MALANG KOTA – Sejumlah Sekolah Dasar (SD) berlomba untuk menampilkan yang terbaik saat penjurian Green School Festival (GSF) 2018. Salah satunya, SDN Kotalama 1 (Tamasa). Tim juri 3 di sambut riuh siswa dengan meriah.

Beberapa siswa yang bertugas menjadi pendamping juripun antusias. Di ntaranya, ada siswi yang mengenakan gaun berbahan daur ulang dari kresek juga topi kardus.

“Kita ada mendaur ulang bahan bekas. Tiap isu terbuat dari kreasi daur ulang,” ujar Sofia Inis Kurlila, salah satu koordinator GSF

Selain itu, Kun Arjiono, ketua koordinator GSF mengatakan sampah itu selain untuk kreasi kerajinan tangan juga dimanfaatkan sebagi pupuk kompos. Mengingat, sampah yang terkumpul sangat beragam. Dari dedaun sampai sampah plastik.

“Anak-anak biasanya bikin kalau sedang tak ada pelajaran. Atau ketika pelajaran terkait. Seperti ekskul lingkungan,” ujar Kun.

Dalam keikutsertaan Tamasa yang keempat. Kun pun sadar ada banyak pola perilaku yang berubah. Tak hanya siswa, bahkan wali siswa.

“Alhamdulillah, tiga kali ikut ada perubahan. Yang jelas lewat GSF ini kita ingin mengubah pola pikir kalau Kota Lama bukan lagi kampung yang kumuh,” beber wali siswa kelas 5C itu

Menariknya, di sekolah ini juga ada 2 buah permainan ular tangga raksasa. Berukuran 5×5 meter, game ini berisi kalimat tentang isu lingkungan. Termasuk penghijauan dan sampah.

“Memang ini kita punya dari setahun yang lalu. Kerjasama kita dengan pegiat lingkungan, Tunas Hijau,” imbuh Kun.

Menurutnya, ini sebagai media pembelajaran baru bagi siswa yang menarik dan lebih efektif.

Pewarta: Feni Yusnia
Penyunting: Kholid Amrullah
Fotografer: Feni Yusnia