Bahas ‘Serbuan’ Keju di Makanan Lokal Bareng Chef Internasional Asal Malang

ZETIZEN MALANG – Merupakan salah satu dairy product atau bahan makanan yang terbuat dari susu, disampung rasanyanya yang enak, keju pun bisa dikategorikan sebagai panganan pelengkap nutrisi tubuh.

Saat ini sudah nggak kehitung makanan tradisional yang bertansformasi dengan di keju-in, termasuk di Kota Malang. Coba deh amati sekeliling, dari menu resto mewah sampai jajanan kaki lima pun gak luput dari menu berkeju. Sebut saja Bakso Keju, Ayam Geprek Mozarella, Seblak Keju, dan masih banyak lainnya.

Makanan dengan variasi keju memang sudah “mengintervensi” Kota Malang sejak satu dekade yang lalu. Dijelaskan oleh Andre Hedisetiono, salah satu international chef di Kota Malang, menyatakan nggak masalah jika ada variasi keju dalam makanan lokal yang kaya bumbu.

“Sebenarnya ini hanya bagian dari tren revolusi makanan saja. Culture dalam menikmati makanan sekarang sudah berubah, otomatis taste juga berbeda,” jelasnya. Toh, makanan lokal juga gak akan kehilangan cita rasa khasnya kok.

Meski bebas berkreasi dengan keju yang punya citra rasa ‘western’ yang creamy dan milky, pria yang akrab disapa Chef Andre itu menjelaskan jika ada beberapa hal yang perlu dipahami agar keju mampu berbaur dengan rasa lokal dan tidak menimbulkan fushion confusion.

”Nah, penggunaan keju dalam makanan tergantung jenisnya,” ungkap owner resto Hungry Kitten tersebut.

“Misalnya, semi dan soft cheese yang yang creamy, lembut, dan halus biasa digunakan sebagai olesan, filling, atau bahan pastry. Sedangkan untuk semi hard dan hard seperti mozarella dan parmesan cocok digunakan sebagai taburan maupun topping diatas makanan,” terang chef Andre.

Selanjutnya tinggal sesuaikan kebutuhan masakan saja. Misal jika ingin panganan berrasa creamy pilihlah soft cheese, namun jika ingin tekstur crunchy, hard cheese jadi pilihan yang pas.

Dengan makin maraknya keju di makanan sehari-hari, gak menutup kemungkinan mindset masyarakat terhadap keju yang kerap dilihat “mewah” akan berubah. “Tergantung supply keju itu sendiri. Jika makin banyak luas, maka keju akan mudah didapat dan dikonsumsi,” tukas Chef Andre.

Apalagi, sekarang sudah banyak masyarakat lokal yang bisa memproduksi keju. Salah satunya di Kota Batu yang pernah membuat keju profolone, mozarella, hingga blue cheese. “Tentunya dengan rasa khasnya sendiri,” imbuhnya.

Sebagai chef internasional, Chef Andre ternyata turut mengambil peran dalam perkembangan keju lho! “Setiap conference yang diadakan beberapa tahun sekali, saya dan chef lainnya biasa melakukan cheese testing. Mencoba taste dari masing-masing keju untuk melihat kualitas hingga pengembangannya,” pungkasnya.

Penulis: Zhavirra Noor Rivdha
Foto: Istimewa
Editor: Hendarmono Al Sidarto