"Selama 45 tahun terakhir, Jalan Soekarno-Hatta (Soehat) banyak mengalami perubahan. Mulanya berupa area persawahan di dua desa kuno yang bernama Tembalangan dan Mangu. Perubahan mulai terjadi pada 1970-an saat pengembang perumahan mulai melirik kawasan itu." - NABILA AMELIA
RADAR MALANG - Bulan Juni mendatang, kawasan Jalan Soekarno-Hatta (Soehat) akan mendapat bantuan infrastruktur dari Pemprov Jatim.
Infrastruktur tersebut berupa saluran drainase.
Tujuannya untuk mengatasi genangan yang sering timbul di sana hingga Jalan Letjen Sutoyo.
Kondisi Jalan Soehat sekarang dengan sebelum tahun 1980-an memang berbeda.
Dulu, kondisinya masih berupa persawahan.
Baca Juga: Jadwal Start Proyek Drainase di Jalan Soehat Tunggu Pemprov
Terdapat dua desa di saja.
Yakni Desa Tembalangan dan Desa Mangu.
Dari cerita Guru Besar Teknik Pengairan Universitas Brawijaya Prof Dr Ir Muhammad Bisri MS IPU, dua desa tersebut sebelumnya tidak terhubung.
”Kondisinya sawah semua sebelum dibangun permukiman seperti Perumahan Griya Shanta dan Permata Jingga,” kata lelaki yang tinggal di sana sejak 1958 itu.
Hanya ada satu akses berupa jembatan di dekat Kali Brantas.
Jembatan tersebut terbuat dari bambu.
Untuk menuju ke jembatan, masyarakat biasanya melewati Jalan Kedawung.
Saat kecil, Bisri juga kerap menghabiskan waktu dengan bermain di sawah.
Kebetulan orang tuanya pernah memiliki sawah di kawasan yang kini menjadi sisi timur Soehat.
Karena masih berupa persawahan, banjir tidak pernah terjadi di Soehat.
Itu karena masih ada lokasi resapan air.
Saat musim hujan, air mengalir ke sawah atau ke Kali Brantas.
Pada 1970- an, Soehat mulai mengalami perubahan.
Itu disebabkan pertumbuhan permukiman di sana.
Baca Juga: Ancang-Ancang Bangun Drainase Kawasan Soehat Kota Malang
Pengembang perumahan mulai melirik Soehat sebagai lokasi yang strategis.
”Seingat saya saat itu ada dua perumahan yang dibangun. Salah satunya adalah Perumahan Griya Shanta,” kenangnya.
Perkembangan permukiman berlangsung cukup masif.
Terutama sejak pembangunan Jembatan Soehat.
Dikutip dari jurnal berjudul Studi Alternatif Perencanaan Struktur atas Jembatan SoekarnoHatta yang disusun Wahyu Kurniawan bersama tim, Jembatan Soehat dibangun pada 1981.
Keberadaan Jembatan Soehat akhirnya menjadi penghubung antara Desa Tembalangan dan Desa Mangu.
Lalu menjadi akses lain menuju Jalan MT Haryono (Betek), Ketawanggede, hingga Dinoyo.
Selain terbukanya akses, nama kawasan di sekitar Soehat juga berubah.
Untuk Desa Tembalangan, kini terbagi menjadi beberapa jalan baru.
Seperti Jalan Sri Rejeki dan Jalan Dewandaru.
Sementara Desa Mangu dikenal dengan Jalan Candi Panggung.
Kemudian, kawasan Soehat juga banyak menjadi lokasi pertokoan.
Ada pula kawasan pendidikan karena terdapat sekolah hingga kampus seperti Institut ASIA, Universitas Brawijaya, dan Politeknik Negeri Malang (Polinema).
Karena banyak dimanfaatkan untuk pembangunan, resapan air di kawasan Soehat semakin berkurang.
Baca Juga: 2025 Pemkot Malang Fokus Bebaskan Soehat dari Genangan
Selain pembangunan, berkurangnya resapan air juga disebabkan penggunaan sumur artesis serta penurunan muka tanah.
Adanya dua desa sebelum menjadi kawasan Soehat juga disampaikan sejarawan Kota Malang Suwardono.
Dua desa itu dulunya merupakan desa kuno.
”Keberadaannya sudah ada sejak zaman Belanda dan diduga sebelumnya juga sudah menjadi dusun,” ucapnya.
Untuk penamaan Desa Tembalangan diambil dari nama sebuah pohon.
Seperti dituturkan masyarakat dulu yang pernah diteliti Suwardono.
Karena masih berupa persawahan, kebanyakan masyarakat saat itu beraktivitas sebagai petani.
Akses jalannya juga masih minim.
Selain Jalan Kedawung, ada akses jalan yakni melalui Jalan Gilimanuk atau yang sekarang berada di tengahtengah Makam Samaan ke arah barat melewati pinggir Kali Brantas.
Jalan tersebut menghubungkan Desa Tembelangan dengan Desa Mangu.
Versi lain menyebut kalau dulu kawasan Soehat merupakan bekas perkebunan kopi.
”Kebun kopi itu dibangun pasca Perang Jawa tahun 1830,” jelas pemerhati budaya Malang, Agung Harjaya Buana.
Pasca Perang Jawa, kas Pemerintah Belanda habis.
Karena itu, Pemerintah Belanda membuka kesempatan bagi investor.
Baca Juga: Lobi Pusat Tangani Banjir Soehat Malang
Salah satunya di bidang perkebunan.
Perkebunan kopi di Kota Malang terindikasi ada di kawasan yang kini menjadi Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru.
Selain di Kelurahan Jatimulyo, ada pula di kawasan yang kini Kelurahan Samaan, Kelurahan Oro-Oro Dowo di sisi Bethek, hingga Sengkaling.
Itu masuk dalam Afdeeling Sengkaling.
Adanya perkebunan kopi ditandai dengan bangunan villa lama.
Seperti yang ada di Kelurahan Samaan, Kelurahan Lowokwaru, dan Kelurahan Jatimulyo.
”Lalu saya pernah melakukan penelitian dan menemukan pohon kopi tua di Bethek pada 2018,” ungkap Agung.
Namun seiring dengan berjalannya waktu, ada peralihan fungsi lahan.
Dari yang peruntukannya untuk kebun kopi menjadi tegalan.
Itu berlangsung sekitar tahun 1920-an.
Hingga akhirnya berkembang menjadi area pertanian sampai tahun 1980an. (*/by)
Editor : A. Nugroho