.
”Tentu saja pengaruhnya cukup lumayan, tapi juga ada faktor lain yakni dari sektor pangan,” kata Umar kemarin (3/3).
Harga sejumlah bahan pangan yang turun juga menyumbang deflasi.
Seperti turunnya harga bawang merah memberikan andil sebesar 0,4 persen.
Baca Juga: Pohon Tumbang Ganggu Pasokan Listrik 600 Rumah di Pakisaji
Begitu juga cabai merah yang juga menyumbang angka 0,2 persen.
Adanya panen raya membuat harga yang sebelumnya tinggi menjadi turun.
Sehingga stok di pasar menjadi meningkat.
”Tapi ada beberapa bahan pokok seperti minyak goreng dan beras harganya naik,” ujar Umar.
Umar menyebut naiknya harga dua bahan pokok itu karena permintaan yang tinggi menjelang Ramadan.
Pihaknya pun memberikan catatan untuk Pemkot Malang.
Jika harga dibiarkan naik, maka bulan ini diprediksi akan terjadi inflasi.
Baca Juga: Pengiriman Mobdin Listrik Tuntas Maret
Menanggapi hal itu, Koordinator Pemantauan Harga Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang Hariwidayat mengatakan, meskipun bulan Februari terdapat beberapa komoditas yang mengalami deflasi, terdapat beberapa komoditas yang harus mulai diwaspadai, seperti salah satunya cabai rawit.
”Ini akibat cuaca yang cukup ekstrem pada bulan lalu,” tuturnya.
Saat ini di pasaran harga cabai rawit mencapai Rp110.000 per kilogram.
Harga tersebut naik drastis dibandingkan pekan lalu yang masih di angka Rp70.000 per kilogram. (dur/adn)
Editor : A. Nugroho