alexametrics
25.4 C
Malang
Friday, 20 May 2022

Sensasi Kuliner Sate dan Gulai Kacang Hijau Embong Arab, Kota Malang

Kawasan Jalan Syarif Al Qodri, Kelurahan Kasin, Kecamatan Klojen, memang terkenal akan nuansa Timur Tengahnya. Tidak ketinggalan soal kuliner. Salah satunya, Warung Hasan yang menyuguhkan kuliner dengan nuansa Timur Tengah sejak zaman penjajah Jepang.

Tidak banyak orang yang mengetahui keberadaan restoran unik yang terletak di samping toko ban di kawasan tersebut. Meski demikian, keberadaannya tetap dicari banyak orang terutama pencinta kuliner ala Timur Tengah.

Untuk mengetahui hal itu, Jawa Pos Radar Malang Online berbincang dengan Kartono, 63, sebagai karyawan paling senior di restoran tersebut. Dia menyebut bila keberadaan restoran dengan style jadul ini sudah ada sejak tahun 1943. ”Persisnya sudah ada sejak zaman pendudukan Jepang di Indonesia. Hanya, dulu letaknya tidak di tempat yang sekarang ini, tapi berada di dekat Madrasah Ibtidaiyah (MI) Attaraqqie, di jalan ini juga, dan masih sewa,” terang dia akhir pekan lalu. Dia mengatakan bila perpindahan ke lokasi baru ini dilakukan sejak tahun 2000-an.

Menekuni usaha di bidang kuliner, namun tak lantas langsung terjun ke sana. Tahun 1943, sang pemilik dan pendiri, (alm) Hasan bin Thalib, mengawali usaha itu sebagai toko penjual daging. ”Dulu jual daging kambing, baru sekitar 1945 mulai jualan gulai kacang hijau,” sebut Kartono. Pria berjanggut itu mengatakan bila kini usahanya telah diteruskan ke generasi ketiga. ”Sekarang sudah cucunya, atas nama Muhammad bin Thalib, dan masih mempertahankan resep yang sama sejak 1943,” ujar dia.

Berbicara soal sentuhan Timur Tengah, hidangan kambinglah yang menjadi sajian utama. Begitu juga di warung Hasan, ada tiga menu yang menjadi incaran bagi kisaran 200 pengunjung setiap harinya. Mulai menu gulai kacang hijau, sate kambing, dan gulai kambing.

Keistimewaan gulai kacang hijau di tempat ini adalah pada bumbunya dan tidak bersantan. Meski demikian, tekstur kental nan pekat masih begitu terasa layaknya gulai pada umumnya yang memakai santan. ”Kalau yang kacang hijau tidak pakai santan, kalau gulai biasa iya, pakai,” ucap pria yang sudah empat dekade bekerja di tempat ini. Ketika masuk mulut, sensasi kuah rempah khas dengan kacang hijau, nasi, dan daging kambing langsung terasa khasnya. Terlebih, sensasi pedas lada begitu terasa ketika sudah mengunyahnya.

Namun, tidak lengkap rasanya bila makan gulai tanpa sate kambing. Tidak ada bau perengus khas daging kambing, namun layaknya restoran Timur Tengah lain, potongan sate dibuat agak besar dan terasa lembut kendati sudah agak dingin. Daging tersebut juga diketahui merupakan pilihan khusus dari Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Malang yang sejak berlokasi di Sukun.

Resep itu dibilang sangat rahasia dan hanya memercayakan satu orang untuk membuat bumbu khasnya. ”Satu orang, tapi dia tidak stay, selesai bikin dia pulang,” kata dia. Setidaknya, dalam satu hari satu ekor kambing dan lima wadah besar seukuran panci berisi bumbu berwarna jingga dihabiskan. ”Kurang lebih demikian, sebelum pandemi malah ini kalau Sabtu dan Minggu pasti ramai,” tambahnya.

Sementara itu, boleh dibilang menu gulai kacang hijau ini selalu membuat orang ketagihan. Kartono bahkan mengklaim bahwa dirinya kerap mendapati perantauan asal Malang akan kembali ke warung tempat dia bekerja. ”Biasanya begitu, misal dari Jakarta, tapi dia pernah di Malang dan pernah makan di sini, begitu kembali ke Malang pasti balik ke sini lagi,” kata dia.

Tentunya, semua mengincar dua menu andalan. ”Gulai kacang hijau dan sate kambing. Khusus untuk gulai yang pakai kacang hijau boleh dikata tidak ada yang buat lagi di Malang selain di sini. Ini resep asli Hadramaut, Yaman,” ungkapnya.

Tak disangka legenda hidup kuliner Arab di Embong Arab ini juga menarik para tokoh nasional untuk datang. Sebut saja Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia Muhadjir Effendy. ”Beliau dari zaman masih menjadi rektor Universitas Muhammadiyah Malang sampai sekarang menjadi menteri juga masih sering ke sini. Ada juga pejabat lain, seperti almarhum Bapak Malik Fajar,” kata dia. Lalu, ada komedian Alfiansyah Bustami alias Komeng dan mantan Wali Kota Malang Peni Suparto. (rmc/biy/mas)

Kawasan Jalan Syarif Al Qodri, Kelurahan Kasin, Kecamatan Klojen, memang terkenal akan nuansa Timur Tengahnya. Tidak ketinggalan soal kuliner. Salah satunya, Warung Hasan yang menyuguhkan kuliner dengan nuansa Timur Tengah sejak zaman penjajah Jepang.

Tidak banyak orang yang mengetahui keberadaan restoran unik yang terletak di samping toko ban di kawasan tersebut. Meski demikian, keberadaannya tetap dicari banyak orang terutama pencinta kuliner ala Timur Tengah.

Untuk mengetahui hal itu, Jawa Pos Radar Malang Online berbincang dengan Kartono, 63, sebagai karyawan paling senior di restoran tersebut. Dia menyebut bila keberadaan restoran dengan style jadul ini sudah ada sejak tahun 1943. ”Persisnya sudah ada sejak zaman pendudukan Jepang di Indonesia. Hanya, dulu letaknya tidak di tempat yang sekarang ini, tapi berada di dekat Madrasah Ibtidaiyah (MI) Attaraqqie, di jalan ini juga, dan masih sewa,” terang dia akhir pekan lalu. Dia mengatakan bila perpindahan ke lokasi baru ini dilakukan sejak tahun 2000-an.

Menekuni usaha di bidang kuliner, namun tak lantas langsung terjun ke sana. Tahun 1943, sang pemilik dan pendiri, (alm) Hasan bin Thalib, mengawali usaha itu sebagai toko penjual daging. ”Dulu jual daging kambing, baru sekitar 1945 mulai jualan gulai kacang hijau,” sebut Kartono. Pria berjanggut itu mengatakan bila kini usahanya telah diteruskan ke generasi ketiga. ”Sekarang sudah cucunya, atas nama Muhammad bin Thalib, dan masih mempertahankan resep yang sama sejak 1943,” ujar dia.

Berbicara soal sentuhan Timur Tengah, hidangan kambinglah yang menjadi sajian utama. Begitu juga di warung Hasan, ada tiga menu yang menjadi incaran bagi kisaran 200 pengunjung setiap harinya. Mulai menu gulai kacang hijau, sate kambing, dan gulai kambing.

Keistimewaan gulai kacang hijau di tempat ini adalah pada bumbunya dan tidak bersantan. Meski demikian, tekstur kental nan pekat masih begitu terasa layaknya gulai pada umumnya yang memakai santan. ”Kalau yang kacang hijau tidak pakai santan, kalau gulai biasa iya, pakai,” ucap pria yang sudah empat dekade bekerja di tempat ini. Ketika masuk mulut, sensasi kuah rempah khas dengan kacang hijau, nasi, dan daging kambing langsung terasa khasnya. Terlebih, sensasi pedas lada begitu terasa ketika sudah mengunyahnya.

Namun, tidak lengkap rasanya bila makan gulai tanpa sate kambing. Tidak ada bau perengus khas daging kambing, namun layaknya restoran Timur Tengah lain, potongan sate dibuat agak besar dan terasa lembut kendati sudah agak dingin. Daging tersebut juga diketahui merupakan pilihan khusus dari Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Malang yang sejak berlokasi di Sukun.

Resep itu dibilang sangat rahasia dan hanya memercayakan satu orang untuk membuat bumbu khasnya. ”Satu orang, tapi dia tidak stay, selesai bikin dia pulang,” kata dia. Setidaknya, dalam satu hari satu ekor kambing dan lima wadah besar seukuran panci berisi bumbu berwarna jingga dihabiskan. ”Kurang lebih demikian, sebelum pandemi malah ini kalau Sabtu dan Minggu pasti ramai,” tambahnya.

Sementara itu, boleh dibilang menu gulai kacang hijau ini selalu membuat orang ketagihan. Kartono bahkan mengklaim bahwa dirinya kerap mendapati perantauan asal Malang akan kembali ke warung tempat dia bekerja. ”Biasanya begitu, misal dari Jakarta, tapi dia pernah di Malang dan pernah makan di sini, begitu kembali ke Malang pasti balik ke sini lagi,” kata dia.

Tentunya, semua mengincar dua menu andalan. ”Gulai kacang hijau dan sate kambing. Khusus untuk gulai yang pakai kacang hijau boleh dikata tidak ada yang buat lagi di Malang selain di sini. Ini resep asli Hadramaut, Yaman,” ungkapnya.

Tak disangka legenda hidup kuliner Arab di Embong Arab ini juga menarik para tokoh nasional untuk datang. Sebut saja Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia Muhadjir Effendy. ”Beliau dari zaman masih menjadi rektor Universitas Muhammadiyah Malang sampai sekarang menjadi menteri juga masih sering ke sini. Ada juga pejabat lain, seperti almarhum Bapak Malik Fajar,” kata dia. Lalu, ada komedian Alfiansyah Bustami alias Komeng dan mantan Wali Kota Malang Peni Suparto. (rmc/biy/mas)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/