Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sejak Zaman Belanda, Depo Pertamina Malang Tetap Jadi Simpul Penting Distribusi BBM

Aditya Novrian • Jumat, 16 Januari 2026 | 15:00 WIB

 

TETAP BERTAHAN: Lokomotif mengangkut gerbong berisi BBM keluar dari Depo Pertamina Malang kemarin. (Biyan Mudzaky Hanindito/Radar Malang)
TETAP BERTAHAN: Lokomotif mengangkut gerbong berisi BBM keluar dari Depo Pertamina Malang kemarin. (Biyan Mudzaky Hanindito/Radar Malang)

 

Depo Pertamina Malang sudah beroperasi sejak era kolonial dengan mengandalkan angkutan BBM berbasis rel. Sistem distribusi itu bertahan lintas zaman. Hingga kini, jalur kereta masih menjadi tulang punggung pasokan BBM.

BIYAN MUDZAKY HANINDITO

 

SETIAP pukul 06.48, tujuh gerbong ketel (gerbong berisi BBM) perlahan memasuki kawasan Depo Pertamina Malang, Jalan Halmahera, Ciptomulyo, Sukun, Kota Malang. Rangkaian itu datang dari Stasiun Benteng, Surabaya, membawa muatan Pertalite dan biosolar.

Lokomotif CC201 83 11 dari Depo Induk Sidotopo terus membunyikan klakson memecah pagi di kawasan Ciptomulyo. Di balik aktivitas rutin itu, tersimpan cerita panjang tentang rel, minyak, dan kota yang terus bergerak, sejak zaman kolonial hingga hari ini.

Bagi warga sekitar, suara lokomotif bukanlah hal asing. Pagi, sore, bahkan malam, bunyi klakson kereta yang keluar-masuk depo menjadi bagian dari lanskap suara permukiman. Rumah-rumah berdempetan, gang-gang sempit, dan rel kereta hidup berdampingan.

Sedikit yang menyadari bahwa jalur rel itu merupakan salah satu jejak penting sejarah transportasi dan energi di Malang Raya. Lima petugas langsir terlihat sigap pagi itu. Dua berada di tengah rangkaian, tiga lainnya mengawasi dari gerbong paling belakang.

Tugas mereka tak sekadar mengamankan pergerakan kereta, tetapi juga memastikan seluruh jalur rel aman dilalui. Termasuk memindahkan bandul wesel di sekitar eks Stasiun Malang Jagalan, sebuah simpul transportasi lama yang dahulu menjadi pusat trem kota.

Rel di kawasan Jagalan merupakan peninggalan Malang Stoomtram Maatschappij (MS), perusahaan trem swasta Belanda yang mulai beroperasi di Malang sejak 1897. Meski fungsi trem penumpang telah lama hilang, sebagian relnya tetap hidup khusus untuk pengangkutan komoditas BBM menuju Depo Pertamina Malang. Pola pengantaran ini sejatinya sudah berlangsung sejak era kolonial jauh sebelum nama Pertamina dikenal.

Depo Pertamina Malang sendiri bermula dari kepemilikan Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM). Anak perusahaan Royal Dutch Shell. Perusahaan minyak swasta Belanda itu menjadikan Malang sebagai salah satu titik penting distribusi energi di Jawa Timur bagian selatan. Sejumlah sumber menyebut BPM membangun depo tersebut sekitar 1930 meski kepastian tahunnya masih menjadi perdebatan.

”Ada catatan yang menyebutkan bahwa pada saat pengerjaan Bouwplan atau rencana pengembangan Kota Malang yang keenam tahun 1930, depo ini sudah berdiri. Bahkan ada catatan lain pada 1921 yang menyebut depo ini sempat terbakar,” terang Hannu Ayodya Mamola, penggemar sejarah dari Komunitas History Fun Walk Malang.

Pemilihan lokasi depo di kawasan yang kini dikenal sebagai Comboran bukan tanpa pertimbangan. Area ini beririsan langsung dengan jaringan rel kereta api. BPM bahkan membangun jalur rel khusus dari Stasiun Malang Jagalan menuju ke dalam area depo sepanjang kurang lebih 800 meter.

Di dalam depo, terdapat dua jalur yang dihubungkan dengan wesel jenis bandul. Seiring berkembangnya fasilitas, jalur di dalam depo yang semula memanjang hingga sisi selatan kini dipangkas dan hanya tersisa di bagian utara.

TITIK PENTING: Kondisi Depo Pertamina Malang di Jalan Halmahera, Kelurahan Ciptomulyo, Kecamatan Sukun, ketika masa kolonial. (KITLV)
TITIK PENTING: Kondisi Depo Pertamina Malang di Jalan Halmahera, Kelurahan Ciptomulyo, Kecamatan Sukun, ketika masa kolonial. (KITLV)

Menariknya, BPM tidak sepenuhnya bergantung pada perusahaan kereta api lain. Pada masa awal, perusahaan ini diketahui memiliki lokomotif sendiri untuk keperluan langsir gerbong ketel di dalam area depo.

Namun karena pasokan minyak berasal dari Surabaya, BPM tetap menjalin kerja sama dengan MS untuk pengantaran jarak jauh. Kerja sama itu melibatkan dua perusahaan kereta api sekaligus. Jalur dari Malang menuju Surabaya tidak sepenuhnya dikelola MS.

Sebagian lintasan berada di bawah pengelolaan Staatsspoorwagen (SS), perusahaan kereta api negara Belanda. ”Sistem penggunaan relnya itu sewa. Kalau gerbong kosong berangkat dari Malang, BPM bayar ke MS, lalu MS membayar ke SS. Kalau kiriman minyak dari Surabaya, BPM membayar langsung ke dua perusahaan, MS dan SS,” jelas pegiat sejarah perkeretaapian Moh Aliwafa.

 

Skema pembayaran ganda tersebut berlangsung hingga mendekati masa kemerdekaan. Setelah Indonesia merdeka, BPM dinasionalisasi menjadi Permina, yang kemudian dikenal sebagai Pertamina. Sementara MS dan SS dilebur menjadi Djawatan Kereta Api (DKA). Meski struktur kepemilikan berubah, sistem pengangkutan BBM berbasis rel nyaris tak mengalami perubahan berarti.

Pada masa lokomotif uap, satu rangkaian kereta minyak biasanya terdiri dari tiga gerbong ketel yang ditarik satu lokomotif. Uniknya, rangkaian ini kerap digabung dengan satu kereta penumpang di belakang lokomotif. Seiring perkembangan teknologi dan meningkatnya kebutuhan distribusi, kapasitas angkut terus bertambah.

Kini, sekali perjalanan, kereta BBM dapat membawa tujuh hingga dua belas gerbong ketel. Sekitar tahun 1950-an, Pertamina sempat mengoperasikan lokomotif langsir diesel merek Schoema tipe CFL60 4wDH buatan Jerman. Lokomotif ini digunakan untuk memindahkan gerbong di dalam area depo. Namun keberadaannya tak bertahan lama.

”Diperkirakan terakhir terlihat sekitar tahun 1960-an. Lokomotifnya terlalu kecil untuk melangsir gerbong ketel yang ukurannya semakin besar,” ujar Aliwafa.

Hari ini Depo Pertamina Malang berdiri di tengah kepadatan kota. Rel yang dulu menjadi urat nadi transportasi publik kini bekerja dalam senyap melayani distribusi energi. (*/adn)

Editor : Aditya Novrian
#sejarah #depo pertamina