alexametrics
26.6 C
Malang
Wednesday, 6 July 2022

Dok! Vonis Tujuh Bulan Penjara dan Denda 10 Juta untuk Ibu Pembuang Bayi

MALANG KOTA- Kenyataan pahit harus dihadapi Nurbayani Rahangiar. Di usianya yang masih belia, 20 tahun, harusnya dia bisa menikmati hidup dengan teman-temannya sebaya. Tapi dia terpaksa harus menghuni penjara selama tujuh bulan penjara plus denda Rp 10 juta.

Ini setelah majelis hakim di Pengadilan Negeri Malang menjatuhkan vonis tersebut, kemarin. Ini buntut dari aksinya membuang bayi yang baru dia lahirkan dari rahimnya sendiri pada 4 Januari 2022. Dengan berpakaian baju lengan panjang putih dan jilbab warna hitam, wanita yang ngekos di Jalan MT Haryono Gang X, Kelurahan Dinoyo itu menghadap majelis hakim yang dipimpin Hj Satyawati Yun Irianti SH MHum pada pukul 13.30.

Sebelum pembacaan vonis dimulai, ketua majelis sempat menanyakan bagaimana kabar dan keberadaan bayi laki-laki yang dia buang. “Saya tidak tahu di mana anak saya berada,” kata terdakwa melalui telekonferensi zoom yang tersambung dengan ruang sidang Tirta PN Malang.

Sebelumnya diketahui jika terdakwa membuang bayi lakilaki di kawasan Kelurahan Dinoyo. Dugaan kuat bayi itu hasil hubungan gelap mahasiswi kampus swasta asal Desa Ilath, Kecamatan Batubual, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku itu dengan kekasihnya. Saat ini bayi malang itu tengah dirawat Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DinsosP3AP2KB) Kota Malang. Bayi itu boleh diambil Nurbayani lagi setelah dia bebas. Pemerintah merawat darah daging Nurbayani sampai ia selesai menjalani hukumannya.

Dalam sidang kemarin, ketua majelis pun membacakan inti atau amar putusan nomor perkara 108/Pid.Sus/2022/PN Mlg tersebut. Nurbayani telah ditahan oleh polisi sejak 10 Januari 2022 lalu sampai sekarang. Dalam perkara tersebut, diketahui terdakwa pertama kali mendapati dirinya hamil pada bulan Mei 2021 dan melahirkan pada 4 Januari 2022 pukul 16.00. “Saat akan melahirkan terdakwa merasa seperti akan buang air besar (BAB), dan dia langsung lari ke kamar mandi,” terang Satyawati. Artinya, terdakwa melahirkan tanpa dibantu siapa pun. Terdakwa juga memotong ari-ari anaknya dengan menggunakan gunting yang ada di kamar kosnya. Bayi laki-lakinya lahir dengan selamat dan sehat, tetapi terdakwa tidak mau kelahiran putranya diketahui oleh siapa pun.

Akhirnya dia yang kembali dari ke kamar tidurnya langsung mengambil kardus dan langsung diisi kain rok warna biru dan selimut. Dia memasukkan bayinya ke dalam kardus itu. Dia pun membuang anaknya ke atas sebuah tempat sampah yang berada di pojok sebuah gang Jalan Joyomulyo Gang II, Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru pada pukul 22.00. Tapi kemudian aksinya pun ketahuan dengan ditemukannya anak laki-laki tersebut keesokan harinya. Karena sang bayi terus saja menangis.

Atas perbuatannya, jaksa menuntut Nurbayani dengan hukuman 10 bulan penjara ditambah denda Rp 10 juta subsider enam bulan penjara sesuai dengan pasal 77 B juncto Pasal 76 B UU RI Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak pada 23 Mei 2022 lalu. Tetapi hakim berkata lain kemarin. “Menjatuhkan pidana penjara selama tujuh bulan dikurangi masa tahanan dan denda Rp 10 juta, yang apabila tidak mampu dibayar diganti dengan pidana kurungan selama enam bulan,” tegas Satyawati. Hal itu karena terdakwa menyesali perbuatannya dan sopan selama persidangan. Dia juga tidak pernah dihukum sebelumnya. Dengan putusan tersebut, Nurbayani menerima nasibnya dan jaksa memilih pikir-pikir. (biy/abm)

MALANG KOTA- Kenyataan pahit harus dihadapi Nurbayani Rahangiar. Di usianya yang masih belia, 20 tahun, harusnya dia bisa menikmati hidup dengan teman-temannya sebaya. Tapi dia terpaksa harus menghuni penjara selama tujuh bulan penjara plus denda Rp 10 juta.

Ini setelah majelis hakim di Pengadilan Negeri Malang menjatuhkan vonis tersebut, kemarin. Ini buntut dari aksinya membuang bayi yang baru dia lahirkan dari rahimnya sendiri pada 4 Januari 2022. Dengan berpakaian baju lengan panjang putih dan jilbab warna hitam, wanita yang ngekos di Jalan MT Haryono Gang X, Kelurahan Dinoyo itu menghadap majelis hakim yang dipimpin Hj Satyawati Yun Irianti SH MHum pada pukul 13.30.

Sebelum pembacaan vonis dimulai, ketua majelis sempat menanyakan bagaimana kabar dan keberadaan bayi laki-laki yang dia buang. “Saya tidak tahu di mana anak saya berada,” kata terdakwa melalui telekonferensi zoom yang tersambung dengan ruang sidang Tirta PN Malang.

Sebelumnya diketahui jika terdakwa membuang bayi lakilaki di kawasan Kelurahan Dinoyo. Dugaan kuat bayi itu hasil hubungan gelap mahasiswi kampus swasta asal Desa Ilath, Kecamatan Batubual, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku itu dengan kekasihnya. Saat ini bayi malang itu tengah dirawat Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DinsosP3AP2KB) Kota Malang. Bayi itu boleh diambil Nurbayani lagi setelah dia bebas. Pemerintah merawat darah daging Nurbayani sampai ia selesai menjalani hukumannya.

Dalam sidang kemarin, ketua majelis pun membacakan inti atau amar putusan nomor perkara 108/Pid.Sus/2022/PN Mlg tersebut. Nurbayani telah ditahan oleh polisi sejak 10 Januari 2022 lalu sampai sekarang. Dalam perkara tersebut, diketahui terdakwa pertama kali mendapati dirinya hamil pada bulan Mei 2021 dan melahirkan pada 4 Januari 2022 pukul 16.00. “Saat akan melahirkan terdakwa merasa seperti akan buang air besar (BAB), dan dia langsung lari ke kamar mandi,” terang Satyawati. Artinya, terdakwa melahirkan tanpa dibantu siapa pun. Terdakwa juga memotong ari-ari anaknya dengan menggunakan gunting yang ada di kamar kosnya. Bayi laki-lakinya lahir dengan selamat dan sehat, tetapi terdakwa tidak mau kelahiran putranya diketahui oleh siapa pun.

Akhirnya dia yang kembali dari ke kamar tidurnya langsung mengambil kardus dan langsung diisi kain rok warna biru dan selimut. Dia memasukkan bayinya ke dalam kardus itu. Dia pun membuang anaknya ke atas sebuah tempat sampah yang berada di pojok sebuah gang Jalan Joyomulyo Gang II, Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru pada pukul 22.00. Tapi kemudian aksinya pun ketahuan dengan ditemukannya anak laki-laki tersebut keesokan harinya. Karena sang bayi terus saja menangis.

Atas perbuatannya, jaksa menuntut Nurbayani dengan hukuman 10 bulan penjara ditambah denda Rp 10 juta subsider enam bulan penjara sesuai dengan pasal 77 B juncto Pasal 76 B UU RI Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak pada 23 Mei 2022 lalu. Tetapi hakim berkata lain kemarin. “Menjatuhkan pidana penjara selama tujuh bulan dikurangi masa tahanan dan denda Rp 10 juta, yang apabila tidak mampu dibayar diganti dengan pidana kurungan selama enam bulan,” tegas Satyawati. Hal itu karena terdakwa menyesali perbuatannya dan sopan selama persidangan. Dia juga tidak pernah dihukum sebelumnya. Dengan putusan tersebut, Nurbayani menerima nasibnya dan jaksa memilih pikir-pikir. (biy/abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/