alexametrics
24.5 C
Malang
Thursday, 30 June 2022

Kasus Jual beli Kondotel Bluebells, Notaris Diana Dijatuhi Hukuman Percobaan

MALANG KOTA – Rangkaian sidang kasus penipuan dalam jual-beli kondotel Bluebells di Jalan Kedawung, Kecamatan Lowokwaru, selesai kemarin petang (25/5). Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Malang telah menjatuhkan hukuman kepada tiga terdakwa terakhir yang merugikan korban Indra Soedjoko hampir Rp 3 miliar dengan pidana yang berbeda-beda.

Tiga terdakwa yang menjalani sidang putusan kemarin adalah Diana Istislam, 55, Muchammad Sofyan Wahyudi, 34, dan Lee Dwi Laksana, 39. Diana adalah notaris yang dinilai terlibat dalam penipuan jual beli itu. Dia tidak ditahan lantaran mengalami gangguan kesehatan. Sementara itu, Sofyan Wahyudi dan Lee Dwi Laksana dinilai sebagai pihak pemberi ide dan membantu terjadinya dalam penipuan tersebut.

Dalam sidang kemarin, Diana yang hadir langsung di ruang sidang dijatuhi hukuman penjara dua bulan dengan masa percobaan enam bulan. ”Menjatuhkan hukuman pidana kepada terdakwa 1 (Diana) dengan penjara selama dua bulan. Memerintahkan bahwa pidana itu tidak usah dijalani, kecuali jika di kemudian hari ada putusan hakim disebabkan persidangan karena melakukan tindak pidana sebelum masa percobaan enam bulan berakhir,” kata Ketua Majelis Hakim Judi Eka Prasetya SH MH.

Sementara itu, dua terdakwa lain yang mengikuti sidang secara daring dari lembaga pemasyarakatan (lapas) mendapat hukuman penjara selama empat bulan 15 hari. Hakim berpendapat bahwa perbedaan hukuman bagi para terdakwa disebabkan adanya upaya damai, khususnya yang dilakukan oleh pihak Diana. Notaris berkerudung itu sudah punya kesepakatan mengganti kerugian korban penipuan dengan aset berupa tanah pada 10 Maret 2022 lalu.

Tanah seluas 300 meter berada di perumahan De Rumah, Kelurahan Penanggungan, Kecamatan Klojen. ”Selain itu, dalam perkara Rudiono (terdakwa lain), Diana membantu melacak keberadaan terpidana dan memberikan keterangan kepada penyidik Polda,” ujar pria yang menjabat sebagai Ketua PN Malang tersebut. Pelaku utama dalam kasus itu memang Rudiono Kusuma. Dia sudah dihukum penjara selama 3,5 tahun pada 5 Januari 2022.

Kasus itu bermula dari penawaran penjualan kondotel yang dilakukan Rudiono Kusuma kepada Indra Soedjoko. Padahal, bangunan yang saat ini sudah berganti nama menjadi Damar Boutique Hotel itu sudah lebih dulu dijual kepada Darmawan Cahyadi alias David pada 2 Maret 2020 dengan harga Rp 3,7 miliar. Dengan bantuan Muchammad Sofyan Wahyudi, Lee Dwi Laksana, dan Diana Istislam, Rudiono berhasil mendapatkan uang dari Indra Soedjoko sebesar Rp 3 miliar.

Di kemudian hari, Indra merasa tertipu lantaran tidak pernah mendapatkan kondotel yang dia beli. Dia lantas membawa masalah tersebut ke ranah pidana. Para terdakwa dijerat dengan pasal 378 juncto 55 ayat 1 ke 1 KUHP tentang penipuan yang dilakukan secara bersama-sama.

Kuasa hukum Diana, Dr Solehoddin SH MH, mengatakan bahwa masih ada kemungkinan bagi kliennya untuk melakukan banding. Menurutnya ada hal yang tidak dibahas dalam persidangan. ”Tidak pernah terjadi perjanjian perikatan jual beli (PPJB). Hanya ada konversi di BPN dalam perkara ini,” kata dia setelah persidangan. (biy/fat)

MALANG KOTA – Rangkaian sidang kasus penipuan dalam jual-beli kondotel Bluebells di Jalan Kedawung, Kecamatan Lowokwaru, selesai kemarin petang (25/5). Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Malang telah menjatuhkan hukuman kepada tiga terdakwa terakhir yang merugikan korban Indra Soedjoko hampir Rp 3 miliar dengan pidana yang berbeda-beda.

Tiga terdakwa yang menjalani sidang putusan kemarin adalah Diana Istislam, 55, Muchammad Sofyan Wahyudi, 34, dan Lee Dwi Laksana, 39. Diana adalah notaris yang dinilai terlibat dalam penipuan jual beli itu. Dia tidak ditahan lantaran mengalami gangguan kesehatan. Sementara itu, Sofyan Wahyudi dan Lee Dwi Laksana dinilai sebagai pihak pemberi ide dan membantu terjadinya dalam penipuan tersebut.

Dalam sidang kemarin, Diana yang hadir langsung di ruang sidang dijatuhi hukuman penjara dua bulan dengan masa percobaan enam bulan. ”Menjatuhkan hukuman pidana kepada terdakwa 1 (Diana) dengan penjara selama dua bulan. Memerintahkan bahwa pidana itu tidak usah dijalani, kecuali jika di kemudian hari ada putusan hakim disebabkan persidangan karena melakukan tindak pidana sebelum masa percobaan enam bulan berakhir,” kata Ketua Majelis Hakim Judi Eka Prasetya SH MH.

Sementara itu, dua terdakwa lain yang mengikuti sidang secara daring dari lembaga pemasyarakatan (lapas) mendapat hukuman penjara selama empat bulan 15 hari. Hakim berpendapat bahwa perbedaan hukuman bagi para terdakwa disebabkan adanya upaya damai, khususnya yang dilakukan oleh pihak Diana. Notaris berkerudung itu sudah punya kesepakatan mengganti kerugian korban penipuan dengan aset berupa tanah pada 10 Maret 2022 lalu.

Tanah seluas 300 meter berada di perumahan De Rumah, Kelurahan Penanggungan, Kecamatan Klojen. ”Selain itu, dalam perkara Rudiono (terdakwa lain), Diana membantu melacak keberadaan terpidana dan memberikan keterangan kepada penyidik Polda,” ujar pria yang menjabat sebagai Ketua PN Malang tersebut. Pelaku utama dalam kasus itu memang Rudiono Kusuma. Dia sudah dihukum penjara selama 3,5 tahun pada 5 Januari 2022.

Kasus itu bermula dari penawaran penjualan kondotel yang dilakukan Rudiono Kusuma kepada Indra Soedjoko. Padahal, bangunan yang saat ini sudah berganti nama menjadi Damar Boutique Hotel itu sudah lebih dulu dijual kepada Darmawan Cahyadi alias David pada 2 Maret 2020 dengan harga Rp 3,7 miliar. Dengan bantuan Muchammad Sofyan Wahyudi, Lee Dwi Laksana, dan Diana Istislam, Rudiono berhasil mendapatkan uang dari Indra Soedjoko sebesar Rp 3 miliar.

Di kemudian hari, Indra merasa tertipu lantaran tidak pernah mendapatkan kondotel yang dia beli. Dia lantas membawa masalah tersebut ke ranah pidana. Para terdakwa dijerat dengan pasal 378 juncto 55 ayat 1 ke 1 KUHP tentang penipuan yang dilakukan secara bersama-sama.

Kuasa hukum Diana, Dr Solehoddin SH MH, mengatakan bahwa masih ada kemungkinan bagi kliennya untuk melakukan banding. Menurutnya ada hal yang tidak dibahas dalam persidangan. ”Tidak pernah terjadi perjanjian perikatan jual beli (PPJB). Hanya ada konversi di BPN dalam perkara ini,” kata dia setelah persidangan. (biy/fat)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/