alexametrics
28 C
Malang
Tuesday, 17 May 2022

Dok! Hakim Vonis Mati Pengedar 14 Kg Sabu-Sabu. Jaksa Kaget, Terdakwa Nangis

KEPANJEN – Dramatis dan di luar dugaan. Itulah yang terjadi pada persidangan perkara sabu-sabu seberat 14,15 kilogram di Pengadilan Negeri Kepanjen kemarin (13/5). Majelis hakim ternyata menjatuhkan hukuman mati kepada tiga terdakwa kasus tersebut.

Padahal, sebelumnya jaksa mengajukan tuntutan hukuman pidana seumur hidup. Sontak, para terdakwa yang terdiri dari Puji Hari Santoso, 29, Novia Anggara, 34, dan Sugeng Nuryanto, 37, yang mengikuti jalannya persidangan secara daring tampak kebingungan. Bahkan tangis Sugeng pecah sambil meminta agar majelis hakim tidak menjatuhkan hukuman mati. ”Jangan, Pak. Jangan,” ujarnya melalui kamera dan mikrofon di Lapas Lowokwaru yang terhubung ke Pengadilan Negeri Kepanjen. Begitu juga dengan Puji Hari Santoso. Dengan terbata-bata dia langsung mengatakan hendak mengajukan upaya banding.

Sementara pihak jaksa yang tuntutannya ternyata lebih rendah dari vonis hakim menyatakan pikir-pikir lebih dulu. Proses persidangan kasus tersebut terbilang cukup lama. Hampir membutuhkan waktu empat bulan. Sidang pertama seharusnya dilakukan pada 3 Februari 2022. Namun lantaran jaksa tidak bisa menghadirkan terdakwa, sidang perdana baru terealisasi pada 10 Februari 2022. Agenda tuntutan yang mestinya dilaksanakan pada 15 Maret juga molor dan tertunda empat kali dengan alasan jaksa belum siap. Pembacaan tuntutan baru bisa dilaksanakan pada 12 April.

Begitu juga dengan pembacaan putusan yang seharusnya diagendakan pada 27 April, ternyata baru bisa dilaksanakan kemarin (13/5). Ketegangan pun tampak terlihat di wajah tiga tersangka saat mengawali sidang pembacaan putusan kemarin. Bahkan Puji Hari tidak berani menampakkan diri di layar monitor. Badannya terlihat tak lebih dari separo.

Majelis hakim juga menyatakan bahwa para terdakwa terbukti melanggar pasal 114 ayat 2 juncto Pasal 132 ayat 2 Undang-Undang (UU) Nomor 35 tahun 2009 tentang peredaran narkotika yang dilakukan secara terorganisir. Reza juga menyebutkan bahwa barang bukti dalam kasus itu berpotensi merusak generasi muda sebanyak 55 ribu orang. Karena satu kilogram sabu-sabu saja bisa merusak 4 ribu orang. Hal itu masuk ke dalam hal yang memberatkan putusan. ”Mengadili para terdakwa secara bersalah dan meyakinkan dalam perkara ini, menjatuhkan pidana mati,” ucap Ketua Majelis Hakim I Putu Gede Astawa SH MH kemarin.

Para terdakwa diperintahkan tetap berada dalam tahanan, biaya perkara ditanggung negara, sedangkan barang bukti dimusnahkan. Ketua LBH Peradi Malang Raya Iwan Koeswardi SH yang mendampingi para terdakwa mengatakan akan mengakomodasi permintaan upaya banding. ”Dalam beberapa hari ini kami segera menemui keluarga para terdakwa,” ujarnya. (biy/fat)

KEPANJEN – Dramatis dan di luar dugaan. Itulah yang terjadi pada persidangan perkara sabu-sabu seberat 14,15 kilogram di Pengadilan Negeri Kepanjen kemarin (13/5). Majelis hakim ternyata menjatuhkan hukuman mati kepada tiga terdakwa kasus tersebut.

Padahal, sebelumnya jaksa mengajukan tuntutan hukuman pidana seumur hidup. Sontak, para terdakwa yang terdiri dari Puji Hari Santoso, 29, Novia Anggara, 34, dan Sugeng Nuryanto, 37, yang mengikuti jalannya persidangan secara daring tampak kebingungan. Bahkan tangis Sugeng pecah sambil meminta agar majelis hakim tidak menjatuhkan hukuman mati. ”Jangan, Pak. Jangan,” ujarnya melalui kamera dan mikrofon di Lapas Lowokwaru yang terhubung ke Pengadilan Negeri Kepanjen. Begitu juga dengan Puji Hari Santoso. Dengan terbata-bata dia langsung mengatakan hendak mengajukan upaya banding.

Sementara pihak jaksa yang tuntutannya ternyata lebih rendah dari vonis hakim menyatakan pikir-pikir lebih dulu. Proses persidangan kasus tersebut terbilang cukup lama. Hampir membutuhkan waktu empat bulan. Sidang pertama seharusnya dilakukan pada 3 Februari 2022. Namun lantaran jaksa tidak bisa menghadirkan terdakwa, sidang perdana baru terealisasi pada 10 Februari 2022. Agenda tuntutan yang mestinya dilaksanakan pada 15 Maret juga molor dan tertunda empat kali dengan alasan jaksa belum siap. Pembacaan tuntutan baru bisa dilaksanakan pada 12 April.

Begitu juga dengan pembacaan putusan yang seharusnya diagendakan pada 27 April, ternyata baru bisa dilaksanakan kemarin (13/5). Ketegangan pun tampak terlihat di wajah tiga tersangka saat mengawali sidang pembacaan putusan kemarin. Bahkan Puji Hari tidak berani menampakkan diri di layar monitor. Badannya terlihat tak lebih dari separo.

Majelis hakim juga menyatakan bahwa para terdakwa terbukti melanggar pasal 114 ayat 2 juncto Pasal 132 ayat 2 Undang-Undang (UU) Nomor 35 tahun 2009 tentang peredaran narkotika yang dilakukan secara terorganisir. Reza juga menyebutkan bahwa barang bukti dalam kasus itu berpotensi merusak generasi muda sebanyak 55 ribu orang. Karena satu kilogram sabu-sabu saja bisa merusak 4 ribu orang. Hal itu masuk ke dalam hal yang memberatkan putusan. ”Mengadili para terdakwa secara bersalah dan meyakinkan dalam perkara ini, menjatuhkan pidana mati,” ucap Ketua Majelis Hakim I Putu Gede Astawa SH MH kemarin.

Para terdakwa diperintahkan tetap berada dalam tahanan, biaya perkara ditanggung negara, sedangkan barang bukti dimusnahkan. Ketua LBH Peradi Malang Raya Iwan Koeswardi SH yang mendampingi para terdakwa mengatakan akan mengakomodasi permintaan upaya banding. ”Dalam beberapa hari ini kami segera menemui keluarga para terdakwa,” ujarnya. (biy/fat)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/