Digaji Rp 500 Ribu, Penyuluh Agama Hindu Dituntut Aktif di Masyarakat

Dirinya juga menerangkan setiap tahunnya memang ada perekrutan dan penetapan kembali Penyuluh Agama Hindu Non PNS tersebut. “Biasanya ada yang memgundurkan diri, mungkin sudah diterima pada tempat lain yang gajinya menggunakan dana Dipa. Karena tidak boleh double  maka mereka memilih mengundurkan diri,” pungkasnya. 

Gus Windu juga mengungkapkan perekrutan berdasarkan SK penetapan petunjuk teknis rekrutmen dan pengangkatan penyuluh. Di mana yang bernomor 495 tahun 2017 tertera memerlukan sebanyak 65 orang di Denpasar. Dalam pengumuman yang ia perlihatkan tertera juga salah satu persyaratan minimal berumur 20 tahun.  Sarajana Agama Hindu, Seni, Sastra yang mempunyai kemampuan Dharma Wacana. Sedangkan bagi tamatan SMA dengan mempertimbangkan  ketokohan di masyarakat.

“Kita memang memberikan kesempatan kepada mereka lulusan SMA juga, namun dengan syarat yang terlibat langsung dengan kegiatan masyarakat. Seperti Bendesa atupun ikut dalam pesantian. Di samping itu harus  dapat rekomendasi juga dari bendesa maupun PHDI setempat ” tandasnya. 

Sedangkan untuk lulusan S1, Gus Windu mengaku mengutamakan lulusan Agama Hindu. Dikarenakan penempatan nantinya akan ditempatkan di seluruh desa terkait bidang keagamaan. Ia mengaku di masing – masing desa sudah ditempatkan satu orang Penyuluh Agama Hindu Non PNS. Bahkan dalam program kerjanya Gus Windu menegaskan wajib hukumnya seorang penyuluh aktif mengambil peran di setiap kegiatan keagamaan di wilayah binaan. 

Dalam proses penyuluhan ia mengatakan yang disasar adalah pemuda dan masyarakat. Sedangkan kegiatan yang dilakukan dalam proses penyuluhan tersebut biasanya dilaksanakan yoga, praktik majejaitan, trisandya dan pesantian untuk anak muda.

“Satu minggu itu harus dilaksanakan kegiatan dua kali. Bahkan setiap kegiatan tersebut harus ada absennya supaya laporan nanti riil dengan bukti fisik. Karena mereka mengerjakan laporan setiap bulan, dan langsung menerima gaji sebesar Rp 500 ribu dipotong pajak 6 persen,” imbuhnya.

Dikonfirmasi pada tempat berbeda, salah satu Penyuluh  Non PNS Agama Hindu di Denpasar mengaku memang sempat melaksanakan pasraman. “Saya bikin kegiatan itu menyasar sekaa teruna dan masyarakat saja. Selain itu juga terkadang ikut membantu penyuluh PNSnya saja,” jelas wanita yang enggan dikorankan namanya. 

(bx/ade/yes/JPR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here