24.7 C
Malang
Tuesday, 6 December 2022

Ziath Tolak Tudingan Pembunuhan Berencana

KEPANJEN – Ziath Ibrahim Bal Biyd tak bisa membantah bahwa dia melakukan pembunuhan terhadap Bagus Prastyo Lazuardy pada 7 April lalu. Namun pria 37 tahun itu tetap melakukan pembelaan lantaran jaksa telah menuntutnya dengan pidana penjara selama 20 tahun. Fokus utama pembelaannya adalah membantah bahwa pembunuhan telah direncanakan.

Pembelaan itu diungkapkan Ziath melalui pleidoi yang dibacakan kuasa hukumnya, Eddy Waluyo SH, di Pengadilan Negeri Malang kemarin (19/10).

Eddy juga meminta majelis hakim bijak dalam menjatuhkan hukuman. “Mohon majelis hakim menjatuhkan hukuman pidana yang lebih ringan dari tuntutan jaksa. Atau jika hakim berpendapat lain, mohon putusannya seadil-adilnya,” kata dia.

Sebelum mengucapkan permohonan itu, Eddy memaparkan beberapa pertimbangan yang tertuang dalam analisis yuridis. Pertama, soal pengenaan pasal 340 tentang pembunuhan berencana. Eddy merasa penggunaan pasal tersebut salah. “Karena ini penganiayaan yang ujungnya korban kehilangan nyawa. Jadi lebih tepat jika menggunakan pasal 351 ayat 3 tentang penganiayaan yang menyebabkan hilangnya nyawa. Sebelum kejadian pembunuhan juga terjadi ketegangan, berlanjut ke penganiayaan dan kematian,” kata dia.

Eddy juga menilai bila tindakan Ziath terkesan spontan dan tidak dimaksudkan membunuh. Penggunaan kantong plastik untuk membekap korban hingga kehabisan napas juga dinilai sebagai tindakan spontan. Sebab plastik itu sudah tersedia di dalam mobil korban.

Selain itu, korek api berbentuk pistol yang dijadikan jaksa sebagai bukti perencanaan dinilai tidak tepat. Eddy bahwa bila korek tersebut murni hanya untuk menakuti-nakuti Bagus. Untuk hal yang memicu tindakan pembunuhan, pengacara asal Surabaya itu mengatakan bahwa kliennya memegang teguh adat sebagai orang keturunan Arab. “Terdakwa memiliki tradisi yang sangat kuat melarang hubungan laki-laki dan perempuan sebelum perkawinan sah,” kata dia.

Eddy lantas mengulang soal chat yang menjurus mesum antara Bagus dengan putri tiri Ziath. Chat itulah yang memicu kemarahan hingga terjadi pembunuhan. Namun selama penyidikan, chat yang tidak patut itu tidak dimasukkan dalam bukti, sehingga dia menduga adanya rekayasa hukum oleh polisi.

Ziath juga mengatakan bahwa yang dilakukan Bagus terhadap anak tirinya merupakan pelecehan. “Apa yang dilakukan korban merupakan pelecehan fisik dan verbal yang dilakukan berulang. Ini sangat serius bagi saya. Awalnya saya pertama masih mau menasihati korban agar tidak mengulangi perbuatannya,” kata Ziath.

Ia juga merasa dilecehkan oleh korban karena apa yang menjadi nasihat itu tidak diindahkan. Terlebih karena status sosial yang berbeda, Ziath merasa Bagus merendahkan dirinya. Namun Ziath tetap mengaku menyesal dan siap untuk bertanggung jawab atas perbuatannya. Pekan depan, jaksa penuntut umum (JPU) akan membacakan replik atau tanggapan atas pleidoi secara tertulis. (biy/fat)

KEPANJEN – Ziath Ibrahim Bal Biyd tak bisa membantah bahwa dia melakukan pembunuhan terhadap Bagus Prastyo Lazuardy pada 7 April lalu. Namun pria 37 tahun itu tetap melakukan pembelaan lantaran jaksa telah menuntutnya dengan pidana penjara selama 20 tahun. Fokus utama pembelaannya adalah membantah bahwa pembunuhan telah direncanakan.

Pembelaan itu diungkapkan Ziath melalui pleidoi yang dibacakan kuasa hukumnya, Eddy Waluyo SH, di Pengadilan Negeri Malang kemarin (19/10).

Eddy juga meminta majelis hakim bijak dalam menjatuhkan hukuman. “Mohon majelis hakim menjatuhkan hukuman pidana yang lebih ringan dari tuntutan jaksa. Atau jika hakim berpendapat lain, mohon putusannya seadil-adilnya,” kata dia.

Sebelum mengucapkan permohonan itu, Eddy memaparkan beberapa pertimbangan yang tertuang dalam analisis yuridis. Pertama, soal pengenaan pasal 340 tentang pembunuhan berencana. Eddy merasa penggunaan pasal tersebut salah. “Karena ini penganiayaan yang ujungnya korban kehilangan nyawa. Jadi lebih tepat jika menggunakan pasal 351 ayat 3 tentang penganiayaan yang menyebabkan hilangnya nyawa. Sebelum kejadian pembunuhan juga terjadi ketegangan, berlanjut ke penganiayaan dan kematian,” kata dia.

Eddy juga menilai bila tindakan Ziath terkesan spontan dan tidak dimaksudkan membunuh. Penggunaan kantong plastik untuk membekap korban hingga kehabisan napas juga dinilai sebagai tindakan spontan. Sebab plastik itu sudah tersedia di dalam mobil korban.

Selain itu, korek api berbentuk pistol yang dijadikan jaksa sebagai bukti perencanaan dinilai tidak tepat. Eddy bahwa bila korek tersebut murni hanya untuk menakuti-nakuti Bagus. Untuk hal yang memicu tindakan pembunuhan, pengacara asal Surabaya itu mengatakan bahwa kliennya memegang teguh adat sebagai orang keturunan Arab. “Terdakwa memiliki tradisi yang sangat kuat melarang hubungan laki-laki dan perempuan sebelum perkawinan sah,” kata dia.

Eddy lantas mengulang soal chat yang menjurus mesum antara Bagus dengan putri tiri Ziath. Chat itulah yang memicu kemarahan hingga terjadi pembunuhan. Namun selama penyidikan, chat yang tidak patut itu tidak dimasukkan dalam bukti, sehingga dia menduga adanya rekayasa hukum oleh polisi.

Ziath juga mengatakan bahwa yang dilakukan Bagus terhadap anak tirinya merupakan pelecehan. “Apa yang dilakukan korban merupakan pelecehan fisik dan verbal yang dilakukan berulang. Ini sangat serius bagi saya. Awalnya saya pertama masih mau menasihati korban agar tidak mengulangi perbuatannya,” kata Ziath.

Ia juga merasa dilecehkan oleh korban karena apa yang menjadi nasihat itu tidak diindahkan. Terlebih karena status sosial yang berbeda, Ziath merasa Bagus merendahkan dirinya. Namun Ziath tetap mengaku menyesal dan siap untuk bertanggung jawab atas perbuatannya. Pekan depan, jaksa penuntut umum (JPU) akan membacakan replik atau tanggapan atas pleidoi secara tertulis. (biy/fat)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/