alexametrics
31C
Malang
Friday, 22 January 2021

Mau Wisata Kuliner Sambil Belajar Sejarah? Ternyata Ini Tempatnya

MALANG – Terus dikembangkannya Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kian menarik minat pengusaha untuk berinvestasi. Salah satunya pemilik Inggil Museum Resto Tumpang Dwi Cahyono. Bertempat di Desa Slamet, Kecamatan Tumpang, destinasi yang sebelumnya dikembangkan sebagai museum Panji itu kini dilengkapi dengan fasilitas restoran.

Tak sekadar tempat makan, keberadaan resto yang baru dia launching 10 Desember lalu itu juga bertujuan untuk menarik minat pengunjung mendatangi museum yang dikelolanya. ”Perlu ada alasan agar orang mau datang ke sini, kalau hanya museum kan sebagian orang saja yang benar-benar berminat. Kalau ada restoran, setelah makan mereka yang penasaran akan berkunjung ke museum,” kata Dwi.

Ke depan, Dwi berharap keberadaan resto juga museum di Desa Slamet tersebut juga dapat menjadi opsi bagi wisatawan yang akan maupun pulang dari berkunjung ke Bromo.

Masih satu tema dengan Museum Panji, suasana tempo dulu juga identik begitu masuk ke rumah makan tersebut. Bedanya, konsep alam lebih ditonjolkan di restoran tersebut. ”Sebelumnya, konsepnya lebih kental dengan suasana museum, kalau di sini restorannya ada di tengah alam dengan suasana hutan, sungai, dan sawah,” sambung pria yang juga menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Jawa Timur itu.

Menu yang disajikan pun beragam, seperti ayam goreng, urap-urap, ikan bakar, cah kangkung, tahu, tempe, dan beberapa masakan otentik khas Jawa lainnya. ”Kalau di kota bisa menikmati sajian sambil belajar sejarah, di sini bisa menikmati hidangan sambil menghirup udara segar,” sambung Dwi.

Selain menjadi tempat kuliner, Dwi menuturkan bahwa pihaknya juga menyiapkan resto tersebut sebagai tempat pertunjukan seni dan budaya. ”Ada tiga panggung besar yang kami siapkan, jadi selain tempat makan kami siapkan juga konsep untuk gathering keluarga, juga meeting perusahaan. Jadi yang bosan meeting dalam ruangan ber-AC bisa mencoba menggelar pertemuan di tengah alam tapi tetap dengan fasilitas seperti di kota,” tukas Dwi.

Pewarta: Arlita Ulya

- Advertisement -
- Advertisement -

Artikel Terbaru

Wajib Dibaca