21.6 C
Malang
Friday, 3 February 2023

Kasus Pengeroyokan Jaranan Menuju Penyidikan

KEPANJEN – Polres Malang memastikan perkara pengeroyokan penonton hiburan jaran kepang di Desa Sempalwadak, Kecamatan Bululawang, 8 Januari lalu terus diusut. Saksi-saksi kunci dalam kasus itu sudah diperiksa. Tinggal menunggu hasil visum dari dua korban yang melapor, setelah itu perkara akan naik ke penyidikan. Seperti diberitakan sebelumnya, dua orang penonton pertunjukan kesenian jaranan telah melapor ke Polres Malang.

Mereka adalah Rozikin,18, dan bocah berinisial NI yang masih berusia 15 tahun. Maulana dan NI dikeroyok sejumlah orang lantaran dituduh melakukan pencopetan. Padahal yang melakukan pencopetan adalah orang lain. Belakangan juga muncul satu korban lain yang melapor ke Polres Malang. Kasat Reskrim Polres Malang Iptu Wahyu Rizky Saputro menjelaskan bahwa pengusutan perkara itu sudah berjalan. Tinggal selangkah lagi statusnya naik dari penyelidikan ke penyidikan. ”Hasil visum korban belum selesai, kami tinggal menunggu itu,” terang dia.

Menurut Wahyu, hasil visum diperlukan untuk lebih meyakinkan penyidik sekaligus merinci keterangan luka yang dialami kedua korban. Sebab, Sebelumnya kedua korban mengaku mengalami luka memar di kepala dan badan. Visum tetap diperlukan meski sudah ada ketera ngan para saksi. Terkait keterangan saksi, kuasa hukum korban pengeroyokan, Dalu Eko Prasetyo SH, menjelaskan bahwa kliennya sudah diperiksa pada 12 Januari 2023. Dia juga mendengar kabar bahwa polisi sudah memeriksa para terduga pelaku pengeroyokan.

”Sudah lebih dari dua orang yang diperiksa polisi. Termasuk ketua paguyuban kesenian jaran kepang yang tampil pada Minggu dini hari itu,” terangnya. Dalu menambahkan, polisi juga memeriksa korban lain yang bernama Muhammad Saldi. Sebenarnya, pria berusia 20 tahun itu juga merupakan korban pengeroyokan. Namun polisi tidak memasukkannya dalam kategori korban pelapor. ”Karena pertimbangan biaya untuk ambil visum cukup tinggi, maka dia tidak menjadi korban pelapor,” imbuh dia.

Meski tidak masuk dalam pelapor, penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) mengatakan bahwa Saldi tetap menjadi saksi korban. Dalu juga menyebut tersangka dalam perkara pengeroyokan itu diperkirakan lebih dari 10 orang. Karena berdasar bukti video, massa yang mengeroyok Maulana dan NI tampak seperti kerumunan dan memenuhi tempat pergelaran. ”Asumsi itu juga disampaikan penyidik kepada kami,” tandasnya. (biy/fat)

KEPANJEN – Polres Malang memastikan perkara pengeroyokan penonton hiburan jaran kepang di Desa Sempalwadak, Kecamatan Bululawang, 8 Januari lalu terus diusut. Saksi-saksi kunci dalam kasus itu sudah diperiksa. Tinggal menunggu hasil visum dari dua korban yang melapor, setelah itu perkara akan naik ke penyidikan. Seperti diberitakan sebelumnya, dua orang penonton pertunjukan kesenian jaranan telah melapor ke Polres Malang.

Mereka adalah Rozikin,18, dan bocah berinisial NI yang masih berusia 15 tahun. Maulana dan NI dikeroyok sejumlah orang lantaran dituduh melakukan pencopetan. Padahal yang melakukan pencopetan adalah orang lain. Belakangan juga muncul satu korban lain yang melapor ke Polres Malang. Kasat Reskrim Polres Malang Iptu Wahyu Rizky Saputro menjelaskan bahwa pengusutan perkara itu sudah berjalan. Tinggal selangkah lagi statusnya naik dari penyelidikan ke penyidikan. ”Hasil visum korban belum selesai, kami tinggal menunggu itu,” terang dia.

Menurut Wahyu, hasil visum diperlukan untuk lebih meyakinkan penyidik sekaligus merinci keterangan luka yang dialami kedua korban. Sebab, Sebelumnya kedua korban mengaku mengalami luka memar di kepala dan badan. Visum tetap diperlukan meski sudah ada ketera ngan para saksi. Terkait keterangan saksi, kuasa hukum korban pengeroyokan, Dalu Eko Prasetyo SH, menjelaskan bahwa kliennya sudah diperiksa pada 12 Januari 2023. Dia juga mendengar kabar bahwa polisi sudah memeriksa para terduga pelaku pengeroyokan.

”Sudah lebih dari dua orang yang diperiksa polisi. Termasuk ketua paguyuban kesenian jaran kepang yang tampil pada Minggu dini hari itu,” terangnya. Dalu menambahkan, polisi juga memeriksa korban lain yang bernama Muhammad Saldi. Sebenarnya, pria berusia 20 tahun itu juga merupakan korban pengeroyokan. Namun polisi tidak memasukkannya dalam kategori korban pelapor. ”Karena pertimbangan biaya untuk ambil visum cukup tinggi, maka dia tidak menjadi korban pelapor,” imbuh dia.

Meski tidak masuk dalam pelapor, penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) mengatakan bahwa Saldi tetap menjadi saksi korban. Dalu juga menyebut tersangka dalam perkara pengeroyokan itu diperkirakan lebih dari 10 orang. Karena berdasar bukti video, massa yang mengeroyok Maulana dan NI tampak seperti kerumunan dan memenuhi tempat pergelaran. ”Asumsi itu juga disampaikan penyidik kepada kami,” tandasnya. (biy/fat)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru