alexametrics
19.9 C
Malang
Wednesday, 29 June 2022

Kasus Oplos Elpiji di Kota Batu Segera Disidangkan

KOTA BATU – Kejaksaan Negeri Batu menerima pelimpahan perkara dari Polda Jatim kemarin sore (6/6). Perkara itu terkait penyalahgunaan elpiji bersubsidi dengan modus pengoplosan. Pelimpahan itu juga disertai penyerahan tujuh orang tersangka yang langsung dikirim ke Rumah Tahanan (Rutan) Lapas Lowokwaru.

Perkara itu ditangani Polda Jatim sejak awal April 2022 lalu. Bersamaan dengan pengungkapan penyelewengan bahan bakar bio solar bersubsidi di wilayah Kabupaten Pasuruan. Tujuh tersangka yang diamankan dalam kasus elpiji oplosan memiliki peran yang berbedabeda (lihat grafis). Kasi Intel Kejari Batu Edi Sutomo SH MH menjelaskan, jaksa selaku penuntut umum telah memecah perkara itu menjadi dua. Berkas perkara pertama untuk pemilik usaha dan para terdakwa yang bertugas memindahkan isi tabung kas elpiji 3 kilogram ke tabung 12 kilogram.

Berkas perkara kedua untuk terdakwa yang melakukan pengiriman barang serta penadah elpiji oplosan. Dalam pokok perkara yang dirilis Polda Jatim pada 19 April 2022 lalu itu, tersangka Yohanda selaku pemilik usaha melakukan aktivitas penyelewengan barang bersubsidi di sebuah gudang di Jalan TVRI, Desa Oro-oro Ombo, Kecamatan Batu, Kota Batu. Dia dibantu Okky, Hartono, Abba, dan Ricky. Modus yang dilakukan adalah mengisi tabung gas elpiji ukuran 12 kilogram dengan isi dari tabung gas 3 kilogram atau tabung melon.

Praktik tersebut telah dilakukan sejak Januari 2022. Saat digerebek, para tersangka sedang melakukan pemindahan isi tabung. Tersangka lain yang bernama Rustam kebagian peran sebagai pengirim elpiji. Sementara Purwadi berperan sebagai penyuplai gas 3 kilogram sekaligus pembeli elpiji opolosan dalam tabung ukuran 12 kilogram. Setidaknya ada sekitar 80 hingga 140 tabung elpiji bersubsidi yang telah dikirim Purwadi dan Rustam ke tempat pengoplosan milik. Harga untuk satu tabung ukuran 3 kilogram sekitar Rp 16 ribu. ”Lima tabung gas melon itu harganya sudah setara satu tabung ukuran 12 kilogram, sekitar Rp 190 ribu,” ujar Edi.

Kepada para terdakwa, jaksa menjeratkan pasal 55 UndangUndang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi sebagaimana telah diubah menjadi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja juncto Pasal 55 Ayat 1 ke 1 KUHP. Ancaman maksimalnya enam tahun penjara, berikut denda paling besar Rp 60 miliar. (biy/fat)

KOTA BATU – Kejaksaan Negeri Batu menerima pelimpahan perkara dari Polda Jatim kemarin sore (6/6). Perkara itu terkait penyalahgunaan elpiji bersubsidi dengan modus pengoplosan. Pelimpahan itu juga disertai penyerahan tujuh orang tersangka yang langsung dikirim ke Rumah Tahanan (Rutan) Lapas Lowokwaru.

Perkara itu ditangani Polda Jatim sejak awal April 2022 lalu. Bersamaan dengan pengungkapan penyelewengan bahan bakar bio solar bersubsidi di wilayah Kabupaten Pasuruan. Tujuh tersangka yang diamankan dalam kasus elpiji oplosan memiliki peran yang berbedabeda (lihat grafis). Kasi Intel Kejari Batu Edi Sutomo SH MH menjelaskan, jaksa selaku penuntut umum telah memecah perkara itu menjadi dua. Berkas perkara pertama untuk pemilik usaha dan para terdakwa yang bertugas memindahkan isi tabung kas elpiji 3 kilogram ke tabung 12 kilogram.

Berkas perkara kedua untuk terdakwa yang melakukan pengiriman barang serta penadah elpiji oplosan. Dalam pokok perkara yang dirilis Polda Jatim pada 19 April 2022 lalu itu, tersangka Yohanda selaku pemilik usaha melakukan aktivitas penyelewengan barang bersubsidi di sebuah gudang di Jalan TVRI, Desa Oro-oro Ombo, Kecamatan Batu, Kota Batu. Dia dibantu Okky, Hartono, Abba, dan Ricky. Modus yang dilakukan adalah mengisi tabung gas elpiji ukuran 12 kilogram dengan isi dari tabung gas 3 kilogram atau tabung melon.

Praktik tersebut telah dilakukan sejak Januari 2022. Saat digerebek, para tersangka sedang melakukan pemindahan isi tabung. Tersangka lain yang bernama Rustam kebagian peran sebagai pengirim elpiji. Sementara Purwadi berperan sebagai penyuplai gas 3 kilogram sekaligus pembeli elpiji opolosan dalam tabung ukuran 12 kilogram. Setidaknya ada sekitar 80 hingga 140 tabung elpiji bersubsidi yang telah dikirim Purwadi dan Rustam ke tempat pengoplosan milik. Harga untuk satu tabung ukuran 3 kilogram sekitar Rp 16 ribu. ”Lima tabung gas melon itu harganya sudah setara satu tabung ukuran 12 kilogram, sekitar Rp 190 ribu,” ujar Edi.

Kepada para terdakwa, jaksa menjeratkan pasal 55 UndangUndang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi sebagaimana telah diubah menjadi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja juncto Pasal 55 Ayat 1 ke 1 KUHP. Ancaman maksimalnya enam tahun penjara, berikut denda paling besar Rp 60 miliar. (biy/fat)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/