KABUPATEN - Ada fakta baru dibalik kasus remaja asal Kecamatan Pujon Kabupaten Malang, Danar Anendra Putra pelajar kelas 12 SMAN 1 Ngantang yang meninggal dianiaya.
Dari hasil penyelidikan sementara, pelajar asal Pujon Malang itu meninggal dunia setelah mendapat dianiaya di dua lokasi.
Seperti diberitakan sebelumnya, pelajar asal Pujon Malang dianiaya tiga tersangka yang telah tertangkap polisi itu pada Senin lalu (8/1).
Mereka sama-sama tinggal di Kecamatan Pujon.
Yang pertama ada EKS, 14, dari Dusun Sebaluh, Desa Pandesari.
Berikutnya yakni ARZ, 16, dari Dusun Maron, Desa Pujon Lor.
Terakhir ada Agung Setiawan, 18, dari Dusun Sebo, Desa Madiredo.
Kasi Humas Polres Batu Ipda Trimo mengungkapkan, pengeroyokan awalnya dilakukan di Jembatan Biyan, Desa Sukomulyo, Kecamatan Pujon.
Di sana, korban dibacok dengan pisau.
Selanjutnya, korban dibawa pelaku ke sawah di Desa Ngroto, Kecamatan Pujon.
Di sana, korban kembali dianiaya.
Dia dipukul menggunakan bambu dan batu.
Tidak hanya itu, korban juga dibacok lagi.
”Setelah itu, Agung meminta EKS dan ARZ untuk menyeret sekaligus membuang korban ke aliran drainase,” kata Trimo.
Dia menambahkan, pisau yang digunakan untuk membacok korban diperoleh para pelaku dari orang lain.
”Yang menggunakan pisau adalah Agung,” imbuhnya.
Berdasar informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, pisau itu dibawa oleh ARZ.
Dia mengambil pisau yang digunakan untuk memotong kubis milik temannya.
Panjangnya sekitar 20 sentimeter.
Cerita mengenai pisau itu disampaikan pedagang asal Dusun Cukal, Desa Bendosari, Kecamatan Pujon.
Pedagang tersebut bernama Adi Dwi Saputra.
Adi menjelaskan bahwa pukul sembilan pagi Senin lalu (8/1), dia berbincang dengan salah seorang pekerja yang biasa memotong kubis di tempatnya.
Pekerja itu berinisial O.
Secara tidak sengaja, O mengatakan kalau pisau miliknya diambil oleh ARZ pada waktu kejadian.
”Dia bilang, pisaunya hilang pas kejadian dan yang ambil si ARZ,” jelasnya.
Setelah mendapat informasi itu, Adi tidak bertanya lebih detail mengenai pisau tersebut.
Dia langsung berkoordinasi dengan Kepala Dusun Bendosari untuk diteruskan ke pihak berwajib.
Pada hari yang sama, ARZ akhirnya ditangkap dan mengaku jika dia merupakan salah satu pelaku pengeroyokan.
Adi menegaskan bahwa dia tidak pernah bertemu dengan ARZ.
”Tapi dia anak teman saya, dan dari cerita selama ini memang terkenal bandel. Katanya tidak pernah pulang. Kalau pulang hanya minta uang,” terangnya. (mel/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana