MALANG KOTA - Kepala SDN Purwantoro 4 Anis Zulaikhah menuturkan tahun ini pihaknya mengajukan Rp 43 juta untuk BOSDA untuk 128 siswa. Pihaknya belum mengetahui berapa yang disetujui karena masih dalam proses.
“Kemarin BOSNAS sudah cair, jadi sementara operasional bisa di-cover dulu,” ujar Anis.
Dia berharap BOSDA bisa cair tepat waktu agar sekolahnya dapat merencanakan belanja dengan baik. Selain itu, Anis juga berharap tidak mendapat pemotongan BOSDA tahun ini karena biaya operasional di sekolahnya sangat terbatas hanya dari BOSNAS dan BOSDA saja.
Di sisi yang lain, Kepala SD Negeri Tunjungsekar 1 Budi Hartono mengatakan, penggunaan dana BOSDA berbeda dengan Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP). Menurut Budi, jika sudah mengalokasikan kebutuhan tertentu lewat BOSDA, tidak boleh mengalokasikan kebutuhan yang sama dari BOSP.
"Dana BOSDA kami alokasikan untuk lemari. Jumlahnya ada 17 lemari sebagai penyimpan rapor dan barang-barang lain di ruang guru," sebutnya.
Budi melanjutkan, besaran BOSDA yang diterima setiap sekolah berbeda.
"Kalau di tempat kami ada 496 siswa. BOSDA yang kami peroleh untuk seluruh siswa mencapai Rp 164 juta," beber Budi.
Anggaran dari BOSDA yang cair tersebut tidak hanya untuk pengadaan lemari, tapi juga untuk kebutuhan-kebutuhan lain yang mendukung kegiatan belajar mengajar.
Senada dengan Budi, Kepala SD Negeri Ketawanggede Joni Lufijanto menyampaikan bahwa besaran BOSDA disesuaikan dengan jumlah siswa. Total 324 siswa yang duduk di kelas 1 SD sampai 6 SD.
"Dengan jumlah siswa yang ada, kami mendapat jatah BOSDA sebesar Rp 119 juta," beber Joni.
Dia mengatakan, BOSDA untuk mengakomodasi kegiatan belajar mengajar hingga perbaikan terhadap fasilitas sekolah yang rusak. Joni mencontohkan, BOSDA di sekolahnya dimanfaatkan untuk membayar listrik. Kemudian biaya air, internet, dan sampah. (aff/mel/dan)
Disunting kembali oleh: Anna Tasya Enzelina
Editor : Aditya Novrian