MALANG KOTA – Hari pertama penjurian Green School Festival (GSF) kemarin (3/9) berlangsung seru. Masing-masing sekolah yang didatangi para juri berlomba-lomba menyajikan presentasi dan sambutan yang menarik. Salah satu yang di kunjungi ialah SDN Sukoharjo I, Kota Malang.

Sekolah yang beralamat di Jalan Laksamana Martadinata ini menyambut tim juri dengan menampilkan hasil kreasi daur ulang dari tutup botol bekas. Kreasi itu membentuk bendera Merah Putih. Di tengah bendera, ada lambang Garuda Pancasila berukuran 4,8×2,4 meter.

Kepala SDN Sukoharjo 1 Malang Erna Djuwita MPd menyatakan, pembuatan bendera dari tutup botol bekas bukan tanpa alasan. ”Kita ambil konsepnya daur ulang sampah, recycling and upcycling,” kata Erna Djuwita.

Daur ulang itu terbuat dari 1.500 tutup botol dari siswa kelas 1 hingga 6 SD. ”Dari siswa yang mengumpulkan sampai kita bimbing membuatnya,” ujar Tonik Maryanto, koordinator GSF SDN Sukoharjo 1. Pembuatan ini ditengarai karena Tonik merasa prihatin akan banyaknya tutup botol bekas yang berceceran lantaran tidak laku dijual. Untuk mengurangi jumlah tutup botol bekas, tak jarang pemulung atau tukang loak membakarnya.

Erna kembali menyambung cerita, ini merupakan bagian dari pembelajaran bersama siswa. Banyak perubahan yang didapatkan selama 5 kali berturut-turut mengikuti GSF. Para siswa mengetahui bagaimana cara untuk merawat lingkungan sekolah. Malahan, beberapa siswa diajak membuat puluhan ban bekas yang disulap menjadi pot sampai kursi untuk taman baca.

Pemanfaatan ini merupakan salah satu dari pengaplikasian sembilan isu lingkungan GSF yang dinilai oleh juri. Paparan tentang isu lingkungan itu juga diwujudkan dalam bentuk majalah dinding (mading) yang kemudian dipresentasikan.

Sementara itu, di SDK Santo Yusup 2, para juri disambut dengan lagu Meraih Bintang yang dinyanyikan Via Vallen saat perhelatan Asian Games. Para siswa yang menyambut juri menampilkan atraksi cheerleaders layaknya anak SMA. ”Ada yang saling menaiki punggung seperti pohon cemara,” kata juri GSF, M Habib.

Kalau untuk inovasi, SD Santo Yusup mengenalkan aneka tanaman yang ditanam para siswa. Selain itu, untuk mading, sekolah yang beralamat di Jalan Dr Sutomo ini tidak menampilkan satu majalah dinding (mading) saja. Ternyata, semua kelas memperlombakan mading mereka secara internal antarkelas. Barulah, ada enam mading mulai kelas 1 hingga 6 yang ikut dipamerkan. ”Madingnya tiga dimensi semua,” tambah Habib.

Tidak hanya SDK Santo Yusup 2, Habib juga sempat menjuri di SD Islam Terpadu Ahmad Yani. Inovasi pengaplikasian sembilan isu di SD ini juga cukup unik. Ada lahan kosong yang awalnya dibuat kolam renang. Tetapi karena mendapat penolakan dari beberapa pihak, lahan kosong ini disulap jadi lahan tanaman organik. ”Setelah panen, hasilnya dijual ke wali murid atau warga,” kata Habib yang menjuri di empat sekolah.

Proses penjurian GSF untuk kategori SD dilaksanakan di 276 SD negeri dan swasta Kota Malang. Penjuriannya dilakukan pada tanggal 3–7 September. Lalu dilanjutkan lagi pada 10, 12, 13 September. Totalnya, ada 8 hari penjurian yang dilakukan 27 juri.

Sementara itu, Sekolah Dasar Negeri 9 Muhammadiyah Kota Malang sangat mengapresiasi kegiatan Green School Festival (GSF) ini. Dengan kegiatan tersebut, sebagian lingkungan di sekolah yang awalnya gersang kini bisa terlihat hijau dan enak dipandang. ”Meskipun ini kegiatannya satu tahun sekali, tapi dampaknya sangat baik untuk masa depan,” ujar Koordinator GSF SDN Muhammadiyah 9 Loresta Putri Nusantara Kasih.

Dengan GSF ini, sekolahnya mulai lebih peduli dengan kegiatan-kegiatan penghijauan. Meskipun pada sebelumnya sudah melakukannya. ”Sebelum-sebelumnya kan tidak sebagus seperti sekarang,” ujar alumnus Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UMM ini. Lebih lanjut, salah satunya lapangan di samping sekolahannya yang gersang kini menjadi hijau.

 

Pewarta: Sandra Desi / Moh. Badar Risqullah
Penyunting: Abdul Muntholib
Fotografer: Bayu Eka Novanta