21.8 C
Malang
Tuesday, 6 December 2022

Pakai Nama Palsu, Kirim Ganja 15 Kg via Ekspedisi

MALANG KOTA – Inilah alasan kenapa jasa ekspedisi perlu mendapat pengawasan ekstra dari petugas keamanan. Sebab tak sedikit warga yang memanfaatkan layanan ekspedisi untuk jual beli barang haram. Seperti dilakukan Aji Handoko dan Haedar Gilang Anggita, warga Kabupaten dan Kota Malang. Keduanya ditangkap Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Timur, 14 Mei lalu. 

Mereka terjerat dalam lingkaran peredaran ganja seberat 14,982 kilogram dengan menggunakan jasa ekspedisi. Kemarin (26/9) pukul 10.40, keduanya menjalani sidang lanjutan di ruang garuda Pengadilan Negeri (PN) Malang.

Dua saksi yang menangkap keduanya dari BNNP Jawa Timur hadir dalam sidang. Mereka adalah Adi Sutrisno, 41, dan Heri Sumantri, 30. Melalui sambungan telekonferensi via Zoom, Adi menyebut bila barang bukti dari dua terdakwa merupakan kiriman dari Kota Medan, Sumatera Utara. 

”Informasi dari masyarakat, pengiriman paket narkotika jenis ganja ke Malang dengan menggunakan ekspedisi SAP. Pada 13 Mei lalu koordinasi dengan cabang SAP di Jalan MH Thamrin (Kecamatan Klojen) untuk mengecek kapan paket itu datang,” terang Adi. Dari koordinasi lanjutan, diketahui paket tersebut datang pada keesokan harinya, atau 14 Mei. 

Diketahui bila nama penerima di resi dan kenyataannya berbeda. Pada resi, tertulis nama penerima Edo Sudiro, dengan pengirim H Marzuki Sembiring. Namun saat paket itu tiba di Malang, ternyata ada orang lain yang menanyakannya. Orang itu adalah Haedar, yang menjadi salah satu terdakwa. ”Nama penerima dan pengirim itu sama-sama disamarkan, tetapi nomor ponsel yang tertera punya Haedar, selaku penerima asli,” imbuh Adi. 

Setelah paket itu sampai di Malang pada 14 Mei 2022, diketahui bila paket dari SAP itu dikirim kembali ke kantor J&T Express, tempat Haedar bekerja. Dia pun ditangkap pada hari itu pukul 13.10. Penyidik pun mencari tahu apakah paket itu akan dilempar lagi ke orang lain. Ternyata benar, ada nama Aji yang menerima selanjutnya. 

Sesuai perjanjian antara Haedar dan Aji, tim BNNP Jatim kemudian mengikuti Haedar menggunakan mobil pikap SAP beranjak ke Lapangan Bandulan, Kecamatan Sukun. Di sana, sudah ada Aji yang menanti. Ganja dalam bentuk lima belas paket plastik berbalut lakban itu diletakkan dalam bak, dan langsung diambil Aji. Barang tersebut sempat dipindah ke sepeda motor, tetapi petugas langsung menangkap Aji sesaat sebelum dia beranjak pergi. 

Dalam pemeriksaan lebih lanjut, keduanya diketahui menjalankan perintah seseorang yang bernama Pablo (buron). Itu diketahui dari chat di aplikasi WhatsApp (WA). ”Keduanya diketahui sudah saling bertransaksi sebanyak lima kali, dan mendapat upah Rp 1 juta via transfer,” papar Adi. Dari penggeledahan lanjutan yang dilakukan petugas ke tubuh Aji, ditemukan 20 gram ganja yang digunakan sendiri olehnya. (biy/by)

MALANG KOTA – Inilah alasan kenapa jasa ekspedisi perlu mendapat pengawasan ekstra dari petugas keamanan. Sebab tak sedikit warga yang memanfaatkan layanan ekspedisi untuk jual beli barang haram. Seperti dilakukan Aji Handoko dan Haedar Gilang Anggita, warga Kabupaten dan Kota Malang. Keduanya ditangkap Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Timur, 14 Mei lalu. 

Mereka terjerat dalam lingkaran peredaran ganja seberat 14,982 kilogram dengan menggunakan jasa ekspedisi. Kemarin (26/9) pukul 10.40, keduanya menjalani sidang lanjutan di ruang garuda Pengadilan Negeri (PN) Malang.

Dua saksi yang menangkap keduanya dari BNNP Jawa Timur hadir dalam sidang. Mereka adalah Adi Sutrisno, 41, dan Heri Sumantri, 30. Melalui sambungan telekonferensi via Zoom, Adi menyebut bila barang bukti dari dua terdakwa merupakan kiriman dari Kota Medan, Sumatera Utara. 

”Informasi dari masyarakat, pengiriman paket narkotika jenis ganja ke Malang dengan menggunakan ekspedisi SAP. Pada 13 Mei lalu koordinasi dengan cabang SAP di Jalan MH Thamrin (Kecamatan Klojen) untuk mengecek kapan paket itu datang,” terang Adi. Dari koordinasi lanjutan, diketahui paket tersebut datang pada keesokan harinya, atau 14 Mei. 

Diketahui bila nama penerima di resi dan kenyataannya berbeda. Pada resi, tertulis nama penerima Edo Sudiro, dengan pengirim H Marzuki Sembiring. Namun saat paket itu tiba di Malang, ternyata ada orang lain yang menanyakannya. Orang itu adalah Haedar, yang menjadi salah satu terdakwa. ”Nama penerima dan pengirim itu sama-sama disamarkan, tetapi nomor ponsel yang tertera punya Haedar, selaku penerima asli,” imbuh Adi. 

Setelah paket itu sampai di Malang pada 14 Mei 2022, diketahui bila paket dari SAP itu dikirim kembali ke kantor J&T Express, tempat Haedar bekerja. Dia pun ditangkap pada hari itu pukul 13.10. Penyidik pun mencari tahu apakah paket itu akan dilempar lagi ke orang lain. Ternyata benar, ada nama Aji yang menerima selanjutnya. 

Sesuai perjanjian antara Haedar dan Aji, tim BNNP Jatim kemudian mengikuti Haedar menggunakan mobil pikap SAP beranjak ke Lapangan Bandulan, Kecamatan Sukun. Di sana, sudah ada Aji yang menanti. Ganja dalam bentuk lima belas paket plastik berbalut lakban itu diletakkan dalam bak, dan langsung diambil Aji. Barang tersebut sempat dipindah ke sepeda motor, tetapi petugas langsung menangkap Aji sesaat sebelum dia beranjak pergi. 

Dalam pemeriksaan lebih lanjut, keduanya diketahui menjalankan perintah seseorang yang bernama Pablo (buron). Itu diketahui dari chat di aplikasi WhatsApp (WA). ”Keduanya diketahui sudah saling bertransaksi sebanyak lima kali, dan mendapat upah Rp 1 juta via transfer,” papar Adi. Dari penggeledahan lanjutan yang dilakukan petugas ke tubuh Aji, ditemukan 20 gram ganja yang digunakan sendiri olehnya. (biy/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/