alexametrics
26 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

Kelabui Petugas Masukkan sabu-Sabu ke Dalam Teh China Guanyinwang

MALANG-Ketiga terdakwa sebenarnya merupakan target operasi dari Direktorat Tindak Pidana Narkotika Bareskrim Polri. Dasarnya adalah operasi Seaport Interdiction atau pengecekan barang di Pelabuhan Bakauheni, Lampung, pada 30 Oktober 2021. Saat itu, tiga orang polisi memeriksa sebuah truk kargo dari Kota Medan, Sumatera Utara dengan tujuan dropping di Jalan Raya Karanglo, Kelurahan Banjararum, Kecamatan Singosari. Ketika diperiksa, di dalamnya ada paket yang memancing perhatian petugas. Yakni 20 bungkus teh China merek Guanyinwang yang dikumpulkan dalam dua kardus.

Saat diperiksa, di dalam masing-masing bungkus teh terdapat bubuk kristal yang dicurigai sebagai sabu-sabu seberat satu kilogram. Kalau ditotal, jumlah barang haram itu mencapai 20 kilogram. Namun dalam penyidikan tidak semuanya merupakan narkotika. Untuk mengejar siapa penerima narkoba itu, polisi ikut mengiringi truk tersebut ke Malang. Rombongan tiba di Karanglo pada 1 Oktober 2021. Perusahaan kargo yang menggunakan truk itu pun menjalankan tugasnya seperti biasa, mengirimkan paket dengan kurir.

Baca Juga: https://radarmalang.jawapos.com/kriminal/14/05/2022/dok-hakim-vonis-mati-pengedar-14-kg-sabu-sabu-jaksa-kaget-terdakwa-nangis/

Paket berisi sabu-sabu itu dikirim ke dua alamat. Yakni Desa Ardimulyo, Kecamatan Singosari, dan Desa Sumberngepoh, Kecamatan Lawang. Namun sang kurir kembali dengan paket masih utuh lantaran alamat yang dituju tidak ditemukan. Keesokan harinya, Puji Hari Santoso dan temannya, Dian Iron, datang ke tempat kargo untuk mengambil paket tersebut. Hari itu juga mereka ditangkap polisi.

Dari dua orang itu didapat keterangan bahwa sabu-sabu akan dikirim ke alamat Novia Anggara dan Sugeng Nuryanto di Jalan Raya Dusun Godean, Kelurahan Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Dua orang itu akhirnya ditangkap pada 3 Oktober 2021. Dari empat tersangka itu diketahui bahwa sabu-sabu yang diantar lewat kargo dikendalikan seseorang berinisial A dan L yang kala itu berada di Lapas Lowokwaru, Malang.

Untuk setiap satu orang yang mengambil paket akan diberi upah Rp 1,5 juta. Rencananya, Sugeng bertugas membawa 10 kilogram sabu-sabu kawasan Jalan Sulfat, Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. ”Mereka belum menerima uang dalam pengiriman terakhir. Keburu ditangkap polisi,” papar anggota majelis hakim Faridh Zuhri SH MHum.

Dalam proses penyidikan, Dian Iron, Puji, dan Novia pernah kabur dari tahanan pada 4 Oktober 2021. Dalam, pelarian itu, mereka juga membawa dua paket besar sabu-sabu dengan berat 2,450 gram. Namun Puji dan Novia tertangkap lagi pada 9 Oktober 2021.

Pada 14 Oktober, Dian Iron diketahui berada di Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto. Saat hendak ditangkap petugas, dia berusaha melawan dan akhirnya ditembak di belakang lutut kirinya. Nyawanya tak tertolong saat akan dibawa ke RS Bhayangkara Pusdik Gasum Porong. Anggota majelis hakim Reza Aulia Utama SH mengatakan, jumlah keseluruhan barang bukti dari tiga tersangka itu 14,15 kilogram sabu-sabu. ”Untuk terdakwa Sugeng sudah dua kali mengambil barang. Yakni pada September dan Oktober 2021 atas perintah L,” ujarnya dalam pembacaan putusan.

 

Sebagaimana diberitakan, dalam persidangan perkara sabu-sabu seberat 14,15 kilogram di Pengadilan Negeri Kepanjen kemarin (13/5), majelis hakim menjatuhkan hukuman mati kepada tiga terdakwa kasus tersebut. Padahal, sebelumnya jaksa mengajukan tuntutan hukuman pidana seumur hidup. Tiga terdakwa itu adalah Puji Hari Santoso, 29, Novia Anggara, 34, dan Sugeng Nuryanto, 37, yang mengikuti jalannya persidangan secara daring. (biy/fat)

MALANG-Ketiga terdakwa sebenarnya merupakan target operasi dari Direktorat Tindak Pidana Narkotika Bareskrim Polri. Dasarnya adalah operasi Seaport Interdiction atau pengecekan barang di Pelabuhan Bakauheni, Lampung, pada 30 Oktober 2021. Saat itu, tiga orang polisi memeriksa sebuah truk kargo dari Kota Medan, Sumatera Utara dengan tujuan dropping di Jalan Raya Karanglo, Kelurahan Banjararum, Kecamatan Singosari. Ketika diperiksa, di dalamnya ada paket yang memancing perhatian petugas. Yakni 20 bungkus teh China merek Guanyinwang yang dikumpulkan dalam dua kardus.

Saat diperiksa, di dalam masing-masing bungkus teh terdapat bubuk kristal yang dicurigai sebagai sabu-sabu seberat satu kilogram. Kalau ditotal, jumlah barang haram itu mencapai 20 kilogram. Namun dalam penyidikan tidak semuanya merupakan narkotika. Untuk mengejar siapa penerima narkoba itu, polisi ikut mengiringi truk tersebut ke Malang. Rombongan tiba di Karanglo pada 1 Oktober 2021. Perusahaan kargo yang menggunakan truk itu pun menjalankan tugasnya seperti biasa, mengirimkan paket dengan kurir.

Baca Juga: https://radarmalang.jawapos.com/kriminal/14/05/2022/dok-hakim-vonis-mati-pengedar-14-kg-sabu-sabu-jaksa-kaget-terdakwa-nangis/

Paket berisi sabu-sabu itu dikirim ke dua alamat. Yakni Desa Ardimulyo, Kecamatan Singosari, dan Desa Sumberngepoh, Kecamatan Lawang. Namun sang kurir kembali dengan paket masih utuh lantaran alamat yang dituju tidak ditemukan. Keesokan harinya, Puji Hari Santoso dan temannya, Dian Iron, datang ke tempat kargo untuk mengambil paket tersebut. Hari itu juga mereka ditangkap polisi.

Dari dua orang itu didapat keterangan bahwa sabu-sabu akan dikirim ke alamat Novia Anggara dan Sugeng Nuryanto di Jalan Raya Dusun Godean, Kelurahan Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Dua orang itu akhirnya ditangkap pada 3 Oktober 2021. Dari empat tersangka itu diketahui bahwa sabu-sabu yang diantar lewat kargo dikendalikan seseorang berinisial A dan L yang kala itu berada di Lapas Lowokwaru, Malang.

Untuk setiap satu orang yang mengambil paket akan diberi upah Rp 1,5 juta. Rencananya, Sugeng bertugas membawa 10 kilogram sabu-sabu kawasan Jalan Sulfat, Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. ”Mereka belum menerima uang dalam pengiriman terakhir. Keburu ditangkap polisi,” papar anggota majelis hakim Faridh Zuhri SH MHum.

Dalam proses penyidikan, Dian Iron, Puji, dan Novia pernah kabur dari tahanan pada 4 Oktober 2021. Dalam, pelarian itu, mereka juga membawa dua paket besar sabu-sabu dengan berat 2,450 gram. Namun Puji dan Novia tertangkap lagi pada 9 Oktober 2021.

Pada 14 Oktober, Dian Iron diketahui berada di Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto. Saat hendak ditangkap petugas, dia berusaha melawan dan akhirnya ditembak di belakang lutut kirinya. Nyawanya tak tertolong saat akan dibawa ke RS Bhayangkara Pusdik Gasum Porong. Anggota majelis hakim Reza Aulia Utama SH mengatakan, jumlah keseluruhan barang bukti dari tiga tersangka itu 14,15 kilogram sabu-sabu. ”Untuk terdakwa Sugeng sudah dua kali mengambil barang. Yakni pada September dan Oktober 2021 atas perintah L,” ujarnya dalam pembacaan putusan.

 

Sebagaimana diberitakan, dalam persidangan perkara sabu-sabu seberat 14,15 kilogram di Pengadilan Negeri Kepanjen kemarin (13/5), majelis hakim menjatuhkan hukuman mati kepada tiga terdakwa kasus tersebut. Padahal, sebelumnya jaksa mengajukan tuntutan hukuman pidana seumur hidup. Tiga terdakwa itu adalah Puji Hari Santoso, 29, Novia Anggara, 34, dan Sugeng Nuryanto, 37, yang mengikuti jalannya persidangan secara daring. (biy/fat)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/