MALANG KOTA – Salah satu skema penataan kawasan Soekarno-Hatta (Soehat) menjadi kota masa depan adalah adanya pembagian zona. Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang Dandung Djulharjanto mengatakan, pihaknya juga akan melakukan penataan di Soehat sesuai zona.
Kemudian, ada penambahan fasilitas untuk mengurangi kemacetan dan yang menjurus kepada kebutuhan transportasi masal.
"Namun, draft RTBL yang kami susun belum paten. Kami masih perlu menyusun detail engineering design (DED)," tuturnya.
Baca Juga: Penghijauan Kawasan Soehat Membutuhkan 290 Bibit Pohon Tabebuya
Dalam memoles Soehat, pihaknya akan membagi kawasan menjadi 3 segmen atau zona.
Pelaksanaannya pun bertahap. Sama seperti Kajoetangan Heritage dulu. "Karena ini kan bagian dari visi misi kepala daerah. Akan kami wujudkan dalam masa kepemimpinan Pak Wahyu Hidayat dan Pak Ali Muthohirin. Maksimal pada 2029, penataan ini bisa selesai," bebernya.
Sedangkan Ketua Tim Perancangan RTBL Kawasan Soehat Chairul Maulidi menyampaikan, penyusun draft melibatkan 6 akademisi dari berbagai latar belakang. Mulai arsitek, teknik lingkungan, hingga perencanaan wilayah dan kota (PWK). Konsep desain yang dibuat mengacu pada visi maupun visi 2 pimpinan daerah sekarang. Yakni MBOIS yang merupakan akronim dari Modern, Balanced, Open, Inclusive, and Sustainable.
”Konsep MBOIS yang disusun rencananya akan diaplikasikan untuk penataan kawasan,” ungkap pria yang akrab disapa Ulid itu.
Implementasinya dalam bentuk signage atau papan informasi, fasilitas, hingga bangunan. Untuk signage akan didesain dengan font khusus. Beberapa signage diberi konsep dengan warna dominan biru dan sedikit abu-abu. Itu sekaligus melambangkan warna khas Kota Malang yakni biru. "Ini konsep yang baru. Berbeda dengan Kajoetangan yang mengarah ke heritage," kata Ulid.
Selain signage, ada penataan pada landmark yakni Jembatan Soehat. Dalam draft RTBL, pihaknya mengusulkan agar jembatan dipoles dengan cara dicat ulang dan diberi tambahan penerangan. Tujuannya untuk menghapus image negatif, seperti beberapa kali ditemukan orang bunuh diri di lokasi tersebut.
Selanjutnya, penataan pada Taman Krida Budaya. Ulil mengatakan, dalam diskusi bersama pemkot beberapa waktu lalu, pengelola Taman Krida Budaya menyampaikan perlunya keselarasan.
"Saat ini pengelola Taman Krida Budaya memang sedang gencar-gencarnya menghidupkan kembali aktivitas di sana. Misalnya dengan menggelar kegiatan kesenian," imbuh Ulid.
Usulan untuk menghidupkan Taman Krida Budaya terinspirasi dari suasana di Asakusa yang merupakan salah satu distrik bersejarah di Tokyo. Di Asakusa, lanjutnya, terdapat kuil Buddha. Suasana di sana begitu bergeliat dengan keberadaan pedagang kaki lima (PKL) yang ditata berhadap-hadapan. Di tengah PKL, terdapat jalan seperti lorong yang terhubung dengan kuil Buddha.
Dari sana, tim penyusun mengusulkan agar PKL dipindah ke depan. Sebab, saat ini PKL berada di belakang. "Dengan catatan, PKL benar-benar ditata agar tidak semrawut. Banner untuk promosi produk dan meja PKL harus seragam. Jadi tidak warna-warni seperti sekarang," terang Ulid. (mel/dan)
Editor : Aditya Novrian